Halaman

Sabtu, 17 September 2011

DERMATITIS ATOPIK (ECZEMA)

DERMATITIS ATOPIK (ECZEMA)
Oleh: Triyo Rachmadi, S.Kep.


I. Pengertian

Penyakit peradangan kronis pada kulit yang ditandai adanya pruritus dan cenderung dijumpai pada pasien yang mempunyai riwayat alergi. Jika dijumpai pada bayi, biasanya timbul sesudah usia 2 bulan. Biasanya terdapat riwayat asthma, alergi, rhinitis, dan/atau eksema pada keluarga.

II. Penyebab

Penyebab tidak diketahui. Biasanya merupakan manifestasi sekunder dari adanya pruritus atau garukan pada kulit yang sensitif. Keadaan yang dapat mengawali timbulnya eksema adalah sebagai berikut:

1. Kulit yang kering akibat cuaca dingin

2. Berkeringat akibat panas atau udara yang lembab

3. Kontak kulit dengan makanan/bahan makanan tertentu, misalnya terkena tumpahan jus tomat atau jus jeruk.

4. Bahan pakaian yang iritatif

5. Sabun tertentu

6. Stress.

III. Gambaran Klinis

1. Gejala:

a. Gatal-gatal (pruritus)

b. Capai, hiperaktif, sulit tidur

c. 50 % menunjukkan gejala asthma atau rhinitis alergi.

2. Tanda:

a. Pada bayi

1) erupsi kulit berwarna merah, dapat berupa eritema, papula, vesikula maupun skuama (scaling eruption) yang dapat berkembang menjadi basah atau berkrusta

2) Onset terjadi biasanya sesudah usia 2 bulan

3) Biasanya terjadi pada pipi, kulit kepala, area postaurikuler, leher, daerah fleksi lengan dan tungkai, kadang-kadang pada tubuh dan daerah selakangan.

4) Biasanya musiman.

5) Seringkali bagian yang sakit terdapat bekas gosokan oleh bayi

6) Biasanya akan terjadi perbaikan sebelum usia 30 tahun.

b. Pada anak:

1) Erupsi biasanya kering dan jarang yang basah atau berkrusta, dapat berbentuk papula, maupun skuama.

2) Gatal-gatal dirasakan lebih berat, dan sering terjadi ekskoriasi.

3) Biasanya terdapat pada bagian fleksor dari pergelangan tangan, antekubital, dan daerah politeal.

c. Dewasa muda dan dewasa

1) Biasanya terjadi penebalan kulit yang kering, sehingga garis lipatan kulit menjadi lebih jelas, disertai hiperpigmentasi.

2) Biasanya terjadi pada daerah fleksor dari ekstremitas, sekitar bola mata, leher bagian belakang, dan dorsum manus maupun dorsum pedis.

IV. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak ada pemeriksaan laboratorium, yang lazim dilakukan oleh dokter kulit dan THT adalah untuk mengetahui jenis zat allergen dan membentuk kekebalan.

V. Diagnosis Banding

Untuk menentukan diagnosis Dermatitis perlu disampaikan tentang beberapa penyakit yang mempunyai gejala dan tanda yang hanpir serupa yaitu :

1. Dermatitis seboroika

2. Infeksi jamur pada kulit

3. Kontak dermatitis

4. Penyakit sistemis yang mempunyai manifestasi mirip dengan eksema.

VI. Pengobatan

Untuk pengobatan pada bidan dan perawat perlu lebih ditekankan pada fungsi konseling tentang faktor-faktor alergen yang berpengaruh terhadap penderita yang dapat memacu terjadinya rekasi alergi.

1. Pasien harus menghindari faktor-faktor yang dapat menimbulkan pruritus dan iritasi pada kulit. Berikan nasihat untuk:

a. Lebih banyak berada di tempat sejuk pada musim kemarau, dan tidak banyak pergi ke luar pada musim penghujan

b. Mencegah kekeringan pada kulit, dengan mengurangi penggunaan sabun, gunakan sabun lunak, misalnya dove

c. Mandi dengan air suam-suam kuku

d. Gunakan pakaian dengan bahan dari cotton

e. Pakai alas tidur dari kain cotton

f. Kuku dipotong pendek.

2. Terapi terhadap dermatitis akut:

a. Jika lesi basah dan berkrusta dapat dilakukan kompres dengan kain halus yang dibasahi air bersih pada suhu kamar selama 15 menit 4 kali sehari untuk melunakkan dan menhilangkan krusta, dan mengkontrol reaksi eksudat dan pruritus.

b. Sesudah fase akut dan eksudat dapat dikontrol, dapat diberikan kortikosteroid topikal pada daerah yang sakit

1) hydrocortisone (1%) kream 4-6 kali sehari

2) Pemijatan ringan disekitar daerah yang sakit dapat dilakukan

c. Antihistamin dan sedatif dapat diberikan, misalnya benadryl elixir (12,5 mg/5 ml) dengan dosis:

1) berat badan 8-10 kg : 5 ml 3-4 kali sehari

2) berat badan 10-15 kg : 7,5 ml 3-4 kali sehari

3) berat badan 15-20 kg: 10 ml 3-4 kali sehari

4) berat badan 20-30 kg: 15 ml 3-4 kali sehari

d. Jika terjadi komplikasi infeksi bakterial segera konsultasi pada dokter.

VII. Komplikasi

1. Infeksi sekunder bakterial biasanya streptokokus bethahemoliticus atau

stafilccoccus

2. Infeksi sekunder virus, misalnya herpes simpleks.

VIII. Konsultasi dan Rujukan

1. Jika terjadi infeksi sekunder

2. Jika dalam waktu 2 minggu tidak terjadi perbaikan

IX. Tindak Lanjut

Diminta datang kembali ke klinik sesudah 1 minggu, dan jika perlu secara periodik

TUGAS:

  1. Apa perbedaan utama antara Dermatitis atopik pada dewasa dan anak?
  2. Menurut anda mengapa stress dapat mendorong timbulnya Dermatitis atopik?
  3. Mengapa sabun dapat menyebabkan terjadinya dermatistis atopik ? Jenis sabun apa yang ?
  4. Bagaimana penangangan Dermatitis atopik di puskesmas ? bagiamana terapi tersebut menurut anda ?
  5. Apa kesulitan yang dijumpai dalam mendiagnosis DA ?

Text Box: Latihan :  Setelah anda membaca dan mendalami materi  pokok bahasan 1 jawablah pertanyaan dibawah ini secara singkat dan jelas !!  1. Jelaskan bagaimana terjadinya Dermatts Atopik ?  2. Coba anda jelaskan ulang bagaimana penanganan Dermatits Atopik ? 3. Apa saja komplikasi dari Dermatts Atopik ?  4. Jelaskan apa penyebab dari Dermatitis Atopik ? 5. Komplikas apa yang sering dijumpai?


POKOK BAHASAN 2 : PENATALAKSANAAN PENYAKIT KULIT

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN TINEA PEDIS

WAKTU SESI : 1 JAM PELAJARAN @ 45 MENIT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengelola pasien dengan Tunea pedis

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Tinea pedis
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Tinea pedis
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis diagnosis banding Tinea pedis
  4. Peserta dapat melakukan penanganan Tinea Pedis

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

  1. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan
  2. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu tentang Tinea Pedis

Langkah 3. Curah pendapatm diskusi

  1. Pelatih menyampaikan beberapa atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis dan praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed.), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

TINEA PEDIS

I. Pengertian

Erupsi kulit yang berupa pecah dan mengelupasnya kulit disertai rasa gatal pada kaki terutama di antara jari-jari khaki.

II. Penyebab

Beberapa jenis jamur

III. Gambaran Klinis

1. Gejala: rasa gatal yang sangat pada kulit yang terkena, meskipun kadang-kadang tidak disertai rasa gatal

2. Tanda:

a. Erupsi kulit yang biasanya dimulai pada kulit sela antara jari kaki yang kemudian menyebar ke tapak kaki meluas kesamping tapak kaki

b. Kadang-kadang dijumpai adanya vesikula

c. Kuku jari kaki biasanya menebal dengan adanya debris di bawah kuku

d. Tangan dan lipat paha kadang-kadang juga dijumpai adanya infeksi jamur

IV. Pemeriksaan Laboratorium

1. Dijumpainya hifa jamur pada preparat yang diambil dari kelupasan kulit (skuama) atau puncak vesikula dengan diberikan KOH.

2. Kultur jamur, meskipun tidak perlu dilakukan karena bentuk erupsi kulit sangat tipikal.

V. Diagnosis Banding

1. Dermatitis kontak

2. Sifilis sekunder

3. Psoriasis.

4. Dyshidrosis

5. Neurodermatitis

6. Candidiasis

7. Infeksi bakterial.

VI. Pengobatan

Berikan nasihat kepada pasien untuk mengikuti pengobatan sebagai berikut:

1. Umum:

a. Keringkan bagian sela jari sesudah mandi

b. Gunakan kaos kaki yang dari kapas.

c. Ganti kaos kaki sehari sekali

2. Spesifik:

a. Basahi kaki dengan solutio burowi atau air mengalir 20-30 menit dua kali sehari jika dijumpai adanya vesikula, kemudian keringkan

b. Berikan cream anti jamur seperti pada pengobatan tinea corporis.

VI. Komplikasi

1. Infeksi sekunder bacterial

2. Alergi terhadap antijamur

VIII.Konsultasi dan Rujukan

1. Infeksi sekunder bakterial

2. Tidak menunjukkan adanya respons terhadap pengobatan yang diberikan

3. Adanya infeksi jamur di tempat lain dari tubuh

IX. Tindak Lanjut

Anjurkan pasien untuk kembali 1-2 minggu kemudian jika tidak ada perbaikan.





Tugas:

Diskusikan dalam kelompok anda tugas berikut!

  1. Bagamana membedakan antara Tinea Pedis dan Dermatitis Atopik ?
  2. Bagaimana gejala dan tanda apabila terjadi infeksi sekunder bacteria?
  3. Mengapa anda meminta pasien untuk kembali 1-2 minggu kemudiian ?


Latihan :

Setelah anda membaca dan mendalami materi pokok bahasan jawablah pertanyaan dibawah ini secara singkat dan jelas !!

1. Jelaskan bagaimana cara mendiagnosis Tinea Pedis ?

  1. Coba anda jelaskan ulang bagaimana penanganan Tinea Pedis ?
  2. Apa saja komplikasi dari Tinea Pedis ?
  3. Jelaskan apa penyebab dari Tinea Pedis ?
  4. Komplikas apa yang sering dijumpai?


POKOK BAHASAN 2 : PENATALAKSANAAN PENYAKIT KULIT

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN URTIKARIA

WAKTU SESI : 1 JAM PELAJARAN @ 45 MENIT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengelola pasien dengan Urtikaria

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan diharapkan :

1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Urtikaria

2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Urtikartia

3. Peserta dapat menentukan diagnosis diagnosis banding Urtikaria

4. Peserta dapat melakukan penanganan Urtikaria

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

  1. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan
  2. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu tentang Urtikaria

Langkah 3. Curah pendapatm diskusi

  1. Pelatih menyampaikan beberapa atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis dan praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed.), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

URTIKARIA

I. Pengertian

Plaque atau bilur (bidur) agak menonjol berwarna merah, gatal sebagai akibat adanya reaksi alergi.

II. Penyebab

Urtikaria merupakan reaksi alergi, biasanya karean pemberian obat oral atau per injeksi, makanan, gigitan serangga, inhalant. Kadang-kadang sebagai gejala dari adanya infeksi lain misalnya herpes simpleks, infeksi saluran nafas atas, abses gigi, infeksi tractus urinarius.

III. Gambaran Klinis

1. Gejala:

a. Rasa gatal yang sangat

b. Kadang-kadang dijumpai adanya bekas gigitan/senagatan serangan, parestsi, atau edema (pada bibir, sekitar mata, tangan atau khaki).

2. Tanda

a. Adanya plaque atau bidur yang berwarna merah menonjol dari permukaan kulit dengan pinggir yang tanjam pada tubuh atau anggota tubuh, besarnya ujud kelainan kulit bervariasi besar kecilnya

b. Lesi biasanya akan membaik dalam waktu kurang dari 12 jam, kadang-kadang akan hilang dalam waktu 20-30 menit. Jika lesi tidak hilang sesudah 24 jam biasanya disebabkan karena eritema multiforme atau gigitan serangan pada banyak tempat.

c. Auscultasi pada dada tidak dijumpai adanya kelainan maupun ronchi

IV. Pemeriksaan Laboratorium :

tidak ada

V. Diagnosis Banding

1. Eritema multiforme

2. Manifestasi reaksi anafilaksi

3. Gigitan serangan yang bersifat multipel

4. Dermatitis kontak

5. Eksantema akut.

VI. Pengobatan

1. Jika gambaran klinis menujukkan adanya anafilaksi lakukang pengobatan seperti pada anafilaksi

2. Jika terjadi urtikaria yang menyebar luas dengan gatal yang sangat atau terjadi angioderma, dapat diberikan injeksi epinefrin 1:1000 subkutan:

a. Dosis pediatri: 0,91 cc perkg, maksimum dosis 0,3 cc

b. Dosis dewasa: 0,3 - 0,5 cc

Dosis tersebut dapat diulang tiap 1-2 jam

3. Penggunaan antihistamin oral untuk urtikaria yang ringan atau sebagai kelanjutan sesudah pemberian epinefrin pada kakus urtikaria yang menyebar luas, antihitamin yang dapat diberikan antara lain:

a. Difenhidramin HCL (dosis lihat pada bahasan eksema)

b. Chlorfeniramin maleat (CTM) dengan dosis:

1) Berat badan 10-20 kg diberikan 2,5 cc sirup (2 mg per 5 cc), 4 x sehari

2) Berat badan 20-30 kg diberikan 5 cc sirup atau ½ tablet (4 mg pertablet), 4 x sehari

3) Berat badan 30-40 kg diberikan 5-7,5 cc sirup atau ½ tablet, 4 x sehari

4) Berat badan 40 kg lebih diberikan 5-10 cc sirup atau ½ s/d 1 tablet, 4 x sehari.

5) Hydroxyne Hcl

c. Seldane, 60 mg tiap 12 jam.

4. Selidiki obat atau makanan atau bahan-bahan yang menyebabkan terjadinya urtikaria, upayakan untuk menghindari. Selidiki riwayat makanan, obat,yang dikonsumsi sebelumnya maupun adanya gigitan serangga.

5. Berikan obat anti pruritus topikal jika perlu.

VII. Komplikasi

1. Reaksi sistemik terhadap alergen yang masuk

2. Rasa kantuk akibat pemberian antihistamin, anjutkan untuk tidak mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin)

VIII. Konsultasi dan Rujukan

1. Adanya gejala edema larinks misalnya adanya stridor dan suara yang serak

2. Adanya tanda-tanda anafilaksis

3. Urtikaria yang bersifat kronis atau kambuh yang tidak sembuh-sembuh sampai 6 minggu

IX. Tindak Lanjut

Pasien diminta untuk kembali dalam waktu 48 jam jika tidak ada perbaikan atau timbul tanda dan gejala yang baru.







Text Box: Tugas : Diskusikan dengan rekan anda atau konsultasi dengan dokter pembimbing local mengenai tugas berikut 1. Mengapa pada penderita urtikaria dapat terjadi edema laring ? 2. Mengapa penderita tersebut harus dirujuk kepada dokter atau rumah sakit? 3. Kapan sebaknya dirujuk ? 4. Apakah urtikaria sering dijumpia ? Bagaimana penanganannya di Puskesmas ?


Rounded Rectangle: Latihan: Untuk membantu pemahaman anda dalam belajar, cobalah anda baca  kembali materi tentang urtikaria kemudan tanpa melihat buku  jawablah  pertanyaan berikut ini: 1. Apakah yang dimaksud dengan urtikaria ? 2. Bagaimana gejala dan tanda urtikaria? 3. Apakah komplikasi dari urtikara? 4. Bagaimana penanganan urtikaria?


POKOK BAHASAN 2 : PENATALAKSANAAN PENYAKIT KULIT

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN TINEA VERSIKOLOR

WAKTU SESI : 1 JAM PELAJARAN @ 45 MENIT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengelola pasien dengan Tinea versikolor

TUJUAN INSTRUKSIONALKHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan diharapkan :

1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Tinea versikolor

2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Tinea versikolor

3. Peserta dapat menentukan diagnosis Tinea versikolor

4. Peserta dapat menentukan diagnosis banding Tinea versikolor

5. Peserta dapat menjelaskan penanganan Tinea versikolor

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

a.latih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan

b. :Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

a. Pelatih menjelaskan materi pelatihan

b. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi

c. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu tentang materi

Langkah 3. Curah pendapatm diskusi

a.Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi

b. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas

c. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun lisan dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. .(1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed.), Philadelphia : J. B. Lippincott Company

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia.Vol. 39. Jakarta.

TENIA VERSIKOLOR

I. Pengertian

Infeksi jamur superfisial yang jinak, sering kambuh, dan asimptomatis.

II. Penyebab

Jamur Malassezia furfur (pityosprorum ovale)

III. Gambaran Klinis

1 Gejala: Pasien mengeluh tentang penampilan dirinya sehubungan dengan adanya kelainan kulit, kadang-kadang disertai gatal-gatal ringan.

2 Tanda:

a. Makula yang berbentuk bulatan kecil atau bidang yang luas dengan warna putih, pink, atau coklat biasanya pada tubuh bagian atas baik depan maupun punggung. Ujud kelainan kulit dapat berkembanga ke daerah abdomen, lengan, leher, bahkan muka.

b. Garukan kadang-kadang menimbulkan adanya skuama

c. Kulit yang terkena biasanya tidak berubah coklat jika terkena sinar matahari, dan menunjukkan warna yang lebih muda dibandingkan sekelilingnya. Pada makula yang berwarna coklat akan tampak lebih coklat dibandingkan kulit di sekitarnya.

IV. Pemeriksaan Laboratorium

Preparat dengan KOH yang diambil dari kerokan kulit menunjukkan adanya kelompok spora dan filamen jamur

V. Diagnosis Banding

1. Dermatitis seborhoika

2. Vitiligo

3. Pityriasis alba jika lesi pada muka

VI. Pengobatan

1 Konseling, beritahukan pada pasien bahwa:

a. Penyakit tersebut sering kambuh

b. Penyakit tersebut tidak membahayakan meskipun tidak diterapi

c. Meskipun terapi sudah dilakukan, hipopigmentasi tidak segera hilang, tetapi membutuhkan waktu untuk berwarna sebagai kulit normal.

2. Spesifik:

a. Mandi teratur tiap sore hari

b.Berikan selenium sulfida 2.5 % keseluruh tubuh dari bagian leher sampai ke lutut, hindari daerah ano-genital, biarkan dalam beberapa jam atau semalam. Ulangi setelah 1 minggu

c. Pada kasus yang sering kambuh, dapat diberikan antijamur peroral selama 2-7 hari, misalnya ketonazole misalnya Micoral, Cidoral atau Ketomed 400 mg perhari.

VII. Komplikasi

Iritasi akibat obat yang diberikan, atau obat mengenai mata, atau anogenital

VIII. Konsultasi dan Rujukan

Jika dalam waktu 6-8 minggu tidak terjadi pemulihan kulit dengan warna normal

IX. Tindak Lanjut

Pasien kembali sesuai dengan keinginan pasien.







Tugas :

Setelah anda membaca materi berikut tentunya anda telah dapat memahami dengan cukup mendalam. Untuk membantu anda mengetahui tingkat pemahaman anda cobalah jawab pertanyaan berikut :

  1. .Mengapa dalam tindak lanjut pasien diminta kembali sesuai dengan keinginan pasien , Coba jelaskan ?
  2. Coba anda bedakan antara Dermatitis Seboroik dan Vitiligo dengan Tenia Versikolor? Apa perbedaan prinsipnya ?
  3. Mengapa proses hipopigmentasi baru terjad lama setelah pengobatan ?



TUGAS KELOMPOK

  1. Bagaimana pengalaman anda di puskesmas dalam menangani pasien dengan Tenia Versikolor?
  2. Menurut anda bagaimana keberhasilannya ?
  3. Faktor-faktor apa yang menurut anda menentukan pengoabatannya?
  4. Nasehat apa yang anda berikan ?

LATIHAN:

  1. Sebutkan apa penyebab dari tenia versikolor?
  2. Apa gejala dan tanda penyakit ini ?
  3. Jelaskan apa factor-fektor yang dapat mendorong terjadinya Tenia versikolor ?
  4. Apa terapi yang dapat diberikan ?


POKOK BAHASAN 2 : PENATALAKSANAAN PENYAKIT KULIT

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN HERPES SIMPLEKS

WAKTU SESI : 1 JAM PELAJARAN @ 45 MENIT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengelola pasien dengan Herpes simpleks

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan diharapkan :

1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Herpes simpleks

2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Herpes simpleks

3. Peserta dapat menentukan diagnosis Herpes simpleks

4. Peserta dapat menentukan diagnosis banding Herpes simpleks

5. Peserta dapat melakukan penanganan Herpes simpleks

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

a.latih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan

b. :Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

a. Pelatih menjelaskan materi pelatihan

b. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi

c. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu tentang materi

Langkah 3. Curah pendapatan diskusi

a.Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi

d. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas

e. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 ed ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

HERPES SIMPLEK

I. Pengertian

Erupsi vesikel dari kulit dan membran mukosa yang biasanya dapat dibedakan dalam dua sindom klinis yang berbeda:

1. Herpes simpleks labialis: timbul biasanya pada anak dalam bentuk primer, sedangkan pada dewasa dalam bentuk rekuren dan ringan.

2. Herpes simples progenitalis timbul baik sebagai penyakit primer maupun rekuren pada dewasa yang aktif secara seksual.

II. Penyebab

Ada dua tipe herpesvirus hominus:

1. Tipe 1 biasanya menyerang kulit dan membran mukosa di atas umbilikus

2. Tipe 2 biasanya menyerang kulit dan mukosa di bawah umbilikus.

Sesudah infeksi primer, virus akan menetap secara laten pada sel saraf pada area dari lesi primer.

Dewasa ini pembedaan antara daerah yang diserang di atas/bawah umbilikus menjadi tidak jelas.

III. Gambaran Klinis

1. Tipe 1.

a. Infeksi primer (akut gingivostomatitis): biasanya pada anak.Awal dari infeksi kadang-kadang subklinis dan asimptomatis, atau muncul dengan gejala dan tanda sebagai berikut:

1). Gejala:

a) Rasa pedih dan panas pada bibir, mulut, dan banyak mengeluarkan liur

b) Demam (105 F/........C)

c) Lemas

d) Biasanya selama 1-3 minggu.

2). Tanda:

a) Erupsi vesikula pada mukosa gingiva atau bibir

b) Pecahnya vesikula menimbulkan ulcus yang berwarna abu-abu

c) Peradangan dan bengkak pada gusi atau bibir, yang kadang-kadang berdarah

d) Limfonodi submandibular biasanya membesar

e) Peningkatan suhu tubuh

f) Kadang hanya berupa lesi pada tonsil.

b. Infeksi ulang (rekuren)

1). Gejala:

a) Rasa panas dan sakit pada daerah yang terkena

b) Biasanya tidak ada gejala sistemik kecuali ada penyakit lain

c) Faktor pencetus: trauma fisik, demam, atau terkena panas matahari

d) Perjalanan penyakit biasanya selama 10-14 hari

2). Tanda:

Vesikula dan ulkus pada sekitar garis bibir

2. Tipe 2.

a. Infeksi primer:

1) Tanda:

a) Inkubasi 3-7 hari

b) Perasaan tidak nyaman ringan sampai berat

c) Kadang-kadang diawali dengan terjadi perestesi dan rasa panas

d) Pada keadaan lanjut diserta rasa sakit pada vulva atau penis

e) Biasanya terjadi disuria atau retensi urin

f) Pembengkakan pada daerah yang terinfeksi

g) Kadang terjadi disparenia

h) Demam, sakit kepala, dan lesu.

2) Gejala:

a) Indurasi papula atau vesikula dengan eritema disekelilingnya, yang kadang bergabung menjadi ulkus yang lebar

b) Lokasi pada vulva, lipatan genitocrural, kulit perianal, mukosa vagina dan serviks pada wanita, meatus urethra dan penis pada pria

c) Dapat terjadi macerasi

d) Edema

e) Lymfadenopati inguinal

f) Demam ringan

g) Pada pria kadang terjadi urethra discharge

h) Kadang terjadi penggabungan lesi dalam bentuk lepuh atau erosi yang berbentuk melingkar pada daerah genital

b. Infeksi ulang

1) Gejala:

a) Simptom sama dengan infeksi primer tetapi biasanya lebih ringan

b).Reaktifasi virus yang laten biasanya berhubungan dengan demam, ketegangan premenstruasi, atau aktifitas seksual yang berlebihan.

2) Tanda:

a) Lesi ditemukan pada lokasi yang sama pada infeksi primer

b) Tanda biasanya lebih ringan

c) Lesi pada awalnya berupa visikula, dan cenderung menjadi ulkus.

IV. Pemeriksaan Laboratorium

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda, meskipun pemeriksaan virologi untuk menentukan jenis virus sudah dapat dilakukan.

V. Diagnosis Banding

1. Varicella

2. Faringitis

3. Tonsilitis

VI. Pengobatan

1. Tipe 1:

a. Infeksi primer:

1) Umum:

a). Pemberian acetaminofen atau aspirin untuk mengurangi rasa sakit dan menurunkan demam.

b). Gunakan larutan garam isotonis untuk kumur

c). Pada daerah lesi dapat diberikan anestesi topikal misalnya lidokain cair

d). Perhatikan intake cairan, hindari jus jeruk atau soda.

e). Hindari kontak fisik dengan pasien

2) Khusus: acyclovir oral.

b. Infeksi ulang:

1). Umum:

a). Berikan substansi pengering (misalnya Blistex atau Debrox ) 3-4 kali sehari

b). Hindari kontak fisik dengan pasien

2). Khusus: acyclovir oral

2. Tipe 2:

a Infeksi primer:

1). Umum:

a). Berikan acetaminofen atau aspirin

b). Bilas dengan air suam kuku jika diperlukan

c). Anestesi topikal bisa diberikan

d). Anjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual

e). Hindari kontak fisik dengan pasien.

2). Khusus: Acyclovir oral 200 mg 5 x sehari selama 10 hari, atau cream acyclovir 5 % 4-5 kali sehari.

b. Infeksi ulang:

Pemberian oral acyclovir ( obat paten misalnya Acifar, Azofir atau

Scanofir) secara intermiten dapat dilakukan.

VII. Komplikasi

1. Penularan pada bagian lain dari tubuh:

a. Conjunctivitis

b. Keratitis

c. Erupsi vesikula seluruh tubuh

2. Infeksi sekunder bakteri

3. Dehidrasi pada bayi dan anak karena kurangnya intake cairan

4. Penularan pada pasien lain yang berisiko.

VII. Konsultasi dan Rujukan

1. Conjunctivitis

2. Pusing kepala yang terus menerus, muntah, fotofobi, kejang, atau diduga adanya encefalitis

3. Infeksi terjadi pada ibu hamil aterm

4. Infeksi yang berat

5. Intake cairan yang kurang sehingga terjadi dehidrasi

6. Adanya infeksi sekunder.

IX. Tindak Lanjut

Pasien diminta datang kembali 1 minggu kemudian terutama jika terjadi:

1. Gangguan pada mata

2. Infeksi sekunder bakteri

3. Intake cairan yang kurang

Text Box: Tugas Diskusikan dalam kelompok mengenai: 1. Mengapa pasien diminta datang kembali jika terjadi gangguan pada mata ? 2. Mengapa pemberian kortikosteroid tidak diperbolehkan  pada pasin dengan Herpes Simplek ? 3. Bagaimana terjadinya reaktivas virus oleh karena aktivtas seksual yang berlebihan ?


POKOK BAHASAN 2 : PENATALAKSANAAN PENYAKIT KULIT

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN HERPES ZOOSTER

WAKTU SESI : 1 JAM PELAJARAN @ 60 MENIT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengelola pasien dengan Herpes Zooster

TUJUAN INSTRUKSIONALKHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Herpes Zooster
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Herpes Zooster
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis Herpes Zooster
  4. Peserta dapat menentukan diagnosis banding Herpes Zooster
  5. Peserta dapat melakukan penanganan Herpes Zooster

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

a.latih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan

b. :Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

a. Pelatih menjelaskan materi pelatihan

b. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi

c. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu tentang materi

Langkah 3. Curah pendapatm diskusi

a.Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi

a.Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas

b.Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. 4 Ed. Philadekphia: J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

HERPES ZOOSTER

I. Pengertian

Biasanya merupakan erupsi vesikular yang bersifat unilateral sepanjang dermatom yang diinervasi oleh serabut syaraf yang terinfeksi. Diperkirakan terjadi karena reaktivasi dari virus varicella.

II. Penyebab

1. Reaktivasi dari virus varicella

2. Pada pasien tertentu, terutama pada pasien dengan gangguan kekebalan mempunyai tendensi untuk terjadinya herpes zoster, antara lain:

a. Pasien yang menderita limfoma (misalnya pada hodgkin’s disease)

b. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid

c. Pasien yang mendapat terapi imunosupresive

d. Pasien dengan diseminasi keganasan

e. HIV yang asimptomatik.

III. Gambaran Klinis

1. Gejala:

a. Demam

b. Rasa sakit yang cukup berat sepanjang dermatom. Rasa sakit timbul biasanya 3-5 hari sebelum timbulnya ruam yang berwarna merah. Pada anak sering kali tidak dijumpai rasa sakit.

2. Tanda

a. Erupsi dimulai dengan makula berwarna merah, kemudian secara bertahap timbul papula, vesikula, pustula, dan krsta, kemudian akan membaik sesudah 2-4 minggu.

b. Vesikula muncul dalam bentuk berkelompok (rumpun) pada minggu pertama.

c. Bersifat unilateral.

d. Rasa sakit dan erupsi mengikuti dermatom syaratf yang terinfeksi.

e. Biasanya yang terkena adalah pada syaraf daerah servikal dan thoraks.

IV. Pemeriksaan Laboratorium

Tidak ada.

V. Diagnosis Banding

1. Rasa sakit yang timbul sebelum terjadi ruam berwarna merah sulit dibedakan dengan penyebab lain yang menimbulkan rasa sakit pada daerah yang sama.

2. Impetigo

3. Herpes simpleks.

VI. Pengobatan

Berikan nasihat kepada pasien:

1. Umum:

a. Untuk meminum acetaminofen atau aspirin untuk mengurangi demam dan rasa sakit.

b. Gunakan air dingin atau solutio burowi untuk membasahi vesikula atau membersihkan krusta. Dapat juga diolesi dengan calamine lotion.

c. Hindari kontak dengan orang lain

2. Terapi spesifik:

Pemberian asiclovir peroral misalnya Acifar, Azufir atau Scanofir.

VII. Komplikasi

1. Penyebaran infeksi: 50 % terjadi pada penderita Hodgkin’s, jarang terjadi pada pasien yang tidak mengalami problem imun.

2. Superinfeksi bakterial

3. Postherpetic neuralgia biasanya timbul pada pasien dengan usia diatas 50 th.

VIII. Konsultasi dan Rujukan

1. Pasien yang mendapat terapi steroid atau obat imunosupresive, pasien dengan usia di atas 50 tahun.

2. Pasien dengan Hodgkin’s disease.

3. Gejala masih tetap timbul sesudah 2 minggu.

4. Superinfeksi bakterial

5. Penyebaran pada daerah muka dengan risiko tertularnya bagian mata.

6. Infeksi mengenai mata.

IX. Tindak Lanjut

Dianjurkan kembali jika dalam waktu 2 minggu tidak terjadi perbaikan

TUGAS

  1. Apa yang membedakan antara Herpes simplek dan Herpes zooster ?
  2. Mengapa pasien Herpes dengan pengobatan kortikosteroid harus dirujuk?
  3. Mengapa penderita perlu menghindari kontak dengan orang ?
  4. Mengapa penyebarannya hanya uni lateral ?


Meng

Latihan:

Untuk meningkatkan pemahaman anda dengan tanpa membuka buku jawab pertanyaan berikut :

  1. Apa gejala dan tanda penyakit ini?
  2. Apa komplikasi dari penyakit ini?
  3. Apa komplikasi yang terberat ?
  4. Bagaimana terapi penyakit ini ?
  5. Kapan anda harus merujuk ?


POKOK BAHASAN 2 : PENATALAKSANAAN PENYAKIT KULIT

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN SKABIES

WAKTU SESI : 1 JAM PELAJARAN @ 60 MENIT

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengelola pasien dengan Skabies

TUJUAN INSTRULSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti pelatihan diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Skabies
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Skabies
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis Skabies
  4. Peserta dapat menentukan diagnosis banding Skabies

5. Peserta dapat melakukan penanganan Skabies

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

a.latih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan

b. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

d. Pelatih menjelaskan materi pelatihan

e. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi

f. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu tentang materi

Langkah 3. Curah pendapatm diskusi

a.Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi

b.Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas

c.Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. 4 ed. J. B. Lippincott Company. Philladelphia

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

SKABIES

I. Pengertian

Ruam yang gatal yang disebakan oleh kutu sarcoptes scabiei.

II. Penyebab

1. Lesi awal berupa liang sepanjang 0,5 sampai 2 cm dengan papula dan vesikula pada ujungnya, dan tidak gatal. Setelah beberapa hari sensitifitas terhadap kutu tersebut menimbulkan rasa gatal yang sangat yang berakibat ekskoriasi karena garukan, kadang-kadang timbul gejala seperti impetigo atau eksema pada daerah lesi. Ruam dan rasa gatal keseluruh tubuh seringkali terjadi.

2. Kutu berpindah ke orang lain akibat kontak personal. Meskipun kutu tersebut tidak hidup lama pada pakaian atau tempat tidur, tetapi penyakit ini banyak dijumpai pada orang dengan personal higiene yang buruk atau tinggal bersama dalam linkungan yang padat.

III. Gambaran Klinis

1. Gejala

Gatal yang sangat terutama pada malam hari.

2. Tanda

a. Karakteristik dengan adanya liang yang berupa garis yang halus sepanjang 0,5-2 cm, dengan papula atau vesikula pada ujungnya. Seringkali garis tipis tersebut tidak dapat dilihat karena ekskoriasi kulit akibat garukan.

b. Karakteristik lokasi dari lesi

1) Pada pria:

a) Lekuk interdigital, pergelangan tangan (85 % kasus).

b) Lengan bawah, genitalia, pergelangan kaki, dan khaki.

2) Pada wanita: sama seperti pria ditambah pada daerah telapak tangan dan puting susu.

3). Pada anak:

a) Telapak tangan.

b) Telapak kaki

c) Kepala

d) Leher

e) Tungkai

f) Pantat.

4). Pada bayi: lokasi lesi tidak tipikal.

3. Perubahan sekunder:

a. Ekskoriasi

b. Pustula dan krusta akibat infeksi sekunder bakteri

c. Eksema yang berair atau skuama atau keduanya.

III.Pemeriksaan Laboratorium

Dengan mengerik papula atau vesikula kemudian ditempatkan pada objekglas yang ditetesi dengan mineral oil untuk dilihat di bawah mikroskop akan tampak kutu sarcoptes scabiei.

IV. Diagnosis Banding

1. Impetigo

2. Eksema

3. Urtikaria.

V. Pengobatan

1. Pengobatan spesifik:

a. Kream atau lotion: gamma benzene hexachlorida 1 % dilumurkan pada seluruh tubuh mulai dari leher ke bawah, tidak hanya pada yang tampak ada lesinya. Hindarkan agar tidak mengenai mata dan membran mukosa. Sebelum melumurkan lotion/kream, mandi air hangat dengan sabun, gunakan sikat yang halus, dan keringkan dengan handuk. Setelah tubuh dilumuri kream atau lotion, biarkan selama 8 jam, kemudian mandi kembali dengan air hangat.

b. Kream Crotamiton 10 %: dilumurkan seperti pada 1, diamkan 24 jam, ulangi lumurkan lagi, diamkan 24 jam, baru kemudian mandi air hangat.

1) Memperbaiki personal hygiene.

2) Anggota keluarg dan pasangan seksual harus mendapat terapi yang sama

3) Antihistami oral dapat diberikan untuk mengurangi gatal.

VI. Komplikasi

1 Infeksi sekunder bakterial

2 Eksema

3 Reaksi terhadap gamma benzene hexachloride: dermatitis atau toksisitas pada SSP (konvulsi)

4 Kesalahan pemberian terapi karena salah diagnosis dapat memperberat keadaan.

VIII.Konsultasi dan Rujukan

1 Tidak ada respons terhadap terapi yang diberikan,

2 Catatan: gejala dan tanda masih akan dijumpai dalam beberapa minggu karena reaksi hipersensitif terhadap kutu

3 Eksema

4 Infeksi sekunder bakterial

IX. Tindak Lanjut

Pasien dianjurkan untuk datang kembali jika tidak ada perbaikan, atau jika penyakit kambuh kembali.





Tugas!

Untuk meningkatkan wawasan anda cobalah anda jawab pertanyaan berikut dengan berdiskus atau dengan buku-buku yang tersedia:

  1. Mengapa pasangan seksual juga harus diobati? Disebut apakah kejadian tersebut ? Bagaiamana apa bila tidak dilakukan pengobatan terhadap pasangan ?
  2. Mengapa reaksi gatal banyak terjadai pada malam hari? Bagaiamana mekanisme terjadnya gatall?
  3. Mengapa lokasi lesi sering didaerah lipatan misalnya daerah putting susu ?


LATIHAN

  1. Apa penyebab dari penyakit ini?
  2. Bagaimana gejala dan tanda dari penyakit ini?
  3. Apa diagnosis bandingnya ?
  4. Bagaiamana terapinya ?