Halaman

Kamis, 25 Agustus 2011

Pengaruh Ekologi terhadap Penyakit Menular


Wabah Flu Burung (Avian Influenza, AI) kembali lagi muncul. Kali ini virus H5N1 ditemukan di Kamboja, dan menjadikan

negara ini sebagai negara ke-6 di Asia yang mengalami serangan virus H5N1 ini. Sebelumnya virus ini juga telah

merenggut nyawa 3 bocah di Vietnam, dan menginfeksi tiga orang warga negara Malaysia. Padahal pada saat wabah

Flu Burung melanda kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur pada awal tahun 2004 yang lalu, Kamboja dan Malaysia

adalah Negara yang bebas dari wabah ini.

Hampir semua negara yang dilanda wabah H5N1 pada awal tahun ini telah menyatakan bahwa negara mereka telah

bebas dari virus H5N1. Namun pada kenyataannya virus ini kembali datang. Kedatangan virus ini menimbulkan rasa

takut, karena tidak tertutup kemungkinan virus kali ini adalah virus yang lebih berbahaya dan lebih ganas, karena sesuai

dengan perjalanan waktu virus ini bisa berubah menjadi virus yang mempunya daya penularan dari manusia ke manusia.

Jika ini terjadi, diperkirakan akibat yang akan timbul akan melebihi wabah “Spanish Flu” yang terjadi di Eropa pada tahun

1918-1919. Wabah influenza yang terbesar dalam sejarah dunia ini disebabkan oleh virus influenza tipe H1N1, dan telah

menelan 20 juta korban jiwa. Angka ini lebih besar dari jumlah orang yang meninggal akibat Perang Dunia I. Oleh karena

itu, kita seharusnya selalu waspada, karena wabah pada umumnya akan datang secara berulang. Hampir tidak ada

wabah yang hanya terjadi satu kali.

SARS merupakan contoh nyata yang masih belum hilang dari ingatan kita. Setelah wabah SARS terjadi secara besarbesaran,

dinyatakan bahwa kita telah bebas dari SARS. Namun beberapa saat kemudian, virus SARS kembali datang

dan menimbulkan beberapa kasus di Cina, Hongkong, dan Singapura. Ekologi dan Penyakit Menular Apakah munculnya

wabah-wabah ini, terutama wabah penyakit baru (new emerging diseases) ada hubungannya dengan perubahan

ekologi? Walaupun sebagian kita barangkali mempercayainya, namun masih banyak diantara kita yang belum

meyakininya. Hal ini disebabkan karena selama ini tidak ada bukti langsung yang menjelaskan adanya hubungan

tersebut. Jarangnya sekali studi yang dilakukan untuk pembuktian hal tersebut.

Namun baru-baru ini hasil studi membuktikan bahwa perubahan ekologi berpengaruh terhadap penyebaran penyakit

menular. Perubahan iklim seperti kenaikan suhu udara akibat polusi CO2 dan penebangan hutan yang tidak beraturan

telah memicu penyakit-penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim, seperti penyakit yang ditularkan oleh parasit

atau vektor lainnya. Dengan kata lain, perubahan iklim ini secara langsung berhubungan dengan distribusi parasit dan

vektor ini, yang pada akhirnya berhubungan dengan penyebaran penyakit menular. Hal ini dibuktikan oleh Vanina

Guernier dan koleganya. Dari hasil studinya, tim peneliti dari Prancis ini telah membuktikan bahwa faktor iklim

merupakan determinan terhadap distribusi patogen yang pada akhirnya mempengaruhi distribusi penyakit pada manusia

(Guernier et al, 2004). Berdasarkan data epidemiologi dari 332 patogen yang dikumpulkan dari 224 negara, Guernier dan

koleganya menyimpulkan bahwa distribusi patogen yang menyebabkan penyakit pada manusia jauh lebih banyak di

kawasan tropis dari pada kawasan yang nontropis. Selain jumlah, jenis patogen juga lebih beragam di daerah tropis

dibandingkan daerah nontropis. Lebih lanjut, tim ini juga menemukan bahwa patogen yang ada di kawasan nontropis

adalah bagian dari pathogen yang ada di kawasan tropis. Dengan peningkatan suhu bumi akibat penggundulan hutan

dan pencemaran udara, kawasan tropis semakin luas. Kawasan yang tadinya tidak termasuk kawasan tropis menjadi

kawasan tropis. Hal ini akan mengakibatkan distribusi patogen semakin meluas, sehingga penyebaran penyakit ke

berbagai kawasan akan semakin mudah.

Hasil studi ini, selain berguna untuk prediksi wabah penyakit, juga mengingatkan kita akan akibat buruk dari peningkatan

suhu bumi akibat ulah buruk manusia. Deforestrasi dan penyebaran AIDS Selain mempengaruhi distribusi patogen, lebih

detil lagi deforestrasi juga mempengaruhi penyebaran penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Di

Kamerun, ditemukan orang dengan gejala AIDS, tetapi di dalam tubuhnya tidak ditemukan baik virus HIV (Human

Immunodeficiency Virus) itu sendiri maupun virus SIV (Simian Immunodeficiency Virus), virus sejenis HIV yang

menyerang monyet. Diperkirakan bahwa telah terjadi sirkulasi virus baru mirip HIV pada hewan liar dan menginfeksi

manusia yang memakannya atau berinteraksi dengannya. Hal ini dikatakan ahli Biologi Konservasi pada pertemuan

tahunan Masyarakan Biologi Konservasi di Columbia University, New York, awal bulan Agustus yang lalu. Mereka

mengatakan bahwa bahwa deforestrasi dan perdagangan hewan liar mengakibatkan munculnya penyakit baru. Hal ini

disebabkan karena deforestrasi dan perdagangan hewan liar ini memberikan peluang adanya kontak langsung antara

manusia dan hewan liar tersebut yang berkemungkinan membawa patogen baru. Walaupun perdagangan hewan liar

bukanlah satu-satunya penyebab munculnya penyakit menular baru yang pindah dari hewan kepada manusia, tetapi

merupakan salah satu faktor yang peranannya tidak bisa diabaikan. Kenapa tidak. Perdagangan hewan merupakan

bisnis global dengan nilai miliaran dolar. Pada tahun 2002 saja, lebih dari 38 ribu mamalia, 365 burung, 2 juta reptile, 49

juta ampibi, dan 216 juta ikan telah diimpor dan diperdagangkan di Amerika Serikat. Pada tahun 2003, virus monkeypox

HSE Forum - Memasyarakatkan K3LH di Indonesia

http://hseforum.info Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Jrvuelyd, 2008, 10:10

(pox monyet) pindah dari anjing piaraan kepada manusia, padahal virus ini sebelumnya tidak menginfeksi anjing, tetapi

hanya bisa menginfeksi manusia dan monyet. Virus ini pindah dari monyet kepada manusia setelah manusia memburu

dan memakan monyet. Karena itu, kontak langsung dengan hewan liar juga menimbulkan sirkulasi dan perpindahan virus

dari hewan kepada manusia. Oleh sebab itu, salah satu bentuk usaha untuk mengurangi sirkulasi dan penyebaran virus

diantara manusia dan hewan perlu dilakukan pengurangan deforestrasi dan pembatasan perdagangan hewan liar.

Semoga kita bisa memperhatikan hal ini untuk pencegahan munculnya penyakit baru.

******

Lisensi Dokumen:Copyright © 2004 K3LH.Com - 2007 HSEForum.info

Seluruh dokumen di K3LH.Com (HSEForum.info) dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk

tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan pernyataan

copyright yang disertakan dalam setiap dokumen. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali

mendapatkan ijin terlebih dahulu dari K3LH.Com. (HSEForum.info)

HSE Forum - Memasyarakatkan K3LH di Indonesia

http://hseforum.info Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Jrvuelyd, 2008, 10:10

SEBAGAI salah satu penyakit reemerging (menular kembali secara massal), malaria hingga saat ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis dan subtropis. Di dua kawasan tersebut, malaria sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah kematian mencapai lebih dari satu juta orang setiap tahunnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, KLB malaria kembali menimpa daerah-daerah endemis malaria di sejumlah daerah tanah air. Yang perlu menjadi perhatian adalah terdapatnya KLB malaria di daerah-daerah yang sudah jarang terjadi kasus malaria selama beberapa tahun. Hal ini terjadi karena lemahnya sistem kewaspadaan dini serta perencanaan pemberantasan malaria yang tidak dilakukan secara tepat dan berkesinambungan.

Salah satu daerah yang belum terbebas dari penyakit malaria adalah Jawa Barat. Penyebabnya, selain karena faktor mobilitas penduduk yang tinggi, juga karena kondisi alam yang memungkinkan banyaknya tempat perindukan nyamuk seperti hutan, lagun di sepanjang pantai dan tambak yang terlantar. Jabar memiliki daerah reseptif endemis malaria yakni daerah dengan KLB tinggi, khususnya di sepanjang Pantai Selatan seperti Kab. Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi.

Yang cukup mengejutkan, jika sebelumnya penyakit malaria lebih banyak disebabkan oleh nyamuk spesies Anopheles sundaicus yang hidup di sawah dan daerah lagun/tepi pantai, kini muncul nyamuk tipe gunung (Anopheles balabacencis) dan tipe hutan (Anopheles maculatus) yang lebih ganas. “Bukan saja lebih ganas menggigit manusia, nyamuk gunung dan hutan ini juga relatif lebih tahan terhadap insektisida yang biasa digunakan sehingga untuk mengendalikannya butuh insektisida baru,” kata Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Depkes, dr. Thomas Suroso, MPH.

Dengan asumsi bahwa kini muncul nyamuk spesies Anopheles maculatus dan Anopheles balabacencis yang lebih ganas, sementara pada saat yang sama tingkat kewaspadaan penduduk terhadap penyakit malaria mulai menurun, maka bisa dikatakan sebagian penduduk Jabar kini dalam posisi terancam. Belum lagi adanya peningkatan aktivitas manusia yang cenderung merusak keseimbangan lingkungan seperti membabat hutan atau pengalihfungsian pantai, kian mendekatkan pada ancaman tersebut. Yang paling terancam adalah penduduk yang bermukim dekat hutan, daerah endemis, para turis atau mereka yang sering keluar masuk hutan.

Hasil studi epidemiologi lingkungan memperlihatkan, tingkat kesehatan masyarakat atau kejadian suatu penyakit dalam suatu kelompok masyarakat merupakan resultante dari hubungan timbal balik antara masyarakat itu sendiri dengan lingkungan. Pada gilirannya, sebagai unsur yang terlibat langsung dalam hubungan timbal balik tersebut, apapun yang terjadi sebagai dampak dari proses interaksi berupa perubahan lingkungan akan menimpa dan dirasakan masyarakat.

Dalam kasus penyebaran penyakit malaria, kita seringkali melupakan akar masalah mengapa penyakit tersebut bisa tersebar dan malah menimbulkan KLB yang menelan korban jiwa. Sejauh ini permasalahan masih berkutat pada bagaimana mengobati orang yang sakit malaria atau memberantas nyamuk sebagai vektor bagi penyebaran parasit plasmodium yang menyebabkan tubuh seseorang menjadi sakit. Karenanya, meski dalam satu kasus program pemberantasan penyakit malaria dianggap sukses, namun beberapa waktu kemudian–ketika semua orang melupakannya–penyakit itu malah muncul kembali dengan ancaman yang lebih besar.

Meski belum ada penelitian resmi mengenai kehadiran spesies baru nyamuk malaria, sejumlah pihak merasa yakin, setidaknya curiga kemunculan spesies baru nyamuk Anopheles yang lebih ganas dan berbahaya bukan sesuatu yang mustahil. “Belum ada penelitian yang hasilnya menjelaskan mengenai adanya spesies baru nyamuk Anopheles,” kata Willy Purnawarman, SKM Kes, Penanggungjawab Progam Malaria Dinas Kesehatan Jabar.

Berkaitan dengan penyebaran malaria, ada tiga faktor utama yang saling berhubunga yakni host (manusia/nyamuk), agent (parasit plasmodium) dan environment (lingkungan). Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut mendukung. Sebagai host intermediate, manusia bisa terinfeksi oleh agent dan merupakan tempat berkembangbiaknya agent. Semua itu dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya, gaya dan cara hidup, hereditas (keturunan), status gizi dan tingkat imunitas.

Menyangkut usia, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terkena infeksi parasit malaria. Meski tidak mengenal perbedaan jenis kelamin, infeksi pada ibu yang sedang hamil menyebabkan anemia berat. Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk memiliki kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositas. Hal ini tidak dimiliki oleh ras kulit putih. Orang yang pernah terinfeksi sebelumnya lebih tahan terhadap infeksi malaria.

Demikian pula dengan cara hidup, berpengaruh terhadap penularan, misalnya tidur dengan kelambu relatif lebih aman dari infeksi parasit. Sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria erat berhubungan dengan infeksi malaria, meski biasanya memiliki imunitas alami sehingga lebih tahan. Sedangkan orang dengan status gizi rendah juga bisa lebih rentan terkena infeksi parasit dibandingkan orang berstatus gizi baik.

Perilaku nyamuk Anopheles sebagai host definitive, sangat menentukan proses penularan malaria, seperti tempat hinggap/istirahat yang eksofilik (senang hinggap di luar rumah) dan endofilik (suka hinggap di dalam rumah), tempat menggigit yakni eksofagik (menggigit di luar rumah) dan endofagik (lebih suka menggigit di dalam rumah), obyek yang digigit yakni antrofilik (manusia) dan zoofilik (hewan).

Sedangkan faktor lingkungan yang cukup memberi pengaruh antara lain lingkungan fisik seperti suhu udara, kelembaban, hujan, angin, sinar matahari, arus air, lingkungan kimiawi, lingkungan biologi (flora dan fauna) dan lingkungan sosial budaya. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena ia dapat menghalangi sinar matahari.

Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (Panchax spp.), gambusia, nila mujair dll akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Selain itu, adanya ternak besar seperti sapi atau kerbau dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan di luar rumah, tidak jauh dari rumah.

Dalam kasus-kasus tertentu, kehidupan nyamuk di habitatnya, entah di pantai, hutan atau gunung sudah demikian harmonis dan mengikuti keseimbangan alam. Nyamuk hutan atau gunung misalnya, mereka sebelumnya cukup memenuhi kebutuhan darahnya untuk keperluan pertumbuhan telurnya dari darah binatang yang ada di hutan. Tanpa harus mengejar manusia. Manusia pun relatif terhindar dari gigitan nyamuk.

Namun, seiring dengan rusaknya lingkungan ekosistem hutan, kehidupan dan keseimbangan alami tempat hidup mereka pun terganggu. Nyamuk pun mencari sumber dan lokasi kehidupan baru. Orang-orang sehat yang keluar masuk hutan, terpaksa harus menerima gigitan dan pulang membawa parasit di dalam darahnya. Demikian pula penduduk yang bermukim di sekitar hutan, menjadi sasaran terdekat nyamuk-nyamuk hutan yang mencari sumber kehidupan mereka.

Penduduk yang berada jauh dari daerah endemik pun bukannya tanpa risiko ancaman. Meski kecil, risiko tertular parasit malaria tetap ada. Dalam kasus ini, faktor mobilitas penduduk memegang peran penting. Penduduk yang berasal dari daerah non endemis lalu masuk ke daerah endemis dan digigit nyamuk yang mengandung parasit, otomatis akan tertular parasit. Jika ia pindah ke daerah asalnya, ia pun menjadi vektor yang siap menyebarkan parasit ke orang lain. Jika di daerah asalnya tidak ada nyamuk Anopheles, maka ia sendiri yang terjangkit parasit. Namun jika di daerahnya terdapat nyamuk Anopheles, parasitnya akan menyebar ke orang lain.

Lingkungan sosial budaya dinilai punya peran luar biasa besarnya dalam penularan penyakit malaria. Kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita untuk berada di luar rumah sampai larut malam di mana vektor lebih bersifat eksifilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk.

Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan penggunaan zat penolak nyamuk (repellent) yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat, akan mempengaruhi angka kesakitan malaria. Faktor yang cukup penting pula adalah pandangan masyarakat di suatu daerah terhadap malaria. Jika malaria dianggap sebagai suatu kebutuhan yang mendesak utnuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan dilaksanakan secara spontan oleh masyarakat.(Muhtar/”PR”).***Pikiran Rakyat Cyber Media, 09 Januari 2003

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/09/cakrawala/utama1.htm

Kategori: Malaria

← Older Entries

Malaria, pembunuh terbesar sepanjang abad

Oleh Ermi ML Ndoen *

MALARIA kembali memakan korban. Dalam dua minggu terakhir Pulau Sabu dan Pulau Semau menjadi saksi kembali mengganasnya penyakit yang telah berumur ribuan tahun ini. Tercatat, tidak kurang dari 1.730 orang Sabu (Pos Kupang 06/05) dan 556 orang Semau (Pos Kupang 05/05) positif malaria. Dari jumlah ini sedikitnya delapan bocah di Desa Uitiuana, Kecamatan Semau, akhirnya menyerahkan nyawanya direnggut keganasan penyakit ini.

Kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Kupang akhir-akhir ini juga merupakan suatu pukulan yang sangat berat bagi sektor kesehatan dan masyarakat NTT tentunya — di tengah tingginya beban ekonomi sehari-hari dan pro kontra naiknya tarif berobat di Rumah Sakit Umum Prof. Yohanes-Kupang. Kejadian kali ini juga merupakan suatu tamparan bagi Kabupaten Kupang, karena di kabupaten inilah enam tahun yang lalu, tepatnya pada 8 April 2000, bertempat di Desa Babau, Dr. Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan RI saat itu — didampingi Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Georg Petersen - mencanangkan dimulainya Gerakan Berantas Kembali Malaria atau "GEBRAK MALARIA" secara nasional. Suatu gerakan nasional yang diharapkan dapat menekan penyakit malaria dengan melibatkan berbagai komponen atau elemen masyarakat. Namun ternyata gerakan ini masih belum berhasil mengontrol kasus malaria. Suatu momen sejarah yang sebenarnya harus dikenang secara manis, ternyata harus diperingati dengan kenyataan pahit. Malaria kembali menjadi masalah di kawasan ini.

Penyakit malaria tidak hanya menjadi masalah Kabupaten Kupang. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyakarat utama di seluruh dunia. Dalam buku The World Malaria Report 2005, Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap kehilangan 12 % pendapatan nasional, negara-negara yang memiliki malaria.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan 50 persen penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria. Menurut perkiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Survai kesehatan nasional tahun 2001 mendapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per tahun. United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta pertahun.

Secara nasional, Propinsi NTT merupakan propinsi dengan angka kesakitan malaria tertinggi. Data Depkes RI tahun 2005 menunjukkan bahwa NTT memiliki angka kesakitan malaria 150 per 1.000 orang per tahun, diikuti oleh Papua, 63,91 kasus per 1000 penduduk per tahun. Di tahun 2004, dilaporkan tidak kurang dari 711.480 kasus malaria klinik terjadi di NTT, dimana 20% dari 75.000 slide darah yang diperiksa positif malaria. Bahkan data Depkes (2000) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 73% kasus yang diobati di puskesmas dan rumah sakit di NTT adalah malaria. Dinas Kesehatan NTT juga mencatat bahwa khusus untuk Kabupaten Kupang, rata-rata kasus malaria klinis dari tahun 2002-2004 mencapai 181 kasus per 1.000 orang pertahun, bahkan di tahun 2004 mencapai 205 kasus per 1.000 orang pertahun. Angka ini menunjukkan bahwa untuk daratan Timor, Kabupaten Kupang menempati rangking tertinggi kejadian malaria klinis setiap tahunnya.

Sebenarnya, apa dan bagaimana penyakit malaria? Kenapa setelah ribuan tahun penyakit ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar umat manusia? Andrew Spieldman dan Michael D’Antonio, dalam novelnya yang berjudul "Mosquito - The Story of Man’s Deadliest Foe" menggambarkan bahwa "tidak ada satu pun binatang di muka bumi ini yang menyentuh secara langsung dan sebegitu dalamnya mempengaruhi kehidupan dan takdir sebagian besar amat manusia". Kedua novelist ini menggambarkan bahwa ternyata nyamuk — seekor makluk kecil yang mungkin dengan sekali tepukan bisa dimatikan - sepanjang sejarah kehidupan, telah menjadi pengganggu dan bahkan pembunuh nomor satu umat manusia di seluruh dunia. Sejak hadirnya, nyamuk telah mengalahkan begitu banyak pemimpin perang besar di zaman dahulu, termasuk Napoleon dan pasukannya. Bahkan disebutkan bahwa dalam Perang Dunia I, prajurit Inggris yang mati karena digigit "nyamuk" malaria lebih banyak dari yang mati karena tertembak peluruh musuh. Tidak hanya sampai di situ, Sandosham (1965), salah satu malarioligist ternama juga menggambarkan bahwa nyamuk dan malaria juga telah mengalahkan banyak raja besar Romawi pada zaman Alexander the Great. Tidak hanya prajurit dan raja, nyamuk dan malaria juga ikut membunuh para Paus, pemimpin agama dan negara lainnnya serta tentunya jutaan umat manusia di seluruh muka bumi.

Harrison juga dalam bukunya "Mosquito, Malaria and Man. - A History of Hostilities Since" menggambarkan malaria sebagai "the ancient deadly disease". Memang, sejarah perkembangan malaria hampir sama tuanya dengan sejarah kehadiran manusia di muka bumi. Para ahli memperkirakan bahwa malaria kemungkinan berawal dari Afrika sekitar 12.000 - 17.000 tahun yang lalu. Dari benua ini, malaria kemudian menyebar ke suluruh dunia, terutama di daerah tropis,sejalan dengan sejarah dimulai penjelajahan umat manusia menemukan dan menaklukkan daerah-daerah baru, perdagangan serta sejarah penjualan budak-budak Afrika pada zaman dulu ke Amerika dan daerah-daerah lainnya.

Malaria juga sudah dikenal oleh para dokter pada zaman China kuno sekitar tahun 2700 sebelum masehi. Adalah Hippocrates, sang bapak kedokteran, yang pertama kali menggambarkan gejala-gejala klinis malaria pada sekitar abab IV Masehi. Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Itali, "mal’aria". Pada zaman dulu, orang beranggapan bahwa malaria disebabkan oleh udara yang kotor. Sementara di Perancis dan Spanyol, malaria dikenal dengan nama "paladisme atau paludismo", yang berarti daerah rawa atau payau karena penyakit ini banyak ditemukan di daerah pinggiran pantai. Saking terkenalnya penyakit malaria, William Shakespeare, salah satu penulis Inggris yang paling terkenal sepanjang abad 16-17, juga telah menggambarkan penyakit malaria dalam salah satu karyanya sebagai "The Caliban Curse". Caliban adalah salah satu budak Afrika yang dikutuk dalam karya Shakespeare, The Tempest (1611).

Pertanyaan sekitar penyebab penyakit malaria akhirnya dijawab oleh Ronald Ross, seorang dokter militer Ingris yang bertugas di India pada tahun 1897. Ross berhasil membuktikan bahwa ternyata malaria tidak disebabkan oleh udara kotor tetapi akibat gigitan nyamuk anopheles. Secara teoritis, cukup hanya dengan satu kali gigitan nyamuk anophles seseorang sudah bisa terjangkit malaria, jika nyamuk ini mengadung parasite malaria. Berkat penemuannya, Ross akhirnya memenangkan hadiah Nobel.

Penyakit malaria sebenarnya merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh parasite yang dikenal dengan nama plasmodium. Parasite ini mempunyai empat jenis yaitu plasmodium falciparum, penyebab malaria tropikana dan merupakan jenis malaria yang paling berbahaya dengan tingkat kematian tinggi. Jenis, plasmodium yang kedua adalah plasmodium vivax, penyebab malaria jenis tertiana. Selanjutnya, plasmodium malarie, dan plasmodium ovale, masing-masing penyebab malaria jenis quartana dan ovale. Kedua jenis malaria pertama adalah merupakan jenis malaria yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

Kenapa sulit dikontrol?

Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Air merupakan faktor esensial bagi perkembang-biakan nyamuk. Karena itu dengan adanya hujan bisa menciptakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk akibat genangan air yang tidakdialirkan di sekitar rumah atau tempat tinggal. Nyamuk dan parasit malaria juga sangat cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat C, dengan kelembaban 60-80 %. Karena itu iklim di NTT memiliki kondisi suhu dan kelembaban yang ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dan parasit malaria.

Secara teoritis, nyamuk bisa terbang sampai 2-3 km, namun pengaruh angin, jarak terbang nyamuk bisa mencapai 40 km. Bahkan dengan perkembangan sarana transportasi, nyamuk bisa mencapai daerah yang jauh dengan menumpang alat transportasi. Para ahli juga memperkirakan bahwa perubahan iklim global telah turut mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria. Nyamuk anopheles yang biasanya hanya ditemukan di daerah dataran rendah sekarang bahkan bisa ditemukan di daerah pengunungan, yang tingginya di atas 2000 m dari permukaan laut.

Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah ke pemukiman manusia. Di daerah pantai, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.

Malaria juga sulit diberantas karena keberadaan nyamuk itu sendiri yang mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 jenis nyamuk anopheles hidup di muka bumi. Dari jumlah ini, "hanya" 80 jenis yang dapat menularkan malaria. Indonesia memiliki sekurang-kurangnya 20 jenis anopheles; dimana 9 spesies di antaranya ditemukan di daerah NTT.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi malaria di dunia, termasuk di Indonesia adalah akibat resistensi nyamuk terhadap insektisida dan obat anti malaria. Zaman dulu DDT merupakan insektisida yang sangat ampuh membunuh nyamuk malaria dan berhasil menekan kasus malaria di berbagai belahan bumi. Namun belakangan diketahui bahwa ternyata nyamuk telah menjadi kebal dengan DDT dan juga pengaruh negatif DDT terhadap kematian serangga lain yang ternyata secara ekologis berguna bagi manusia. Karena itu DDT akhirnya dilarang dan tindakan penyemprotan rumah untuk tindakan anti malaria menggunakan insektisida lain yang lebih mahal. Akibatnya tindakan penyemprotan merupakan kebijakan paling akhir yang baru bisa diambil jika cara lainnya dianggap gagal dan hanya dalam keadaan kejadian luar biasa atau wabah. Tentunya harus didahului dengan survai entomologis untuk mengetahui secara pasti kebiasaan dan perilaku nyamuk malaria sebelum disemprot.

Pada zaman dulu, klorokuin merupakan obat anti malaria yang paling ampuh yang dipakai untuk mengobati malaria. Dewasa ini, klorokuin juga mulai kehilangan keampuhannya akibat resistensi parasit malaria terhadap klorokuin. Kondisi ini terjadi karena pola pengobatan dan dosis klorokuin yang sering tidak sesuaistandar. Sekarang untuk pengobatan malaria mulai memakai obat baru yang dikenal dengan sebutan artemisinin combination treatment atau ACT. Untuk itu, agar tidak terjadi resisten pengobatan lagi, sangat diharapkan para petugas kesehatan memberikan dosis pengobatan yang tepat dan juga pasien atau masyarakat harus taat minum obat sesuai dosis yang disarankan. Jangan karena merasa sudah sembuh, lantas pengobatan dihentikan. Ini akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan resistensi obat malaria di masa depan.

Cara terakhir untuk mengontrol malaria secara "mudah dan murah" adalah upaya proteksi diri dan keluarga terhadap gigitan nyamuk malaria. Marilah kita secara bersama-sama memperhatikan lingkungan sekitar kita.

Bebaskan rumah dan tempat tinggal kita dari genangan air atau tutuplah tempat-tempat penampungan air yang bisa menjadi sarang nyamuk. Biasakanlah tidur dengan menggunakan kelambu atau baju lengan panjang. Jangan biarkan terjadi kontak antara nyamuk dengan diri Anda. Selanjutnya, jika Anda sakit, cepatlah mencari pengobatan sehingga Anda tidak menjadi sumber penuluran bagi keluarga dan tetangga Anda. Yang paling penting, minumlah obat sesuai dosis yang diberikan sampai habis. Jangan biarkan malaria merongrong kehidupan kita terus. Mari berantas nyamuk untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi kita.

Tidak ada komentar: