Halaman

Kamis, 25 Agustus 2011

HEPATITIS - TEMULAWAK

PENDAHULUAN

Dengan adanya krisis moneter, masyarakat terdorong kembali menggunakan obat-obat tradisional yang boleh dikatakan bebas dari komponen impor. Salah satunya adalah rimpang temulawak yang telah dikenal oleh nenek moyang kita sejak jaman dahulu. Selama ini, telah banyak penelitian-penelitian yang dilakukan baik oleh ilmuwan Indonesia maupun ilmuawan asing untuk membuktikan khasiat temulawak, tetapi karena belum adanya sistem pendokumentasiaan yang terpadu, maka belum semua hasil-hasil penelitian tersebut dapat diakses oleh masyarakat umum. Berikut ini kami sajikan rangkuman publikasi tentang khasiat temulawak dari tahun 1980-1997 yang bersumber dari karya ilmiah asing dan karya ilmiah Indonesia koleksi PDII-LIPI. Tentunya masih ada karya ilmiah Indonesia yang belum tercakup dalam tulisan ini, termasuk penelitian skripsi dari perguruan tinggi yang memang tidak tersedia dalam koleksi PDII-LIPI. Namun demikian, kami berharap tinjauan literatur ini dapat membantu ilmuwan dalam mengikuti perkembangan Iptek mutakhir.

Untuk mengetahui khasiat temulawak, telah dilakukan beberapa cara pengujian, baik secara in vitro, pengujian terhadap binatang dan uji klinis terhadap manusia. Dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, yang paling banyak adalah uji terhadap binatang percobaan, sedangkan uji terhadap manusia masih tergolong jarang.

Mohon informasi dokter mengenai hepatitis B karier. Beberapa saat yang lalu Kompas berturut-turut membahas penyakit hepatitis ini, tetapi mengenai hepatitis B karier kurang dibahas.

Saat menjadi donor darah, darah suami saya tidak bisa digunakan dan dinyatakan hepatitis B karier. Padahal, selama ini suami saya tak mempunyai keluhan. Pertengahan tahun lalu suami saya dirawat karena gejala tifus, dokter juga memikirkan kemungkinan demam berdarah. Perawatan berjalan baik dan suami saya dinyatakan sembuh. Setelah itu suami saya hanya sekali berobat jalan untuk masalah hepatitis B karier.

Menurut suami, untuk informasi lebih jelas dan lengkap dokter menyarankan tes kesehatan yang biayanya cukup mahal bagi kami. Karenanya, kami memilih mundur dengan pertimbangan toh selama ini tidak ada keluhan meski sebenarnya kami cemas juga. Selama ini saya hanya meminta suami banyak minum air putih, makan sayur, dan minum temulawak.

Pertanyaan saya, apakah hepatitis B karier itu? Apakah penyakit itu dapat menularkan hepatitis B kepada orang lain? Adakah cara yang relatif lebih murah untuk sembuh, misalnya pengobatan tradisional? Bisakah langsung diobati saja tanpa melakukan tes menyeluruh yang mahal itu?

Demikian saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

S di J

Hepatitis B merupakan penyakit yang sering dijumpai di Indonesia. Bila infeksi hepatitis B terjadi pada orang dewasa, sebagian besar penderita akan mengalami penyembuhan dan hanya sekitar 5 persen berkembang menjadi hepatitis B kronis. Tetapi, jika infeksi terjadi sejak lahir, sekitar 90 persen akan menjadi hepatitis B kronis.

Dewasa ini terjadi perubahan dalam diagnosis serta klasifikasi hepatitis B kronis, yaitu terdapatnya virus hepatitis B yang menetap lebih dari enam bulan sehingga penggunaan istilah karier hepatitis B sehat tidak dianjurkan lagi.

Secara sederhana, hepatitis kronis dapat dibagi menjadi hepatitis B kronis aktif dan hepatitis B karier inaktif. Pada kedua kelompok ini, HBsAg (petanda virus hepatitis B) positif. Bedanya, pada hepatitis B kronis aktif DNA virus hepatitis B tinggi (lebih 10 pangkat 5 kopi/ml), sedangkan pada hepatitis B karier inaktif DNA virus hepatitis rendah.

Karena pada hepatitis B kronis (termasuk yang Anda sebut hepatitis B kronis) terdapat virus hepatitis B, maka dapat terjadi penularan kepada orang lain. Nah, Anda dapat lihat memang pemeriksaan DNA virus hepatitis B cukup penting untuk membedakan kedua kelompok ini.

Saya memahami, pemeriksaan DNA virus hepatitis B tidak murah. Gambaran klinis hepatitis B kronis beragam, dapat tanpa gejala, tetapi dapat juga menunjukkan gejala seperti pembengkakan hati (hepatomegali) atau pembesaran limpa (splenomegali). Karena itu ada baiknya suami Anda berkonsultasi secara teratur dengan dokter keluarga Anda.

Sekarang sudah tersedia obat antivirus yang dapat mencegah atau menghentikan kerusakan hati dengan cara menekan replikasi virus. Obat tersebut juga sudah tersedia di Indonesia meski harganya cukup mahal. Peran obat herbal dalam penatalaksanaan hepatitis B hanyalah berupa komplemen karena obat herbal belum terbukti menghambat replikasi virus hepatitis B.

Beberapa obat herbal dilaporkan dapat menurunkan kadar enzim transaminase, tetapi untuk menghambat replikasi virus diperlukan obat antivirus. Untuk menggunakan obat antivirus hepatitis B sebaiknya dilakukan evaluasi yang baik agar indikasi penggunaannya tepat. Patut diingat, selain mahal, obat antivirus ini harus digunakan dalam waktu lama.

Hepatitis B menular melalui cairan tubuh, terutama darah. Karena itu, pencegahan penularan hepatitis B dapat dilakukan dengan cara mengamalkan hidup sehat, imunisasi, dan menggunakan barier jika kontak dengan cairan tubuh.

Kita sudah sering membahas pengamalan hidup sehat yang perlu dilaksanakan untuk menjaga kesehatan termasuk mencegah penyakit. Imunisasi hepatitis B dapat mengurangi risiko penularan hepatitis B. Imunisasi ini sekarang sudah termasuk program pemerintah sehingga semua bayi di Indonesia mendapat kesempatan untuk memperoleh imunisasi hepatitis B. Orang dewasa yang perlu diprioritaskan untuk mendapat imunisasi hepatitis B adalah petugas kesehatan, pasien hemodialisis, penyalah guna obat, dan kontak serumah atau kontak seksual dengan pengidap hepatitis B.

Darah yang akan ditransfusikan sudah ditapis dari virus hepatitis B sehingga penularan melalui transfusi darah di Indonesia sudah amat minim. Sedangkan dalam pekerjaannya sehari-hari petugas kesehatan mungkin dapat mengalami kecelakaan, seperti tertusuk jarum atau benda tajam lain yang telah digunakan pada pasien hepatitis B.

Risiko penularan pada kecelakaan kerja ini dapat diturunkan dengan bekerja profesional dan calon petugas kesehatan, seperti mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi, mendapat imunisasi hepatitis B sebelum kontak dengan pasien.

Imunisasi hepatitis B dilakukan tiga kali dan antibodi yang terbentuk memberi perlindungan ketika terjadi paparan terhadap virus hepatitis B sehingga risiko infeksi dapat berkurang. Pasangan suami/istri yang mempunyai pasangan seksual hepatitis B dianjurkan menggunakan kondom jika berhubungan seksual. Sementara pada ibu dengan hepatitis B risiko penularan terhadap bayinya dapat diturunkan melalui pemberian imunisasi pasif (hepatitis B imun globulin) yang mengandung zat antihepatitis B yang tinggi kepada bayi baru lahir.

Nah, mudah-mudahan suami Anda sehat selalu dan keluarga Anda yang lain juga tetap sehat dan terlindung dari penularan hepatitis B

Temulawak Obat Hepatitis

Dari Empiris Sampai Uji Klinis

Kandungan Curcuma Xanthorhiza rox. Kurkumin, mengandung sejuta manfaat untuk perbaikan kesehatan. Indonesia sebagai Negara tropis yang dikenal dengan the second mega biodiversity dibanjiri oleh tanaman yang diketahui secara empiris atau penelitian berkhasiat obat. Salah satunya adalah temulawak yang termasuk dalam keluarga jahe ( zingiberaceae). Temulawak ( Curcuma xanthorhiza roxb) merupakan tanaman obat asli Indonesia. Meski demikian penyebaran tanaman yang kondang dengan sebutan cucuma javanica ini hanya terbatas di Pulau Jawa, Maluku dan Kalimantan. Temulawak tumbuh sebagai semak tak berbatang. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak. Tinggi tanaman antara 2 sampai 2,5 meter. Daunnya bundar panjang mirip daun pisang. Pelepah daunnya saling menutupi membentuk batang.

Tumbuhan yang patinya mudah dicerna ini dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 750 meter di atas permukaan laut. Temulawak dapat dipanen setelah berusia 8-12 bulan, saat daunnya telah mmenguning dan kelihatan hampir mati. Umbi akan muncul dari pangkal batang, warnanya kuning tua atau coklat muda, panjangnya sampai 15 cm dan berdiameter 6 cm. Baunya harum dan rasanya pahit agak pedas.

Manfaat temulawak untuk kesehatan sebenarnya telah lama diketahui secara empiris dan pengalaman turun temurun dari nenek moyang. Sejak dulu temulawak digunakan sebagai obat penurun panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, maag, perut kembung dan pegal-pegal. Terakhir juga diketahui temulawak bias menurunkan lemak darah, menghambat penggumpalan darah sebagai antioksidan dan memelihara kesehatan dengan meningkatkan daya imun. Beberapa manfaat tersebut kemudian akhirnya terbukti secara klinis. Melihat manfaat temulawak yang banyak ini, tidak heran lagi pemerintah mencanangkan “Gerakan Nasional Minum Temulawak” sejak 2 tahun silam.

Membantu Hati Menghantam Toksin

Daging buah (rimpang) temulawak mengandung beberapa senyawa kimia antara lain minyak atsiri fellandrean dan turmerol, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol dan kurkumin. Kurkumin diketahui sebagai kandungan yang banyak memberi manfaat terutama sebagai antihepatotoksik dan antioksidan.

Bagaimana mekanisme kurkumin sebenarnya dalam menyelamatkan “Lambang Romantisme” ini masih belum jelas. Namun sebuah studi pada hewan percobaan melaporkan kurkumin secara kuat menghambat enzim cyctochrome 4501A1/1A2 di hati. Enzi mini merupakan iso enzim yang terlibat dalam bioaktivasi bebererapa toksin termasuk benzo[a]pyrene. Kurkumin ditemukan juga mencegah pembentukan ikatan kovalen antara cytocromen P450 dan DNA. Dan, peneliti menyimpulkan bahwa kurkumin bias saja menghambat karsinogenesis oleh kimiawi dengan memodulasi fungsi P450. Selain itu, kurkumin ditemukan juga menawarkan proteksi hati terhadap alcohol. Efek ini terbukti pada sebuah studi yang dilakukan pada tikus yang diinduksi dengan etanol 25%. Tikus yang memperoleh kurkumin 80 mg/kg BB mengalami penurunan kadar enzim hati dan produk reaktif asam tiobarbiturat. Disamping itu, sebuah studi lainnya juga menunjukkan kurkumin menurunkan kerusakan hati melalui pengurangan peroksidasi lipid. Hal ini diamati pada tikus yang hatinya telah diinduksi dengan zat besi. Masih berdasarkan studi pra klinis, kurkumin dilaporkan juga meningkatkan aktifitas glutathione-S-transferase. Enzi mini sangat penting dalam proses detoksifikasi.

Uji Klinis Kurkumin

Sebuah uji klinis yang tidak begitu besar telah dilakukan di Tanah Air untuk melihat manfaat kurkumin dalam memperbaiki funsi hati. Studi ini melibatkan sekitar 38 pasien gangguan hati atau memiliki nilai SGOT dan SGPT di atas normal dari 5 area (Bogor, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Palembang dan Jakarta). Pasien diberikan gabungan kurkumin 25 mg, essensial phospolipid 100mmg dan vitamin E 100 mg. Studi ini menggunakan metoda seeding trial atau tanpa pembanding. Pengamatan dilakukan oleh sekitar 20 peneliti dalam periode Juli-Desember 1998.

Adapun parameter yang digunakan adalah nilai SGPT dan SGOT. SGPT merupakan enzim yang diproduksi oleh hepatocytes, jenis sel yang banyak terdapat pada di liver. Kadar SGPT dalam darah akan meningkat seiring dengan kerusakan pada sel hepatocytes yang bias terjadi karena infeksi virus hepatitis, alcohol, obat-obat yang menginduksi terjadinya kerusakan hepatocytes dan sebab lain seperti adanya shok atau keracunan obat.

Nilai SGPT yang dianggap normal adalah 0-35 unit per liter (u/l). Peningkatan nilai SGPT 50 kali dari normal menandakan rendahnya aliran darah pada hati, hepatitis atau kerusakan sel hati yang disebabkan oleh obat/ senyawa kimia seperti CC14. Peningkatan nilai SGPT ringan sampai sedang dapat disebabkan oleh adanya hepatitis, sirosis, kanker pada hati dan alcohol. Terkadang pada sirosis hanya terjadi peningkatan nilai SGPT 2-4 kali dari nilai normal.

Sementara SGPT banyak dijumpai pada organ jantung, hati, otot rangka, pancreas, paru-paru, sel darah merah dan sel otak. Saat sel organ tersebut mengalami kerusakan maka SGOT akan dilepaskan dalam darah. Alhasil saat pengukuran akan terlihat korelasi besarnya atau tingkat keparahan sel yang terjadi. Nilai normal SGOT berkisar dari 3 – 45 unit per liter (u/l). Peningkatan nilai SGOT ini dapat disebabkan oleh adanya hepatitis C. Pada hepatitis akut peningkatan bias terjadi hingga 20 kali nilai normalnya.

Hasil studi menunjukkan, berdasarkan perhitungan statistic terjadi penurunan nilai SGOT dan SGPT yang signifikan. Setelah 14 hari terapi., penurunan nilai SGOT dari total pasien mencapai hingga 2,89 kali sedangkan untuk SGPT mencapai 3,28 kali dibandingkan sebelum pengobatan. Hasil yang tidak berbeda jauh juga ditemukan pada individu yang menderita hepatitis dan non hepatitis. Pasien hepatitis mengalami penurunan SGOT sebanyak 3,48 kali dan SGPT sebanyak 3,82 kali dibandingkan sebelum pengobatan. Sedang pada individu non hepatitis terjadi penurunan SGOT sekitar 1,91 kali dan SGOT sebanyak 2,15 kali.

Menggali Manfaat Lain

Hingga kini telah banyak studi yang dilakukan untuk mencoba mereguk manfaat lain dari umbi berharga ini. Studi yang tengah gencar dilakukan adalah untuk melihat manfaat kurkumin sebagai antitumor guna mengobati penyakit kanker. Sejumlah laporan menunjukkankurkumoid termasuk kurkumin memiliki aktifitas kemopreventif dan kuratif melawan kanker. Studi tersebut umumnya dilakukan pada hewan percobaan dengan rute pemberian berbeda dan diuji dengan sistem in vitro. Namun sedikit studi juga telah mulai dilakukan belakangan ini pada manusia.

Manfaat lain yang juga tengah diincar dari kurkumin adalah penghambatan replikasi humanimmunodeficiency virus (HIV). Sebuah studi menunjukkan kurkumin menghambat tahap fusion sel virus pada siklus replikasi HIV. Berbagai studi terus dilakukan untuk mencari titik terang. Jika semua terbukti secara klinis, maka tanaman yang mengandung kurkumin akan semakin kaya manfaat. Dan Indonesia tentu akan turut berbahagia karena tanaman itu adalah asli dari Bumi Pertiwi.

BAB I

DESKRIPSI

1. SEJARAH SINGKAT

Temulawak merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Di daerah Jawa Barat temulawak disebut sebagai koneng gede

sedangkan di Madura disebut sebagai temu lobak. Kawasan Indo-Malaysia

merupakan tempat dari mana temulawak ini menyebar ke seluruh dunia. Saat

ini tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di Cina, IndoCina,

Bardabos, India, Jepang, Korea, di Amerika Serikat dan Beberapa negara

Eropa.

2. URAIAN TANAMAN

2.1 Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Keluarga : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma xanthorrhiza ROXB.

2.2 Deskripsi

Tanaman terna berbatang semu dengan tinggi hingga lebih dari 1m tetapi kurang dari 2m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpang terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80cm. Perbungaan lateral, tangkai ramping dan sisik berbentuk garis, panjang tangkai 9 – 23cm dan lebar 4 – 6cm, berdaun pelindung banyak yang panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga berwarna putih berbulu, panjang 8 – 13mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4.5cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1.25 – 2cm dan lebar 1cm

3. MANFAAT TANAMAN

Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang

temulawak untuk dibuat jamu godog. Rimpang ini mengandung 48-59,64 %

zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak asiri dan dipercaya

dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Manfaat lain dari

rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu

makan, anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker,

dan anti mikroba.

4. SENTRA PENANAMAN

Tanaman ini ditanam secara konvensional dalam skala kecil tanpa

memanfaatkan teknik budidaya yang standard, karena itu sulit menentukan

dimana sentra penanaman temulawak di Indonesia. Hampir di setiap daerah

pedesaan terutama di dataran sedang dan tinggi, dapat ditemukan temulawak

terutama di lahan yang teduh.

5. SYARAT PERTUMBUHAN

5.1. Iklim

1) Secara alami temulawak tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh

dan terlindung dari teriknya sinar matahari. Di habitat alami rumpun

tanaman ini tumbuh subur di bawah naungan pohon bambu atau jati.

Namun demikian temulawak juga dapat dengan mudah ditemukan di

tempat yang terik seperti tanah tegalan. Secara umum tanaman ini

memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah

beriklim tropis.

2) Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30 Oc 3) Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan antara 1.000-4.000 mm/tahun.

5.2. Media Tanam

Perakaran temulawak dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah baik tanah berkapur, berpasir, agak berpasir maupun tanah-tanah berat yang berliat. Namun demikian untuk memproduksi rimpang yang optimal diperlukan tanah yang subur, gembur dan berdrainase baik. Dengan demikian pemupukan anorganik dan organik diperlukan untuk memberi unsur hara yang cukup dan menjaga struktur tanah agar tetap gembur. Tanah yang mengandung bahan organik diperlukan untuk menjaga agar tanah tidak mudah tergenang air.

5.3. Ketinggian Tempat

Temulawak dapat tumbuh pada ketinggian tempat 5-1.000 m/dpl dengan ketinggian tempat optimum adalah 750 m/dpl. Kandungan pati tertinggi di dalam rimpang diperoleh pada tanaman yang ditanam pada ketinggian 240 m/dpl. Temulawak yang ditanam di dataran tinggi menghasilkan rimpang yang hanya mengandung sedikit minyak atsiri. Tanaman ini lebih cocok dikembangkan di dataran sedang.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

Perbanyakan tanaman temulawak dilakukan menggunakan rimpang-rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang

anakan (rimpang cabang). Keperluan rimpang induk adalah 1.500-2.000

kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha.

1) Persyaratan Bibit

Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat berumur 10 - 12 bulan.

2) Penyiapan Bibit

Tanaman induk dibongkar dan bersihkan akar dan tanah yang menempel pada rimpang. Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak.

a. Bibit rimpang induk

Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dan dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari berturut-turut. Setelah itu rimpang dapat langsung ditanam.

b. Bibit rimpang anak

Simpan rimpang anak yang baru diambil di tempat lembab dan gelap selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru. Penyiapan bibit dapat pula dilakukan dengan menimbun rimpang di dalam tanah pada tempat teduh, meyiraminya dengan air bersih setiap pagi/sore hari sampai keluar tunas. Rimpang yang telah bertunas segera dipotong-potong menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam. Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang anakan. Sebaiknya bibit disiapkan sesaat sebelum tanam agar mutu bibit tidak berkurang akibat penyimpanan.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan Lahan

Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau

pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun temulawak sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam.

2) Pembukaan Lahan

Lahan dibersihkan dari tanaman-tanaman lain dan gulma yang dapat

mengganggu pertumbuhan kunyit. Lahan dicangkul sedalam 30 cm

sampai tanah menjadi gembur.

3) Pembentukan Bedengan

Lahan dibuat bedengan selebar 120-200 cm, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30-40 cm. Selain dalam bentuk bedengan, lahan dapat juga dibentuk menjadi petakan-petakan agak luas yang dikelilingi parit

pemasukkan dan pembuangan air, khususnya jika temulawak akan ditanam di musim hujan.

4) Pemupukan Organik (sebelum tanam)

Pupuk kandang matang dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 1-2 kg. Keperluan pupuk kandang untuk satu hektar kebun adalah 20-25 ton karena pada satu hektar lahan terdapat 20.000-25.000 tanaman.

6.3. Teknik Penanaman

1) Penentuan Pola Tanaman

Penanaman dilakukan secara monokultur dan lebih baik dilakukan pada awal musim hujan kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang waktu. Fase awal pertumbuhan adalah saat dimana tanaman memerlukan banyak air.

2) Pembutan Lubang Tanam

Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.

3) Cara Penanaman

Satu bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10 cm.

4) Perioda Tanam

Masa tanam temulawak yaitu pada awal musim hujan untuk masa panen musim kemarau mendatang. Penanaman pada di awal musim hujan ini memungkinkan untuk suplai air yang cukup bagi tanaman muda yang memang sangat membutuhkan air di awal pertumbuhannya.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman

Tanaman yang rusak/mati diganti oleh bibit yang sehat yang merupakan bibit cadangan.

2) Penyiangan

Penyiangan rumput liar dilakukan pagi/sore hari yang tumbuh di atas bedengan atau petak bertujuan untuk menghindari persaingan makanan dan air. Peyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan). Selanjutnya penyiangan dapat dilakukan segera setelah rumput liar tumbuh. Untuk mencegah kerusakan akar, rumput liar disiangi dengan bantuan kored/cangkul dengan hati-hati.

3) Pembubunan

Kegiatan pembubunan perlu dilakukan pada pertanaman rimpang-rimpangan untuk memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik. Pembubunan dilakukan dengan menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang jatuh terbawa air. Pembubunan dilakukan secara rutin setelah dilakukan penyiangan.

4) Pemupukan

a. Pemupukan Organik

Pada pertanian organic yang tidak menggunakan bahan kimia

termasuk pupuk buatan dan obat-obatan, maka pemupukan secara

organic yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organic atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organic ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengan kegiatan pembubunan.

b. Pemupukan Konvensional

§ Pemupukan Awal

Pupuk dasar yang diberikan saat tanam adalah SP-36 sebanyak 100 kg/ha yang disebar di dalam larikan sedalam 5 cm di antara barisan tanaman atau dimasukkan ke dalam lubang sedalam 5 cm pada jarak 10 cm dari bibit yang baru ditanam. Larikan atau lubang pupuk kemudian ditutup dengan tanah. Sesaat setelah pemupukan tanaman langsung disiram untuk mencegah kekeringan tunas.

§ Pemupukan Susulan

Pada waktu berumur dua bulan, tanaman dipupuk dengan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/tanaman (10-12,5 ton/ha), 95 kg/ha urea dan 85 kg/ha KCl. Pupuk diberikan kembali pada waktu umur tanaman mencapai empat bulan berupa urea dan KCl dengan dosis masing-masing 40 kg/ha. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan merata di dalam larikan pada jarak 20 cm dari pangkal batang tanaman lalu ditutup dengan tanah.

5) Pengairan dan Penyiraman

Pengairan dilakukan secara rutin pada pagi/sore hari ketika tanaman

masih berada pada masa pertumbuhan awal. Pengairan selanjutnya

ditentukan oleh kondisi tanah dan iklim. Biasanya penyiraman akan lebih banyak dilakukan pada musim kemarau. Untuk menjaga pertumbuhan tetap baik, tanah tidak boleh berada dalam keadaan kering.

6) Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama penyakit.

7) Pemulsaan

Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang tanaman.

7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

Hama temulawak adalah:

1) Ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp.),

2) Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) dan

3) Lalat rimpang (Mimegrala coerulenfrons Macquart).

Pengendalian:

penyemprotan insektisida Kiltop 500 EC atau Dimilin 25 WP dengan

konsentrasi 0.1-0.2 %.

7.2. Penyakit

1) Jamur Fusarium

Penyebab:

F. oxysporum Schlecht dan Phytium sp. serta bakteri Pseudomonas sp.

Berpotensi untuk menyerang perakaran dan rimpang temulawak baik di kebun atau setelah panen.

Gejala:

Fusarium menyebabakan busuk akar rimpang dengan gejala daum

menguning, layu, pucuk mengering dan tanaman mati. Akar rimpang

menjadi keriput dan berwarna kehitam-hitaman dan bagian tengahnya

membusuk. Jamur Phytium menyebabkan daun menguning, pangkal

batang dan rimpang busuk, berubah warna menjadi coklat dan akhirnya keseluruhan tanaman menjadi busuk.

Pengendalian:

melakukan pergiliran tanaman yaitu setelah panen tidak menanam

tanaman yang berasal dari keluarga Zingiberaceae. Fungisida yang dapat dipakai adalah Dimazeb 80 WP atau Dithane M-45 80 WP dengan konsentrasi 0.1 - 0.2 %.

2) Penyakit layu

Penyebab:

Pseudomonas sp.

Gejala:

kelayuan daun bagian bawah yang diawali menguningnya daun, pangkal

batang basah dan rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir seperti

getah.

Pengendalian:

dengan pergiliran tanaman dan penyemprotan Agrimycin 15/1.5 WP atau

grept 20 WP dengan konsentrasi 0.1 -0.2%.

7.3. Gulma

Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara

lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, dan gulma berdaun lebar

lainnya.

7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia

berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah sbb:

1) Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit

unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap

serangan hama dari sejak awal pertanaman

2) Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami

3) Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan

hama dan penyakit.

4) Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.

5) Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya

tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta

rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus

penyebaran hama dan penyakit potensial. 6) Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan

digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

1) Tembakau (Nicotiana tabacum) yang mengandung nikotin untuk

insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk

serangga kecil misalnya Aphids.

2) Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.

3) Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

4) Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.

5) Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

6) Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen

utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Rimpang dipanen dari tanaman yang telah berumur 9-10 bulan. Tanaman

yang siap panen memiliki daun-daun dan bagian tanaman yang telah

menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning

kecoklatan.

8.2. Cara Panen

Tanah disekitar rumpun digali dan rumpun diangkat bersama akar dan

rimpangnya.

8.3. Periode Panen

Panen dilakukan pada akhir masa pertumbuhan tanaman yaitu pada musim kemarau. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.

8.4. Perkiraan Hasil Panen

Tanaman yang sehat dan terpelihara menghasilkan rimpang segar sebanyak 10-20 ton/hektar.

9. PASCAPANEN

9.1. Penyortiran Basah dan Pencucian

Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar

kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.

9.2. Perajangan

Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi

bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan

melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan,

timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat

dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.

9.3. Pengeringan

Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari

atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari,

atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari

dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling

menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam

sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara

yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50°C - 60°C. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan

9.4. Penyortiran Kering.

Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).

9.5. Pengemasan

Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong

plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai

sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang

menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode

produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.

9.6. Penyimpanan

Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30°C dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

10.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya kunyit seluas 1000 m2 yang dilakukan pada tahun 2000 di daerah Sumedang Jawa Barat.

1) Biaya produksi

a. Sewa lahan 1 musim tanam Rp. 100.000,-

b. Bibit 250 kg @ Rp. 700,- Rp. 175.000,-

c. Pupuk

d. Pupuk kandang 1.000 kg @ Rp. 100,- Rp. 100.000,-

- Pupuk buatan: Urea 13.5 kg @ Rp. 1.200,- Rp. 16.200,-

- SP-36 10 kg @ Rp. 1700,- Rp. 17.000,-

- KCl 12.5 kg @ Rp. 1700,- Rp. 21.250,-

e. Pestisida Rp. 7.000,-

f. Alat Rp. 20.000,-

g. Tenaga kerja Rp. 112.000,-

h. Panen dan pasca panen Rp. 42.000,-

i. Lain-lain (Pajak 15%) Rp. 91.567,-

Jumlah biaya produksi Rp. 702.017,-

2) Pendapatan 2.000 kg @ Rp. 500,- Rp.1.000.000,-

3) Keuntungan Rp. 297.983,-

4) Parameter kelayakan usaha

a. Rasio output/input = 1,42

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Temulawak merupakan tanaman obat yang secara alami sangat mudah

tumbuh di Indonesia dan telah lama digunakan sebagai bahan pembuatan

jamu. Setiap produsen jamu baik skala kecil atau skala industri selalu memasukkan temulawak ke dalam racikan jamunya. Rimpang temulawak yang dikeringkan juga sudah merupakan komoditi perdagangan antar negara. Indonesia dengan dukungan kondisi iklim dan tanahnya dapat menjadi produsen dan sekaligus pengekspor utama rimpang temu lawak dengan syarat produks dan kualitas rimpang yang dihasilkan memenuhi syarat.

Kuantitas dan kualitas ini dapat ditingkatkan dengan mengubah pola tanam temulawak dari tradisional ke “modern” yang mengikuti tata laksana penanaman yang sudah teruji. Selama periode 1985-1989 Indonesia mengekspor temulawak sebanyak 36.602 kg senilai US $ 21.157,2 setiap tahun. Negara pengekspor lainnya adalah Cina, Indo Cina dan Bardabos.

Untuk dapat meningkatkan ekspor temulawak diperlukan sosialisasi tanaman temulawak kepada masyarakat petani dan sekaligus memasyarakatkan cara budidaya temu lawak yang benar dalam skala yang lebih besar.

11.STANDAR PRODUKSI

11.1. Ruang Lingkup

Standar produksi meliputi: jenis dan standar mutu, cara pengambilan contoh dan syarat pengemasan.

11.2. Deskripsi

11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu

Standard mutu temulawak untuk pasaran luar negeri dicantumkan berikut ini:

1) Warna : kuning-jingga sampai coklat kuning-jingga

2) Aroma : khas wangi aromatis

3) Rasa : mirip rempah dan agak pahit

4) Kadar air maksimum : 12 %

5) Kadar abu : 3-7 %

6) Kadar pasir (kotoran) : 1 %

7) Kadar minyak atsiri (minimal) : 5 %

11.4. Pengambilan Contoh

Dari jumlah kemasan dalam satu partai temulawak siap ekspor diambil

sejumlah kemasan secara acak seperti dibawah ini, dengan maksimum berat tiap partai 20 ton.

1) Untuk jumlah kemasan dalam partai 1–100, contoh yang diambil 5.

2) Untuk jumlah kemasan dalam partai 101–300, contoh yang diambil 7

3) Untuk jumlah kemasan dalam partai 301–500, contoh yang diambil 9

4) Untuk jumlah kemasan dalam partai 501-1000, contoh yang diambil 10

5) Untuk jumlah kemasan dalam partai di atas 1000, contoh yang diambil minimum 15 Kemasan yang telah diambil, dituangkan isinya, kemudian diambil secara acak sebanyak 10 rimpang dari tiap kemasan sebagai contoh. Khusus untuk

kemasan temulawak berat 20 kg atau kurang, maka contoh yang diambil

sebanyak 5 rimpang. Contoh yang telah diambil kemudian diuji untuk

ditentukan mutunya. Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

11.5. Pengemasan

Irisan temulawak kering dikemas dalam kardus karton yang dilapisi plastic dengan kapasitas 20 kg. Dibagian luar dari tiap kemasan ditulis, dengan bahan yang tidak luntur, jelas terbaca antara lain:

§ Produk asal Indonesia

§ Nama/kode perusahaan/eksportir

§ Nama barang

§ Negara tujuan

§ Berat kotor

§ Berat bersih

§ Nama pembeli

B. Budidaya

Kegunaan utama rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) adalah sebagai bahan baku obat, karena dapat merangsang sekresi empedu dan pankreas. Sebagai obat fitofarmaka, temulawak bermanfaat untuk mengobati penyakit saluran pencernaan, kelainan hati, kandung empedu, pankreas, usus halus, tekanan darah tinggi, kontraksi usus, TBC, sariawan, dan dapat dipergunakan sebagai tonikum. Secara tradisional, banyak digunakan untuk mengobati diare,disentri, wasir, bengkak karena infeksi, eksim, cacar, jerawat, sakitkuning, sembelit, kurang nafsu makan, kejang-kejang, radanglambung, kencing darah, ayan, dan kurang darah. Kebutuhan simplisia temulawak sebagai bahan baku obat tradisional di Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 2003 menduduki peringkat pertama dilihat dari jumlah serapan industri obat tradisional. Banyaknya ragam manfaat temulawak baik untuk obat tradisional maupun fitofarmaka karena rimpangnya mengandung protein, pati, zat warna kuning kurkuminoid dan minyak atsiri. Kandungan kimia minyak atsirinya antara lain, feladren, kamfer, turmerol, tolilmetilkarbinol, ar-kurkumen, zingiberen, kuzerenon, germakron, β-tumeron dan xanthorizol yang mempunyai kandungan tertinggi (40 %).

PERSYARATAN TUMBUH

Tumbuh baik pada jenis tanah latosol, andosol, podsolik dan regosol. Tanah bebas dari penyakit layu bakteri, ketinggian tempat 100 – 1500 m dpl, dengan curah hujan 1500 – 4000 mm/th.

BAHAN TANAMAN

Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh liar dibawah tegakan jati. Saat ini sudah mulai dibudidayakan secara terbatas dan diantara populasi tersebut potensi produksi dan mutunya beragam. Balittro telah mempunai 10 nomor harapan temulawak yang berpotensi produksi (20 - 40 ton/ha), kadar minyak atsiri (6,2 – 10,6 %), kadar kurkumin (2,0 – 3,3 %). Bahan tanaman untuk benih harus tepat dan jelas nama jenis, varietas dan asal usulnya. Temulawak termasuk tanaman berbatang basah, tingginya dapat mencapai 2,5 m, bunganya berwarna putih kemerah-merahan atau kuning, bertangkai panjangnya 1,5 - 3 cm,

berkelompok 3 sampai 4 buah. Tumbuhan ini tumbuh subur pada tanah yang gembur, dan termasuk jenis temu-temuan yang sering berbunga. Bunganya langsung keluar dari rimpang dengan bunga berwarna merah, kelopak hijau muda, pangkal bunga bagian atas berwarna ungu. Bagian yang dipanen dan dipergunakan adalah rimpang yang beraroma tajam dengan daging rimpang berwarna kuning tua sampai jingga. Panen dapat dilakukan pada umur 7 – 12 bulan setelah tanam atau daun telah menguning dan gugur. Sebagai bahan tanaman untuk benih digunakan tanaman yang sehat berumur 12 bulan.

PEMBENIHAN

Untuk benih bisa menggunakan rimpang induk dan anak rimpang. Apabila digunakan rimpang induk maka hanya seperempat bagian (satu rimpang induk dibelah menjadi empat bagian membujur) untuk satu lubang tanam. Sedang apabila menggunakan anak rimpang ukuran benihnya 20 – 40 g/potong. Sebelum ditanam benih ditumbuhkan dahulu sampai mata tunasnya tumbuh dengan tinggi 0,5 - 1 cm, sehingga dapat diperoleh tanaman yang seragam.

BUDIDAYA

Penerapan teknologi budidaya yang mengacu kepada SPO yang

dimulai dari pemilihan jenis, varietas unggul/harapan, lingkungan

tumbuh, pembenihan, pengolahan lahan, cara tanam, pemeliharaan,

pengendalian hama penyakit, cara panen dan pengolahan pasca panen

akan menghasilkan bahan baku yang bermutu tinggi dan terstandar.

Sebaiknya tanam dilakukan pada awal musim hujan.

Persiapan lahan

Tanah diolah agar menjadi gembur, diupayakan agar drainase sebaik mungkin, sehingga tidak terjadi penggenangan air pada lahan, oleh karena itu perlu dibuat parit-parit pemisah petak. Ukuran petak lebar 2,5 – 4 m dengan panjang petak disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Jarak tanam

Jarak tanam temulawak bervariasi antara, 50 x 50 cm, 50 x 60 cm atau 60 x 60 cm, pada sistem budidaya monokultur. Apabila tanaman akan ditanam secara pola tumpang sari dengan tanaman sisipan kacang tanah, maka jarak tanamnya 75 x 50 cm.

Pola tanam

Tanaman ini bisa ditanam dengan pola tumpangsari dengan kacang tanah, menggunakan jarak tanam antar baris lebih lebar yaitu 75 cm dan jarak dalam barisan 50 cm. Tanaman kacang tanah ditanam bersamaan dengan menanam temulawak, pada umur 3 - 4 BST kacang tanah sudah dapat dipanen. Tumpang sari dengan kacang tanah dapat menambah kesuburan tanah khususnya dapat menambah unsur N tanah.

Pemupukan

Pupuk kandang 10 – 20 ton/ha sebagai pupuk dasar diberikan pada saat tanam. Pupuk Urea, SP-36 dan KCl, dengan dosis masing-masing 200 kg, 100 kg dan 100 kg/ha untuk pola monokultur, serta 200 kg/ha untuk pola tumpangsari. SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam, Urea diberikan 3 agihan pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh masing-masing sepertiga bagian.

Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan, untuk menghindari adanya kompetisi perolehan zat hara dengan gulma dan menjaga kelembaban, suhu serta kegemburan tanah. Pembumbunan dilakukan untuk memperbaruhi saluran drainase pemisah petak, tanah dinaikkan ke petak-petak tanam, biasanya dilakukan setelah selesai penyiangan.

Pengendalian organisme pengganggu tanaman

Jarang terjadi serangan hama dan penyakit. Namun untuk menghindari munculnya serangan perlu diantisipasi dengan cara pencegahan. Tindakan untuk mencegah masuknya benih penyakit busuk rimpang yang disebabkan Ralstonia solanacearum, dilakukan dengan penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (perendaman dengan antibiotik), menghindari pelukaan (menaburkan abu sekam dipermukaan rimpang), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat, inspeksi kebun secara rutin.

PANEN

Umur panen

Panen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi, yaitu pada umur 10 – 12 bulan setelah tanam, biasanya daun mulai luruh atau mengering. Dapat pula dipanen pada umur 20 – 24 bulan.

Cara panen

Panen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat rimpang secara keseluruhan.

PASCA PANEN

Pembersihan/pencucian

Rimpang hasil panen dicuci dari tanah dan kotoran, kemudian dikering anginkan sampai kulit rimpangnya tidak basah lagi.

Perajangan rimpang

Setelah itu, rimpang diiris membujur dengan ketebalan 2 – 3 mm.

Pengeringan simplisia

Rajangan rimpang dijemur dengan menggunakan energy matahari diberi alas yang bersih, atau bisa dengan pengering oven dengan suhu 40 – 60o C, hingga mencapai kadar air 9 – 10 %.

PENGANEKARAGAMAN PRODUK

Rimpang temulawak sebagian besar digunakan untuk bahan baku obat, produknya berupa minyak temulawak, oleoresin, pati, instant, zat warna kuning, beberapa jenis makanan, minuman, dan minyak atsiri.

USAHATANI

Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang menguntungkan, faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam teknologi budidaya perlu diperhitungkan. Berikut analisis usahatani temulawak dengan teknologi budidaya

BAB II

KANDUNGAN KIMIA

Temulawak (curcuma xanthorrhiza) banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembang biak di tanah tegalan sekitar pemukiman, terutaama pada tanah gembur, sehingga buaah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 meter. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang. Temulawak mempunyai bunga yang berbentuk unik (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Daerah tumbuhnya selain di dataran rendaah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1500 meter di atas permukaan laut.

Nama Lokal :
Temulawak, Temu putih (Indonesia

Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Daging buah (rimpang) temulawak mempunyai beberapa kandungan senyawa kimia antara lain berupa fellandrean dan turmerol atau yang sering disebut minyak menguap. Kemudian minyak atsiri, kamfer, glukosida, foluymetik karbinol. Dan kurkumin yang terdapat pada rimpang tumbuhan ini bermanfaat sebagai acnevulgaris, disamping sebagai anti inflamasi (anti radang) dan anti hepototoksik (anti keracunan empedu).

Efek analgesik

Yamazaki (1987, 1988a) melaporkan bahwa ekstrak metanol temulawak yang diberikan secara oral pada tikus percobaan, dinyatakan dapat menekan rasa sakit yang diakibatkan oleh pemberian asam asetat. Selanjutnya, Yamazaki (1988b) dan Ozaki (1990) membuktikan bahwa germakron adalah zat aktif dalam temulawak yang berfungsi menekan rasa sakit tersebut.

Efek anthelmintik

Pemberian infus temulawak, temu hitam dan kombinasi dari keduanya dalam urea molasses block dapat menurunkan jumlah telur per gram tinja pada domba yang diinfeksi cacing Haemonchus contortus (Bendryman dkk. 1996).

Efek antibakteri/antijamur

Dilaporkan bahwa ekstrak eter temulawak secara in vitro dapat menghambat pertumbuhan jamur Microsporum gypseum, Microsporum canis, dan Trichophytol violaceum (Oehadian dkk. 1985). Minyak atsiri Curcuma xanthorrhiza juga menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans, sementara kurkuminoid Curcuma xanthorrhiza mempunyai daya hambat yang lemah (Oei 1986a).

Efek antidiabetik

Penelitian Yasni dkk. (1991) melaporkan bahwa temulawak dapat memperbaiki gejala diabetes pada tikus, seperti : growth retardation, hyperphagia, polydipsia, tingginya glukose dan trigliserida dalam serum, dan mengurangi terbentuknya linoleat dari arakhidonat dalam fosfolipid hati. Temulawak khusus-nya merubah jumlah dan komposisi fecal bile acids.

Efek antihepatotoksik

Pemberian seduhan rimpang temulawak sebesar 400, 800 mg/kg selama 6 hari serta 200, 400 dan 800 mg/kg pada mencit selama 14 hari, mampu menurunkan aktivitas GPT-serum dosis hepatotoksik parasetamol maupun mempersempit luas daerah nekrosis parasetamol secara nyata. Daya antihepatotoksik tergantung pada besarnya dosis maupun jangka waktu pemberiannya (Donatus dan Suzana 1987).

Efek antiinflamasi

Oei (1986b) melaporkan bahwa minyak atsiri dari Curcuma xanthorrhiza secara in vitro memiliki daya antiinflamasi yang lemah. Sementara Ozaki (1990) melaporkan bahwa efek antiinflamasi tersebut disebabkan oleh adanya germakron. Selanjutnya, Claeson dkk. (1993) berhasil mengisolasi tiga jenis senyawa non fenolik diarylheptanoid dari ekstrak rimpang temulawak, yaitu : trans-trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-4-on (alnuston); trans1,7-difenil-1-hepten-5-ol, dan trans,trans-1,7-difenil-1,3,-heptadien-5-ol. Ketiga senyawa tersebut dinyatakan mempunyai efek antiinflamasi yang nyata terhadap tikus percobaan.

Efek antioksidan

Jitoe dkk. (1992) mengukur efek antioksidan dari sembilan jenis rimpang temu-temuan dengan metode Thiosianat dan metode Thiobarbituric Acid (TBA) dalam sistem air-alkohol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak temulawak ternyata lebih besar dibandingkan dengan aktivitas tiga jenis kurkuminoid yang diperkirakan terdapat dalam temulawak. Jadi, diduga ada zat lain selain ketiga kurkuminoid tersebut yang mempunyai efek antioksidan. Selanjutnya, Masuda dkk. (1992) berhasil mengisolasi analog kurkumin baru dari rimpang temulawak, yaitu: 1-(4-hidroksi-3,5-dimetoksifenil)-7-(4 hidroksi-3-metoksifenil)-(1E. 6E.)-1,6-heptadien-3,4-dion. Senyawa tersebut ternyata menun-jukkan efek antioksidan melawan oto-oksidasi asam linoleat dalam sistem air-alkohol.

Efek antitumor

Itokawa dkk.(1985) berhasil mengisolasi empat senyawa sesquiterpenoid bisabolan dari rimpang temulawak, yaitu  -kurkumen, ar-turmeron,  -atlanton dan xanthorrizol. Sebagian besar dari zat tersebut merupakan senyawa antitumor melawan sarcoma 180 ascites pada tikus percobaan. Efektivitas antitumor dari senyawa tersebut adalah: (+++) untuk  -kurkumen, (++) untuk ar-turmeron, dan (++) untuk xanthorrizol. Sementara itu, Yasni (1993b) melaporkan bahwa pemberian temulawak dapat mengaktifkan sel T dan sel B yang berfungsi sebagai media dalam sistem kekebalan pada tikus percobaan.

Ahn dkk. (1995) melaporkan bahwa ar-turmeron yang terkandung dalam temulawak dapat mem perpanjang hidup tikus yang terinfeksi dengan sel kanker S-180. Komponen tersebut menunjukkan aktifitas sitotoksik yang sinergis dengan sesquifelandren yang diisolasi dari tanaman yang sama sebesar 10 kali lipat terhadap sel L1210. Disamping itu, kurkumin bersifat memperkuat obat-obat sitotoksik lainnya seperti siklofosfamida, MeCCNU, aurapten, adriamisin, dan vinkristi

Efek penekan syaraf pusat

Penelitian Yamazaki dkk. (1987, 1988a) menyatakan bahwa ekstrak rimpang temu lawak ternyata mempunyai efek memperpanjang masa tidur yang diakibatkan oleh pento barbital. Selanjutnya dibuktikan bahwa (R )-(-)-xantorizol adalah zat aktif yang menyebab-kan efek tersebut dengan cara menghambat aktifitas sitokrom P 450. Selain xantorizol, ternyata germakron yang terkandung dalam ekstrak temulawak juga mempunyai efek mem perpanjang masa tidur (Yamazaki 1988b). Pemberian germakron 200 mg/kg secara oral pada tikus percobaan dinyatakan dapat menekan hiperaktifitas yang disebabkan oleh metamfe-tamin (3 mg /kg i.p). Lebih lanjut dinyatakan bahwa pemberian 750 mg/kg germakron secara oral pada tikus percobaan tidak menunjukkan adanya toksisitas letal (Yamazaki 1988b).

Efek diuretika

Penelitian Wahjoedi (1985) menyatakan bahwa rebusan temulawak pada dosis ekuivalen 1x dan 10x dosis lazim orang pada tikus putih mempunyai efek diuretik kurang lebih setengah dari potensi HCT (Hidroklorotiazid) 1,6 mg/kg.

Efek hipolipidemik

Penggunaan temulawak sebagai minuman pada ternak kelinci betina menunjukkan bahwa tidak terdapat lemak tubuh pada karkas dan jaringan lemak di sekitar organ reproduksi (Soenaryo 1985). Adapun penelitian Yasni dkk. (1993a) melaporkan bahwa temulawak menurunkan konsentrasi triglise rida dan fosfolipid serum, kolesterol hati, dan meningkatkan kolesterol HDL serum dan apolipoprotein A-1, pada tikus yang diberi diet bebas koles-terol. Adapun pada tikus dengan diet tinggi kolesterol, temulawak tidak menekan tingginya kolesterol serum walaupun menurunkan kolesterol hati. Dalam penelitian tersebut dilaporkan bahwa kurkuminoid yang berasal dari temulawak ternyata tidak mempunyai efek yang nyata terhadap lemak serum dan lemak hati, maka disimpulkan bahwa temulawak mengandung zat aktif selain kurkuminoid yang dapat merubah metabolisme lemak dan lipoprotein. Selanjutnya Yasni dkk. (1994) membuktikan bahwa kurkumen adalah salah satu zat aktif yang mempunyai efek menurunkan trigliserida pada tikus percobaan dengan cara menekan sintesis asam lemak.

Sementara itu, Suksamrarn dkk. (1994) melaporkan bahwa dua senyawa fenolik diarilheptanoid yang diisolasi dari rimpang temulawak, yaitu : 5-hidroksi-7-(4-hidroksifenil)-1-fenil-(1E)-1-hepten dan 7-(3, 4-dihidroksifenil)-5-hidroksi-1-fenil-(1E)-1-hepten, secara nyata menunjukkan efek hipolipidemik dengan cara menghambat sekresi trigliserida hati pada tikus percobaan.

Uji coba kemanjuran temulawak dilakukan oleh Santosa dkk. (1995). terhadap 33 orang pasien penderita hepatitis khronis. Selama 12 minggu, setiap pasien menerima 3 kali sehari satu kapsul yang mengandung kurkumin dan minyak menguap. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa data serologi (GOT, GPT, GGT, AP) dari 68-77% pasien menunjukkan tendensi penurunan ke nilai normal dan bilirubin serum total dari 48% pasien juga menurun. Keluhan nausea/vomitus yang diderita pasien dilaporkan menghilang. Gejala pada saluran pencernakan dirasakan hilang oleh 43% pasien sedangkan sisanya masih mera sakan gejala tersebut, termasuk 70% pasien yang merasakan kehilangan nafsu makannya.

Efek hipotermik

Pemberian infus temulawak menunjukkan penurunan suhu pada tubuh mencit perco baan (Pudji astuti 1988). Penelitian Yamazaki dkk. (1987, 1988a) menunjukkan bahwa ekstrak metanol rimpang temulawak mempunyai efek penurunan suhu pada rektal tikus percobaan. Selanjutnya dibuktikan bahwa germakron diidentifikasi sebagai zat aktif dalam rimpang temulawak yang menyebabkan efek hipotermik tersebut (Yamazaki 1988b).

Efek insektisida

Pandji dkk. (1993) meneliti efek insektisida empat jenis rimpang dari spesies Zingiberaceae yaitu: Curcuma xanthorrhiza, C. zedoaria, Kaempferia galanga dan K. pandurata. Tujuh belas komponen terbesar termasuk flavonoid, sesquiterpenoid, dan derivat asam sinamat berhasil diisolasi dan didentifikasi menggunakan NMR dan Mass spektra. Semua komponen diuji toksisitasnya terhadap larva Spodoptera littoralis. Secara contact residue bioassay, nampak bahwa xantorizol dan furanodienon merupakan senyawa sesquiterpenoid yang paling aktif menunjukkan toksisitas melawan larva yang baru lahir, tetapi efek toksisitas tersebut tidak nyata jika diberikan bersama makanan. Selanjutnya dilaporkan bahwa ekstrak Curcuma xanthorrhiza mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk Aedes aegypti instar III (Wibowo dkk. 1995).

Efek lain-lain

Hasil wawancara dengan 100 orang responden wanita petani menunjukkan bahwa penggunaan temulawak dapat memperbaiki kerja sistem hormonal yang mengontrol metabolisme khususnya karbo hidrat dan asam susu, memperbaiki fisiologi organ tubuh, dan meningkatkan kesuburan (Soenaryo 1985).

Komponen yang terkandung dalam temulawak dinyatakan mempunyai sifat koleretik (Oei 1986a; Siegers et al 1997). Temulawak dilaporkan mempunyai efek mengurangi pengeluaran tinja pada tikus percobaan (Wahyoedi 1980). Ekstrak temulawak tidak menunjukkan efek toksik. Untuk mematikan Libistes reticulatus diperlukan ekstrak Curcuma xanthorrhiza dengan dosis besar (Rahayu dkk. 1992).

Pemberian infus temulawak dinyatakan dapat meningkatkan kontraksi uterus tikus putih (Damayanti dkk. 1995), dapat meningkatkan tonus kontraksi otot polos trachea marmut (Damayanti dkk. 1996), dapat meningkatkan frekuensi kontraksi jantung kura-kura (Damayanti dkk. 1997), dan dapat meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus tikus (Halimah dkk. 1997)

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membuktikan khasiat kurkumin yaitu salah satu zat aktif yang terkandung dalam temulawak, tetapi pembahasannya akan kami sajikan pada kesempatan lain.

Paten

Prestasi Oei Ban Liang dari Indonesia bersama dengan PT Daria Varia Laboratoria perlu kita banggakan. Mereka telah berhasil mempatenkan bahan anti-inflamasi berisi kombinasi zat aktif yang berhasil diisolasi dari Curcuma sp. di Eropa dengan No.: 440885. Sementara itu, di Jepang, Yamazaki dkk. telah mempatenkan germakron yaitu zat aktif yang terkandung dalam temulawak, sebagai penekan sistem syaraf pusat di Jepang dengan nomor: 89139527. Sediaan tersebut berupa granul yang mengandung germakron dan manitol dengan bahan pengikat hidroksipropilselulose 10% dalam etanol.

Pada tahun 1995, Imaisumi dari Suntory Ltd. Jepang telah mempatenkan makanan yang mengandung kurkumen yaitu zat aktif yang berasal dari rimpang temulawak dengan nomor paten 07 20, 149, 628. Dinyatakan bahwa makanan tersebut dapat meningkatkan metabolisme lemak, dan secara in vivo dapat menurunkan trigliserida pada hati dan serum tikus. Adapun Tanaka dkk. dari perusahaan Shiseido di Jepang, baru-baru ini yaitu tahun 1997, berhasil mempatenkan kosmetik untuk kulit dengan nomor 09 20, 635. Kosmetik yang mengandung ekstrak temulawak tersebut dinyatakan efektif sebagai pembentuk melanin atau penghambat tirosinase.


BAB III

EFEK BIOLOGI DAN FARMAKOLOGI

TEMULAWAK DAN KUNYIT SEMBUHKAN HEPATITIS

Di Indonesia, hepatitis atau penyakit hati menempati urutan ketiga penyebab kematian setelah penyakit infeksi dan paru. Kebanyakan disebutkan virus hepatitis B, yang yang berprevalensi cukup tinggi, sekitar 2,5 – 19,5% . Bahkan untuk penduduk Jawa mencapai 34,5%.

Kalau diambil rata-rata nya maka 5% penduduk Indonesia atau sekitar 8 juta orang terinfeksi hepatitis B. Di negara lain seperti Amerika Utara dan Eropa Barat, prevalensinya 0,1 – 0,5%. Tertinggi terdapat di pulau Raya Samudra Atlantik : 50% dari jumlah penduduk sebagai carrier.

Tentu saja perlu dicarikan jalan keluar agar prevalensinya dapat di redam. Salah satu cara dengan meneliti tumbuh – tumbuhan yang berkhasiat sebagai hepatoprotektor.

Sedikitnya ada 97 tumbuhan di Indonesia yang secara tradisional digunakan sebagai obat hepatitis. Beberapa diantaranya telah di uji aktivitas hepatoprotektor dan telah diketahui senyawa aktifnya.

Antara lain kurkumin dan turunannya, aukubin, glisirisin, dan minyak atsiri . Sebagai contoh temulawak ( koneng gede, Sunda ) dan kunyit ( koneng temen, Sunda ).

TEMULAWAK DAN KUNYIT

Temulawak dan kunyit merupakan tumbuhan satu rumpun yang banyak terdapat di Indonesia. Tingkat kesesuaian lingkungannya cukup tinggi, bisa tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi : 1500 – 400 mm/tahun , di berbagai macam jenis tanah pada ketinggian 5 1500 m dpl. Disamping sebagai obat tradisional, temulawak dan kunyit di gunakan juga untuk rempah-rempah, makanan, minuman, kosmetika , dan zat pewarna terutama pewarna makanan.

Bahkan dijadikan sebagai salah satu tanaman ekspor yang cukup potensial. Tahun 1979 di ekspor 42,9 ton kering, 1983 naik menjadi 71,5 ton. Temulawak dan kunyit telah lama diketahui mengandung senyawa kimia yang mempunyai keaktifan fisiologi, yaitu kurkuminoid dan minyak atsiri Kurkuminoid terdiri atas senyawa berwarna kuning kurkumin dan turunannya. Sedangkan minyak atsiri berbau dan berasa yang khas. Kadar kurkumin dan minyak atsiri kedua tanaman tersebut berbeda. Kandungan minyak atsiri pada rimpang kunyit yaitu 2-7% bila dibandingkan dengan rimpang temulawak 3-12%. Sedangkan untuk kurkuminoid, dalam rimpang kunyit sebanyak 3-5%, sedang temulawak 1-2%. Untuk menentukan persentase ini dilakukan pemanasan pada temperatur 50-55o C , supaya tidak merusak zat aktifnya dan untuk mendapatkan warna yang baik dari kurkuminoid.

SEMBUHKAN HEPATITIS

Dari komposisi tersebut terlihat bahwa kandungan minyak atsiri dalam temulawak lebih besar , sementara kandungan kurkumin lebih besar dalam kunyit. Karena alasan inilah maka tim peneliti laboratorium Farmakognosi Jurusan Farmasi Unpad Bandung meneliti pengaruh campuran kurkuminoid dari kunyit dan minyak atsiri dari temulawak pada tikus yang telah diinduksi dengan karbon tetraclorida ( Ccl4 ). Karena minyak atsiri dan kurkuminoid sulit terserap usus, mereka menyalutnya dengan liposom yang terbuat dari campuran fosfatidilkolin, lesitin, dan kolesterol.

Farameter yang diukur adalah menuru ata meningkatnya akyivitas enzim SGOT dab SGPT. Jika menurun maka kedua zat tersebut dapat mengobati hati tikus yang rusak karena induksi Ccl4 . Dari hasil penelitian ini, kadar optimum dari campuran kurkumin dan minyak atsiri sebesar 1,144 mg/kg BB ( miligram per kilo gram berat badan tikus ) untuk kurkuminoid kunyit, dan 0,28 kg/ BB untuk minyak atsiri. Campuran yang mengandung kurkuminoid kunyit 0,572 mg/BB dan minyak atsiri temulawak 0,14mg/BB, memberikan efek antihepatoksik optimal, tetapi tidak dapat menghentikan proses fibrosis hati oleh pemberian Ccl4 dua kali seminggu.

JANTUNG KORONER

Disamping sebagai obat hepatitis, temulawak dan kunyit , terutama zat kurkuminoid nya , dapat meningkatkan kadar HDL ( lipoprotein berat jenis tinggi yang berguna untuk mencegah penyakit jantung koroner. Fungsi lainnya, dapat merangsang sekresi empedu, pankreas, sebagai zat anti peradangan , danmenurunkan tekanan darah. Dalam menurunkan tekanan darah , Gunster, peneliti dari Belanda , melaporkan penelitiannya pada 5 kucing percobaan dengan suntkan intravena dari temulawak sebanyak 1% yang dilarutkan dalam garam NaCl . Ternyata dapat menurunkan tekanan darah kucing tersebut, meski mekanisme yang pasti masih belum jelas. Penelitian Gunster lainnya, temulawak dapat menyebabkan kontraksi uterus. Oleh karena itu dianjurkan agar ibu hamil berhati- hati menggunakannya karena dosis yang pasti belum jelas.


BUDI DAYA

Pembudi dayaan tanaman temulawak dan kunyit sampai saat ini pada umumnya hanya menanam asal jadi tanpa pemeliharaan selanjutnya. Untuk memenuhi kebutuhan temulawak dan kunyit sampai saat ini masih mengandalkan dari hutan yang tumbuh liar. Kalau ini dibiarkan terus dan tanpa menyelamatkan flasma nufahnya, tidak mustahil peristiwa tragis menghilangnya beberapa spesies jenis kayu , terjadi juga pada temulawak dan kunyit. Ini terbukti jumlah temulawak liar di Jawa sudah banyak berkurang dibandingkan beberapa puluh tahun lalu. Maka usaha pembudidayaan secara intensif sudah saatnya dilaksanakan. Demikian pula kegiatan inventarisasi, penelitian – penelitian biologi, fitokimia, farmakologi, serta teknologi budi dayanya perlu dilanjutkan dan ditingkatkan . Sebagai perbandingan hasil panen temulawak dan kunyit yang diolah secara sederhana, untuk tanah yang subur mencapai 4-5 ton per hektarare, dan yang kurang subur hanya mencapai 2-3 ton per hektarare. Ditanah yang subur diolah cukup baik, hasilnya bisa mencapai lebih dari 100.000 ton kering pertahun.



Tidak ada komentar: