Halaman

Minggu, 28 Agustus 2011

Pengaruh Ekologi terhadap Penyakit Menular

Pengaruh Ekologi terhadap Penyakit Menular


Wabah Flu Burung (Avian Influenza, AI) kembali lagi muncul. Kali ini virus H5N1 ditemukan di Kamboja, dan menjadikan

negara ini sebagai negara ke-6 di Asia yang mengalami serangan virus H5N1 ini. Sebelumnya virus ini juga telah

merenggut nyawa 3 bocah di Vietnam, dan menginfeksi tiga orang warga negara Malaysia. Padahal pada saat wabah

Flu Burung melanda kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur pada awal tahun 2004 yang lalu, Kamboja dan Malaysia

adalah Negara yang bebas dari wabah ini.

Hampir semua negara yang dilanda wabah H5N1 pada awal tahun ini telah menyatakan bahwa negara mereka telah

bebas dari virus H5N1. Namun pada kenyataannya virus ini kembali datang. Kedatangan virus ini menimbulkan rasa

takut, karena tidak tertutup kemungkinan virus kali ini adalah virus yang lebih berbahaya dan lebih ganas, karena sesuai

dengan perjalanan waktu virus ini bisa berubah menjadi virus yang mempunya daya penularan dari manusia ke manusia.

Jika ini terjadi, diperkirakan akibat yang akan timbul akan melebihi wabah “Spanish Flu” yang terjadi di Eropa pada tahun

1918-1919. Wabah influenza yang terbesar dalam sejarah dunia ini disebabkan oleh virus influenza tipe H1N1, dan telah

menelan 20 juta korban jiwa. Angka ini lebih besar dari jumlah orang yang meninggal akibat Perang Dunia I. Oleh karena

itu, kita seharusnya selalu waspada, karena wabah pada umumnya akan datang secara berulang. Hampir tidak ada

wabah yang hanya terjadi satu kali.

SARS merupakan contoh nyata yang masih belum hilang dari ingatan kita. Setelah wabah SARS terjadi secara besarbesaran,

dinyatakan bahwa kita telah bebas dari SARS. Namun beberapa saat kemudian, virus SARS kembali datang

dan menimbulkan beberapa kasus di Cina, Hongkong, dan Singapura. Ekologi dan Penyakit Menular Apakah munculnya

wabah-wabah ini, terutama wabah penyakit baru (new emerging diseases) ada hubungannya dengan perubahan

ekologi? Walaupun sebagian kita barangkali mempercayainya, namun masih banyak diantara kita yang belum

meyakininya. Hal ini disebabkan karena selama ini tidak ada bukti langsung yang menjelaskan adanya hubungan

tersebut. Jarangnya sekali studi yang dilakukan untuk pembuktian hal tersebut.

Namun baru-baru ini hasil studi membuktikan bahwa perubahan ekologi berpengaruh terhadap penyebaran penyakit

menular. Perubahan iklim seperti kenaikan suhu udara akibat polusi CO2 dan penebangan hutan yang tidak beraturan

telah memicu penyakit-penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim, seperti penyakit yang ditularkan oleh parasit

atau vektor lainnya. Dengan kata lain, perubahan iklim ini secara langsung berhubungan dengan distribusi parasit dan

vektor ini, yang pada akhirnya berhubungan dengan penyebaran penyakit menular. Hal ini dibuktikan oleh Vanina

Guernier dan koleganya. Dari hasil studinya, tim peneliti dari Prancis ini telah membuktikan bahwa faktor iklim

merupakan determinan terhadap distribusi patogen yang pada akhirnya mempengaruhi distribusi penyakit pada manusia

(Guernier et al, 2004). Berdasarkan data epidemiologi dari 332 patogen yang dikumpulkan dari 224 negara, Guernier dan

koleganya menyimpulkan bahwa distribusi patogen yang menyebabkan penyakit pada manusia jauh lebih banyak di

kawasan tropis dari pada kawasan yang nontropis. Selain jumlah, jenis patogen juga lebih beragam di daerah tropis

dibandingkan daerah nontropis. Lebih lanjut, tim ini juga menemukan bahwa patogen yang ada di kawasan nontropis

adalah bagian dari pathogen yang ada di kawasan tropis. Dengan peningkatan suhu bumi akibat penggundulan hutan

dan pencemaran udara, kawasan tropis semakin luas. Kawasan yang tadinya tidak termasuk kawasan tropis menjadi

kawasan tropis. Hal ini akan mengakibatkan distribusi patogen semakin meluas, sehingga penyebaran penyakit ke

berbagai kawasan akan semakin mudah.

Hasil studi ini, selain berguna untuk prediksi wabah penyakit, juga mengingatkan kita akan akibat buruk dari peningkatan

suhu bumi akibat ulah buruk manusia. Deforestrasi dan penyebaran AIDS Selain mempengaruhi distribusi patogen, lebih

detil lagi deforestrasi juga mempengaruhi penyebaran penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Di

Kamerun, ditemukan orang dengan gejala AIDS, tetapi di dalam tubuhnya tidak ditemukan baik virus HIV (Human

Immunodeficiency Virus) itu sendiri maupun virus SIV (Simian Immunodeficiency Virus), virus sejenis HIV yang

menyerang monyet. Diperkirakan bahwa telah terjadi sirkulasi virus baru mirip HIV pada hewan liar dan menginfeksi

manusia yang memakannya atau berinteraksi dengannya. Hal ini dikatakan ahli Biologi Konservasi pada pertemuan

tahunan Masyarakan Biologi Konservasi di Columbia University, New York, awal bulan Agustus yang lalu. Mereka

mengatakan bahwa bahwa deforestrasi dan perdagangan hewan liar mengakibatkan munculnya penyakit baru. Hal ini

disebabkan karena deforestrasi dan perdagangan hewan liar ini memberikan peluang adanya kontak langsung antara

manusia dan hewan liar tersebut yang berkemungkinan membawa patogen baru. Walaupun perdagangan hewan liar

bukanlah satu-satunya penyebab munculnya penyakit menular baru yang pindah dari hewan kepada manusia, tetapi

merupakan salah satu faktor yang peranannya tidak bisa diabaikan. Kenapa tidak. Perdagangan hewan merupakan

bisnis global dengan nilai miliaran dolar. Pada tahun 2002 saja, lebih dari 38 ribu mamalia, 365 burung, 2 juta reptile, 49

juta ampibi, dan 216 juta ikan telah diimpor dan diperdagangkan di Amerika Serikat. Pada tahun 2003, virus monkeypox

HSE Forum - Memasyarakatkan K3LH di Indonesia

http://hseforum.info Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Jrvuelyd, 2008, 10:10

(pox monyet) pindah dari anjing piaraan kepada manusia, padahal virus ini sebelumnya tidak menginfeksi anjing, tetapi

hanya bisa menginfeksi manusia dan monyet. Virus ini pindah dari monyet kepada manusia setelah manusia memburu

dan memakan monyet. Karena itu, kontak langsung dengan hewan liar juga menimbulkan sirkulasi dan perpindahan virus

dari hewan kepada manusia. Oleh sebab itu, salah satu bentuk usaha untuk mengurangi sirkulasi dan penyebaran virus

diantara manusia dan hewan perlu dilakukan pengurangan deforestrasi dan pembatasan perdagangan hewan liar.

Semoga kita bisa memperhatikan hal ini untuk pencegahan munculnya penyakit baru.

******

Lisensi Dokumen:Copyright © 2004 K3LH.Com - 2007 HSEForum.info

Seluruh dokumen di K3LH.Com (HSEForum.info) dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas untuk

tujuan bukan komersial (nonprofit), dengan syarat tidak menghapus atau merubah atribut penulis dan pernyataan

copyright yang disertakan dalam setiap dokumen. Tidak diperbolehkan melakukan penulisan ulang, kecuali

mendapatkan ijin terlebih dahulu dari K3LH.Com. (HSEForum.info)

HSE Forum - Memasyarakatkan K3LH di Indonesia

http://hseforum.info Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Jrvuelyd, 2008, 10:10

SEBAGAI salah satu penyakit reemerging (menular kembali secara massal), malaria hingga saat ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang tinggal di daerah tropis dan subtropis. Di dua kawasan tersebut, malaria sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) dengan jumlah kematian mencapai lebih dari satu juta orang setiap tahunnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, KLB malaria kembali menimpa daerah-daerah endemis malaria di sejumlah daerah tanah air. Yang perlu menjadi perhatian adalah terdapatnya KLB malaria di daerah-daerah yang sudah jarang terjadi kasus malaria selama beberapa tahun. Hal ini terjadi karena lemahnya sistem kewaspadaan dini serta perencanaan pemberantasan malaria yang tidak dilakukan secara tepat dan berkesinambungan.

Salah satu daerah yang belum terbebas dari penyakit malaria adalah Jawa Barat. Penyebabnya, selain karena faktor mobilitas penduduk yang tinggi, juga karena kondisi alam yang memungkinkan banyaknya tempat perindukan nyamuk seperti hutan, lagun di sepanjang pantai dan tambak yang terlantar. Jabar memiliki daerah reseptif endemis malaria yakni daerah dengan KLB tinggi, khususnya di sepanjang Pantai Selatan seperti Kab. Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi.

Yang cukup mengejutkan, jika sebelumnya penyakit malaria lebih banyak disebabkan oleh nyamuk spesies Anopheles sundaicus yang hidup di sawah dan daerah lagun/tepi pantai, kini muncul nyamuk tipe gunung (Anopheles balabacencis) dan tipe hutan (Anopheles maculatus) yang lebih ganas. “Bukan saja lebih ganas menggigit manusia, nyamuk gunung dan hutan ini juga relatif lebih tahan terhadap insektisida yang biasa digunakan sehingga untuk mengendalikannya butuh insektisida baru,” kata Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang Depkes, dr. Thomas Suroso, MPH.

Dengan asumsi bahwa kini muncul nyamuk spesies Anopheles maculatus dan Anopheles balabacencis yang lebih ganas, sementara pada saat yang sama tingkat kewaspadaan penduduk terhadap penyakit malaria mulai menurun, maka bisa dikatakan sebagian penduduk Jabar kini dalam posisi terancam. Belum lagi adanya peningkatan aktivitas manusia yang cenderung merusak keseimbangan lingkungan seperti membabat hutan atau pengalihfungsian pantai, kian mendekatkan pada ancaman tersebut. Yang paling terancam adalah penduduk yang bermukim dekat hutan, daerah endemis, para turis atau mereka yang sering keluar masuk hutan.

Hasil studi epidemiologi lingkungan memperlihatkan, tingkat kesehatan masyarakat atau kejadian suatu penyakit dalam suatu kelompok masyarakat merupakan resultante dari hubungan timbal balik antara masyarakat itu sendiri dengan lingkungan. Pada gilirannya, sebagai unsur yang terlibat langsung dalam hubungan timbal balik tersebut, apapun yang terjadi sebagai dampak dari proses interaksi berupa perubahan lingkungan akan menimpa dan dirasakan masyarakat.

Dalam kasus penyebaran penyakit malaria, kita seringkali melupakan akar masalah mengapa penyakit tersebut bisa tersebar dan malah menimbulkan KLB yang menelan korban jiwa. Sejauh ini permasalahan masih berkutat pada bagaimana mengobati orang yang sakit malaria atau memberantas nyamuk sebagai vektor bagi penyebaran parasit plasmodium yang menyebabkan tubuh seseorang menjadi sakit. Karenanya, meski dalam satu kasus program pemberantasan penyakit malaria dianggap sukses, namun beberapa waktu kemudian–ketika semua orang melupakannya–penyakit itu malah muncul kembali dengan ancaman yang lebih besar.

Meski belum ada penelitian resmi mengenai kehadiran spesies baru nyamuk malaria, sejumlah pihak merasa yakin, setidaknya curiga kemunculan spesies baru nyamuk Anopheles yang lebih ganas dan berbahaya bukan sesuatu yang mustahil. “Belum ada penelitian yang hasilnya menjelaskan mengenai adanya spesies baru nyamuk Anopheles,” kata Willy Purnawarman, SKM Kes, Penanggungjawab Progam Malaria Dinas Kesehatan Jabar.

Berkaitan dengan penyebaran malaria, ada tiga faktor utama yang saling berhubunga yakni host (manusia/nyamuk), agent (parasit plasmodium) dan environment (lingkungan). Penyebaran malaria terjadi apabila ketiga komponen tersebut mendukung. Sebagai host intermediate, manusia bisa terinfeksi oleh agent dan merupakan tempat berkembangbiaknya agent. Semua itu dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya, gaya dan cara hidup, hereditas (keturunan), status gizi dan tingkat imunitas.

Menyangkut usia, anak-anak merupakan kelompok paling rentan terkena infeksi parasit malaria. Meski tidak mengenal perbedaan jenis kelamin, infeksi pada ibu yang sedang hamil menyebabkan anemia berat. Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk memiliki kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositas. Hal ini tidak dimiliki oleh ras kulit putih. Orang yang pernah terinfeksi sebelumnya lebih tahan terhadap infeksi malaria.

Demikian pula dengan cara hidup, berpengaruh terhadap penularan, misalnya tidur dengan kelambu relatif lebih aman dari infeksi parasit. Sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria erat berhubungan dengan infeksi malaria, meski biasanya memiliki imunitas alami sehingga lebih tahan. Sedangkan orang dengan status gizi rendah juga bisa lebih rentan terkena infeksi parasit dibandingkan orang berstatus gizi baik.

Perilaku nyamuk Anopheles sebagai host definitive, sangat menentukan proses penularan malaria, seperti tempat hinggap/istirahat yang eksofilik (senang hinggap di luar rumah) dan endofilik (suka hinggap di dalam rumah), tempat menggigit yakni eksofagik (menggigit di luar rumah) dan endofagik (lebih suka menggigit di dalam rumah), obyek yang digigit yakni antrofilik (manusia) dan zoofilik (hewan).

Sedangkan faktor lingkungan yang cukup memberi pengaruh antara lain lingkungan fisik seperti suhu udara, kelembaban, hujan, angin, sinar matahari, arus air, lingkungan kimiawi, lingkungan biologi (flora dan fauna) dan lingkungan sosial budaya. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena ia dapat menghalangi sinar matahari.

Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah (Panchax spp.), gambusia, nila mujair dll akan mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Selain itu, adanya ternak besar seperti sapi atau kerbau dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila kandang hewan tersebut diletakkan di luar rumah, tidak jauh dari rumah.

Dalam kasus-kasus tertentu, kehidupan nyamuk di habitatnya, entah di pantai, hutan atau gunung sudah demikian harmonis dan mengikuti keseimbangan alam. Nyamuk hutan atau gunung misalnya, mereka sebelumnya cukup memenuhi kebutuhan darahnya untuk keperluan pertumbuhan telurnya dari darah binatang yang ada di hutan. Tanpa harus mengejar manusia. Manusia pun relatif terhindar dari gigitan nyamuk.

Namun, seiring dengan rusaknya lingkungan ekosistem hutan, kehidupan dan keseimbangan alami tempat hidup mereka pun terganggu. Nyamuk pun mencari sumber dan lokasi kehidupan baru. Orang-orang sehat yang keluar masuk hutan, terpaksa harus menerima gigitan dan pulang membawa parasit di dalam darahnya. Demikian pula penduduk yang bermukim di sekitar hutan, menjadi sasaran terdekat nyamuk-nyamuk hutan yang mencari sumber kehidupan mereka.

Penduduk yang berada jauh dari daerah endemik pun bukannya tanpa risiko ancaman. Meski kecil, risiko tertular parasit malaria tetap ada. Dalam kasus ini, faktor mobilitas penduduk memegang peran penting. Penduduk yang berasal dari daerah non endemis lalu masuk ke daerah endemis dan digigit nyamuk yang mengandung parasit, otomatis akan tertular parasit. Jika ia pindah ke daerah asalnya, ia pun menjadi vektor yang siap menyebarkan parasit ke orang lain. Jika di daerah asalnya tidak ada nyamuk Anopheles, maka ia sendiri yang terjangkit parasit. Namun jika di daerahnya terdapat nyamuk Anopheles, parasitnya akan menyebar ke orang lain.

Lingkungan sosial budaya dinilai punya peran luar biasa besarnya dalam penularan penyakit malaria. Kebiasaan buruk sebagian masyarakat kita untuk berada di luar rumah sampai larut malam di mana vektor lebih bersifat eksifilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk.

Penggunaan kelambu, kawat kasa pada rumah dan penggunaan zat penolak nyamuk (repellent) yang intensitasnya berbeda sesuai dengan perbedaan status sosial masyarakat, akan mempengaruhi angka kesakitan malaria. Faktor yang cukup penting pula adalah pandangan masyarakat di suatu daerah terhadap malaria. Jika malaria dianggap sebagai suatu kebutuhan yang mendesak utnuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan dilaksanakan secara spontan oleh masyarakat.(Muhtar/”PR”).***Pikiran Rakyat Cyber Media, 09 Januari 2003

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/09/cakrawala/utama1.htm

Kategori: Malaria

← Older Entries

Malaria, pembunuh terbesar sepanjang abad

Oleh Ermi ML Ndoen *

MALARIA kembali memakan korban. Dalam dua minggu terakhir Pulau Sabu dan Pulau Semau menjadi saksi kembali mengganasnya penyakit yang telah berumur ribuan tahun ini. Tercatat, tidak kurang dari 1.730 orang Sabu (Pos Kupang 06/05) dan 556 orang Semau (Pos Kupang 05/05) positif malaria. Dari jumlah ini sedikitnya delapan bocah di Desa Uitiuana, Kecamatan Semau, akhirnya menyerahkan nyawanya direnggut keganasan penyakit ini.

Kejadian luar biasa malaria di Kabupaten Kupang akhir-akhir ini juga merupakan suatu pukulan yang sangat berat bagi sektor kesehatan dan masyarakat NTT tentunya — di tengah tingginya beban ekonomi sehari-hari dan pro kontra naiknya tarif berobat di Rumah Sakit Umum Prof. Yohanes-Kupang. Kejadian kali ini juga merupakan suatu tamparan bagi Kabupaten Kupang, karena di kabupaten inilah enam tahun yang lalu, tepatnya pada 8 April 2000, bertempat di Desa Babau, Dr. Achmad Sujudi, Menteri Kesehatan RI saat itu — didampingi Kepala Perwakilan WHO untuk Indonesia Dr. Georg Petersen - mencanangkan dimulainya Gerakan Berantas Kembali Malaria atau "GEBRAK MALARIA" secara nasional. Suatu gerakan nasional yang diharapkan dapat menekan penyakit malaria dengan melibatkan berbagai komponen atau elemen masyarakat. Namun ternyata gerakan ini masih belum berhasil mengontrol kasus malaria. Suatu momen sejarah yang sebenarnya harus dikenang secara manis, ternyata harus diperingati dengan kenyataan pahit. Malaria kembali menjadi masalah di kawasan ini.

Penyakit malaria tidak hanya menjadi masalah Kabupaten Kupang. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyakarat utama di seluruh dunia. Dalam buku The World Malaria Report 2005, Badan Kesehatan Dunia (WHO), menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500 juta orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap kematian sekitar 1 juta orang setiap tahunnya. Diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria. Malaria juga bertanggung jawab secara ekonomis terhadap kehilangan 12 % pendapatan nasional, negara-negara yang memiliki malaria.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan 50 persen penduduk Indonesia masih tinggal di daerah endemis malaria. Menurut perkiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria terjadi setiap tahunnya di Indonesia, dengan 30.000 kematian. Survai kesehatan nasional tahun 2001 mendapati angka kematian akibat malaria sekitar 8-11 per 100.000 orang per tahun. United Nation Development Program (UNDP,2004) juga mengklaim bahwa akibat malaria, Indonesia sedikitnya mengalami kerugian ekonomi sebesar $ 56,6 juta pertahun.

Secara nasional, Propinsi NTT merupakan propinsi dengan angka kesakitan malaria tertinggi. Data Depkes RI tahun 2005 menunjukkan bahwa NTT memiliki angka kesakitan malaria 150 per 1.000 orang per tahun, diikuti oleh Papua, 63,91 kasus per 1000 penduduk per tahun. Di tahun 2004, dilaporkan tidak kurang dari 711.480 kasus malaria klinik terjadi di NTT, dimana 20% dari 75.000 slide darah yang diperiksa positif malaria. Bahkan data Depkes (2000) menunjukkan bahwa tidak kurang dari 73% kasus yang diobati di puskesmas dan rumah sakit di NTT adalah malaria. Dinas Kesehatan NTT juga mencatat bahwa khusus untuk Kabupaten Kupang, rata-rata kasus malaria klinis dari tahun 2002-2004 mencapai 181 kasus per 1.000 orang pertahun, bahkan di tahun 2004 mencapai 205 kasus per 1.000 orang pertahun. Angka ini menunjukkan bahwa untuk daratan Timor, Kabupaten Kupang menempati rangking tertinggi kejadian malaria klinis setiap tahunnya.

Sebenarnya, apa dan bagaimana penyakit malaria? Kenapa setelah ribuan tahun penyakit ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar umat manusia? Andrew Spieldman dan Michael D’Antonio, dalam novelnya yang berjudul "Mosquito - The Story of Man’s Deadliest Foe" menggambarkan bahwa "tidak ada satu pun binatang di muka bumi ini yang menyentuh secara langsung dan sebegitu dalamnya mempengaruhi kehidupan dan takdir sebagian besar amat manusia". Kedua novelist ini menggambarkan bahwa ternyata nyamuk — seekor makluk kecil yang mungkin dengan sekali tepukan bisa dimatikan - sepanjang sejarah kehidupan, telah menjadi pengganggu dan bahkan pembunuh nomor satu umat manusia di seluruh dunia. Sejak hadirnya, nyamuk telah mengalahkan begitu banyak pemimpin perang besar di zaman dahulu, termasuk Napoleon dan pasukannya. Bahkan disebutkan bahwa dalam Perang Dunia I, prajurit Inggris yang mati karena digigit "nyamuk" malaria lebih banyak dari yang mati karena tertembak peluruh musuh. Tidak hanya sampai di situ, Sandosham (1965), salah satu malarioligist ternama juga menggambarkan bahwa nyamuk dan malaria juga telah mengalahkan banyak raja besar Romawi pada zaman Alexander the Great. Tidak hanya prajurit dan raja, nyamuk dan malaria juga ikut membunuh para Paus, pemimpin agama dan negara lainnnya serta tentunya jutaan umat manusia di seluruh muka bumi.

Harrison juga dalam bukunya "Mosquito, Malaria and Man. - A History of Hostilities Since" menggambarkan malaria sebagai "the ancient deadly disease". Memang, sejarah perkembangan malaria hampir sama tuanya dengan sejarah kehadiran manusia di muka bumi. Para ahli memperkirakan bahwa malaria kemungkinan berawal dari Afrika sekitar 12.000 - 17.000 tahun yang lalu. Dari benua ini, malaria kemudian menyebar ke suluruh dunia, terutama di daerah tropis,sejalan dengan sejarah dimulai penjelajahan umat manusia menemukan dan menaklukkan daerah-daerah baru, perdagangan serta sejarah penjualan budak-budak Afrika pada zaman dulu ke Amerika dan daerah-daerah lainnya.

Malaria juga sudah dikenal oleh para dokter pada zaman China kuno sekitar tahun 2700 sebelum masehi. Adalah Hippocrates, sang bapak kedokteran, yang pertama kali menggambarkan gejala-gejala klinis malaria pada sekitar abab IV Masehi. Kata malaria sendiri berasal dari bahasa Itali, "mal’aria". Pada zaman dulu, orang beranggapan bahwa malaria disebabkan oleh udara yang kotor. Sementara di Perancis dan Spanyol, malaria dikenal dengan nama "paladisme atau paludismo", yang berarti daerah rawa atau payau karena penyakit ini banyak ditemukan di daerah pinggiran pantai. Saking terkenalnya penyakit malaria, William Shakespeare, salah satu penulis Inggris yang paling terkenal sepanjang abad 16-17, juga telah menggambarkan penyakit malaria dalam salah satu karyanya sebagai "The Caliban Curse". Caliban adalah salah satu budak Afrika yang dikutuk dalam karya Shakespeare, The Tempest (1611).

Pertanyaan sekitar penyebab penyakit malaria akhirnya dijawab oleh Ronald Ross, seorang dokter militer Ingris yang bertugas di India pada tahun 1897. Ross berhasil membuktikan bahwa ternyata malaria tidak disebabkan oleh udara kotor tetapi akibat gigitan nyamuk anopheles. Secara teoritis, cukup hanya dengan satu kali gigitan nyamuk anophles seseorang sudah bisa terjangkit malaria, jika nyamuk ini mengadung parasite malaria. Berkat penemuannya, Ross akhirnya memenangkan hadiah Nobel.

Penyakit malaria sebenarnya merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh parasite yang dikenal dengan nama plasmodium. Parasite ini mempunyai empat jenis yaitu plasmodium falciparum, penyebab malaria tropikana dan merupakan jenis malaria yang paling berbahaya dengan tingkat kematian tinggi. Jenis, plasmodium yang kedua adalah plasmodium vivax, penyebab malaria jenis tertiana. Selanjutnya, plasmodium malarie, dan plasmodium ovale, masing-masing penyebab malaria jenis quartana dan ovale. Kedua jenis malaria pertama adalah merupakan jenis malaria yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

Kenapa sulit dikontrol?

Walaupun ditularkan oleh nyamuk, penyakit malaria sebenarnya merupakan suatu penyakit ekologis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembang biak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Air merupakan faktor esensial bagi perkembang-biakan nyamuk. Karena itu dengan adanya hujan bisa menciptakan banyak tempat perkembangbiakan nyamuk akibat genangan air yang tidakdialirkan di sekitar rumah atau tempat tinggal. Nyamuk dan parasit malaria juga sangat cepat berkembang biak pada suhu sekitar 20-27 derajat C, dengan kelembaban 60-80 %. Karena itu iklim di NTT memiliki kondisi suhu dan kelembaban yang ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dan parasit malaria.

Secara teoritis, nyamuk bisa terbang sampai 2-3 km, namun pengaruh angin, jarak terbang nyamuk bisa mencapai 40 km. Bahkan dengan perkembangan sarana transportasi, nyamuk bisa mencapai daerah yang jauh dengan menumpang alat transportasi. Para ahli juga memperkirakan bahwa perubahan iklim global telah turut mempengaruhi penyebaran nyamuk malaria. Nyamuk anopheles yang biasanya hanya ditemukan di daerah dataran rendah sekarang bahkan bisa ditemukan di daerah pengunungan, yang tingginya di atas 2000 m dari permukaan laut.

Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah ke pemukiman manusia. Di daerah pantai, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.

Malaria juga sulit diberantas karena keberadaan nyamuk itu sendiri yang mencapai ratusan spesies. Tidak kurang dari 400 jenis nyamuk anopheles hidup di muka bumi. Dari jumlah ini, "hanya" 80 jenis yang dapat menularkan malaria. Indonesia memiliki sekurang-kurangnya 20 jenis anopheles; dimana 9 spesies di antaranya ditemukan di daerah NTT.

Faktor lain yang turut memperparah kondisi malaria di dunia, termasuk di Indonesia adalah akibat resistensi nyamuk terhadap insektisida dan obat anti malaria. Zaman dulu DDT merupakan insektisida yang sangat ampuh membunuh nyamuk malaria dan berhasil menekan kasus malaria di berbagai belahan bumi. Namun belakangan diketahui bahwa ternyata nyamuk telah menjadi kebal dengan DDT dan juga pengaruh negatif DDT terhadap kematian serangga lain yang ternyata secara ekologis berguna bagi manusia. Karena itu DDT akhirnya dilarang dan tindakan penyemprotan rumah untuk tindakan anti malaria menggunakan insektisida lain yang lebih mahal. Akibatnya tindakan penyemprotan merupakan kebijakan paling akhir yang baru bisa diambil jika cara lainnya dianggap gagal dan hanya dalam keadaan kejadian luar biasa atau wabah. Tentunya harus didahului dengan survai entomologis untuk mengetahui secara pasti kebiasaan dan perilaku nyamuk malaria sebelum disemprot.

Pada zaman dulu, klorokuin merupakan obat anti malaria yang paling ampuh yang dipakai untuk mengobati malaria. Dewasa ini, klorokuin juga mulai kehilangan keampuhannya akibat resistensi parasit malaria terhadap klorokuin. Kondisi ini terjadi karena pola pengobatan dan dosis klorokuin yang sering tidak sesuaistandar. Sekarang untuk pengobatan malaria mulai memakai obat baru yang dikenal dengan sebutan artemisinin combination treatment atau ACT. Untuk itu, agar tidak terjadi resisten pengobatan lagi, sangat diharapkan para petugas kesehatan memberikan dosis pengobatan yang tepat dan juga pasien atau masyarakat harus taat minum obat sesuai dosis yang disarankan. Jangan karena merasa sudah sembuh, lantas pengobatan dihentikan. Ini akan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan resistensi obat malaria di masa depan.

Cara terakhir untuk mengontrol malaria secara "mudah dan murah" adalah upaya proteksi diri dan keluarga terhadap gigitan nyamuk malaria. Marilah kita secara bersama-sama memperhatikan lingkungan sekitar kita.

Bebaskan rumah dan tempat tinggal kita dari genangan air atau tutuplah tempat-tempat penampungan air yang bisa menjadi sarang nyamuk. Biasakanlah tidur dengan menggunakan kelambu atau baju lengan panjang. Jangan biarkan terjadi kontak antara nyamuk dengan diri Anda. Selanjutnya, jika Anda sakit, cepatlah mencari pengobatan sehingga Anda tidak menjadi sumber penuluran bagi keluarga dan tetangga Anda. Yang paling penting, minumlah obat sesuai dosis yang diberikan sampai habis. Jangan biarkan malaria merongrong kehidupan kita terus. Mari berantas nyamuk untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi generasi kita.

Pengembangan manajemen kinerja Puskesmas

Pengembangan manajemen kinerja Puskesmas

Pengantar

Kinerja menjadi tolok ukur keberhasilan pelayanan kesehatan yang menunjukkan akuntabilitas lembaga pelayanan dalam kerangka tata kelola rumah sakit yang baik (good hospital governance). Dalam pelayanan kesehatan, berbagai jenjang pelayanan dan asuhan pasien (patient care) merupakan bisnis utama, serta pelayanan keperawatan merupakan mainstream sepanjang kontinum asuhan. Upaya untuk memperbaiki mutu dan kinerja pelayanan klinis pada umumnya dimulai oleh perawat melalui berbagai bentuk kegiatan, seperti: gugus kendali mutu, penerapan standar keperawatan, pendekatan-pendekatan pemecahan masalah, maupun audit keperawatan. Milestones upaya perbaikan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia diawali dengan uji coba penerapan gugus kendali mutu di Rumah Sakit (RS) Karawang dan Bekasi pada tahun 1988.

selanjutnya tercermin dari penerapan berbagai pendekatan perbaikan mutu di Jawa Tengah yang

dimulai pada tahun 1990 dengan pelatihan dan penerapan gugus kendali mutu di RSUD Tidar

Magelang dan RSUD Purworejo. Total Quality Management (TQM) mulai diterapkan baik di rumah sakit maupun dinas kesehatan kabupaten dan puskesmas pada tahun 1994, dilanjutkan dengan penerapan jaminan mutu (quality assurance) di puskesmas, dan akreditasi RS untuk 5 pelayanan pada tahun 1997 yang ditindaklanjuti dengan penerapan manajemen kinerja pada tahun 1998. Akreditasi RS untuk 12 pelayanan diterapkan mulai tahun 2000, dan pada tahun 2004 mulai diterapkan akreditasi puskesmas dan sistem manajemen mutu menurut ISO 9001:2000, serta audit klinis di RS. Perbaikan mutu dan profesionalisme pelayanan keperawatan dan kebidanan dimulai pada tahun 1989 dengan diperkenalkannya proses keperawatan dan manajemen kebidanan yang Mata rantai terdepan yang perlu diperhatikan dalam perbaikan mutu dan kinerja pelayanan kesehatan adalah pengalaman pasien dan masyarakat terhadap pelayanan yang mereka terima. Sistem mikro merupakan mata rantai kedua yang berhadapan langsung dengan pasien dan masyarakat, di samping mata rantai yang lain yaitu konteks organisasi dan konteks lingkungan.1 Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) merupakan pendekatan perbaikan proses pada sistem mikro yang mendukung dan meningkatkan kompetensi klinis perawat dan bidan untuk bekerja secara profesional dengan memperhatikan etika, tata nilai, dan aspek legal dalam pelayanan kesehatan. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan kinerja klinis perawat dan bidan melalui kejelasan definisi peran dan fungsi perawat atau bidan, pengembangan profesi, dan pembelajaran bersama.2 Sebagai strategi awal untuk peningkatan kinerja pelayanan klinis dengan berfokus pada keperawatan dan kebidanan yang dapat dikembangkan untuk pelayanan klinis yang lain, perlu dikaji bagaimana implementasi PMK dalam kerangka kerja tata pengaturan klinis.

Advokasi dan komitmen stakeholders dan pelaksana, kepemimpinan, kegiatan pembinaan dan pemantauan, menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan PMK (Tjahjono Kuntjoro Balai Pelatihan Teknis Profesi Kesehatan, Gombong Jawa Tengah JMPK Vol. 08/No.03/September/2005 Pengembangan Manajemen Kinerja Perawat dan Bidan)

Perkembangan Struktur dasar PMK meliputi5: kejelasan tanggung jawab (responsibility), uraian kerja (job description), standar profesi (professional standards), standar organisasi (organizational standards), akuntabilitas (accountability), proses pembelajaran melalui diskusi kasus reflektif (reflective case discussion), dan pelatihan keterampilan manajerial (managerial skills training). Dewsbury, C. Making sense of clinical governance, The Pharmaceutical Journal.

2001;267(December 15).

PENGEMBANGAN IDE DAN MERUMUSKAN MASALAH PENELITIAN

PENGEMBANGAN IDE DAN

MERUMUSKAN MASALAH PENELITIAN

Artikel Penelitian

Oleh: Triyo Rachmadi, S.Kep

Abstrak

Dalam tulisan ini akan diuraikan strategi mencari permasalahan penelitian dan merumuskan masalah yang tepat. Suatu masalah penelitian dapat dilakukan melalui menggali pengalaman pribadi, melihat hasil penelitian sebelumnya, meninjau ulang teori yang sudah ada dan dapat juga dengan melalui analisis situasi dimana masalah itu muncul.

A. Sumber Masalah Penelitian

sebagai mahasiswa maupun peneliti pemula menemukan permasalahan, ide atau gagasan maupun mengembangkan ide pokok untuk dijadikan masalah penelitian merupakan masalah yang tidak mudah dan bukan hal sederhana, meskipun sebenarnya permasalahan ada di berbagai bidang kehidupan yang ada di sekitar mereka. Khususnya dalam penelitian kesehatan, permasalahan penelitian banyak sekali dapat digali dari kehidupan sosial dan aktifitas manusia. Dalam dunia kesehatan, topik permasalahan dapat digali secara garis besar dapat digali melalui masalah perawatan kesehatan, kedokteran maupun ahli kesehatan lain pada umumnya baik mereka yang beraktifitas di Rumahsakit, Puskesmas maupun Instansi kesehatan lain.

Memilih topik atau menetapkan permasalahan penelitian merupakan langkah paling awal dari keseluruhan kegiatan penelitian, Sehingga sebenarnya permasalahan penelitian dapat dicari pada semua aspek kehidupan baik yang menimpa pelaksana kesehatan maupun obyek dari pelaksana bidang kesehatan. Untuk dapat memberikan gambaran secara terstruktur tentang sumber masalah ini, dapat dijelaskan bahwa secara garis besar permasalahan penelitian dapat dicari dan dikaji melalui pengalaman pribadi, deduksi teori, penelitian sebelumnya, dengan analisis system dengan mempertimbangkan sebab akibat dari suatu masalah.

  1. Pengalaman Pribadi

Pengalaman kehidupan sehari-hari merupakan sumber permasalahan yang tidak pernah ada habisnya, dari pengalaman pribadi yang tertangkap sehari-hari ataupun pengalaman mengikuti penelitian seniornya dsb, dapat menjadi sumber inspirasi peneliti. Seringkali kita merasa tidak puas dengan kondisi pengalaman tertentu kemudian muncul pertanyaan tentang ha-hal yang berada dibalik pengalaman tsb. Saat itu sebenarnya telah ditemukan permasalahan penelitian, misalnya ketakutan seorang perawat atau dokter dalam awal masuk bekerja di Rumahsakit atau seorang Asisten dosen yang baru pertama kali melakukan pembelajaran di kelas, penyelewengan birokrasi, perselingkuhan dsb. Baru kemudian dituntut kepekaan memfokuskan pengalaman dan pertanyaan tsb, menjadi permasalahan yang menarik dan diramu serta diformulasikan menjadi suatu rumusan permasalahan penelitian yang meyakinkan.

2. Deduksi Dari Teori.

Dari berbagai bahan bacaan di perpustakaan peneliti dapat menemukan sumber permasalahan yang baik untuk dikembangkan menjadi penelitian, yaitu dengan mengukuhkan teori yang ada dengan mencari bukti baru secara empiris dari data lapang. Buku-buku atau literatur mutakhir yang pada umumnya membahas tentang teori, konsep ataupun metode-metode baru dengan disertai contoh-contoh konkrit akan banyak memberikan masukan kepada para pembacanya untuk menemukan topik-topik permasalahan untuk penelitian.

Disamping itu masalah penelitian dapat dikembangkan melalui beberapa hal diantaranya; Penjajakan tersebut dapat dilakukan dengan mengadakan survey pada tiga kelompok obyek (3-p) yaitu paper, person dan place (Suharsimi, dalam Endang) : “Paper” adalah penelusuran atau penjajakan dengan menelusuri sumber-sumber pustaka, baik yang berupa tulisan ilmiah populer, makalah, jurnal, literatur ataupun hasil-hasil penelitian terdahulu. berikutnya adalah survey terhadap Person”, yaitu upaya “mempelajari“ permasalahan penelitian lewat sumber yang berupa manusia. Dari sumber ini perlu dijajaki berbagai kemungkinan tersedianya kelompok manusia sebagai sumber data, maupun orang-orang yang diharapkan dapat memberikan dukungan materiil (penyandang dana dan fasilitas lain) dan dukungan moril yang dapat memberikan bantuan untuk memperlancar pelaksanaan penelitian. Sasaran lain dari kegiatan penjajakan ini adalah “Place yang dapat dilakukan dengan cara melakukan survey pada lokasi atau tempat penelitian, langkah ini juga perlu dilakukan karena dengan melihat dan pemahaman terhadap lokasi penelitian.

Secara khusus manfaat dari penjajakan awal adalah :

1) Setelah survey awal, peneliti sudah dapat mengidentifikasi dan memastikan batasan/fokus dari masalah penelitian, termasuk keyakinan akan kelayakannya

2) Peneliti sudah dapat menentukan dimana dan dari siapa informasi tentang data penelitian akan dapat diperoleh, termasuk bentuk / jenis data yang akan dicari.

3) Dari hasil survey kepustakaan, peneliti sudah pula memperoleh dan mengorganisasikan berbagai referensi baik yang berasal dari makalah, jurnal, teori, literatur ataupun temuan penelitian terdahulu, untuk dideduksi menjadi anggapan dasar dan hipotesis.

4) Peneliti sudah mengidentifikasi kemungkinan hambatan yang akan muncul dalam pelaksanaan penelitian, dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Bila informasi awal dari hasil penjajakan terhadap tiga sumber tersebut dirasa cukup, selanjutnya dapat dirumuskan permasalahan yang sebenarnya dalam suatu rumusan yang jelas. karena rumusan masalah ataupun research question ini akan menentukan arah dan tujuan penelitian. Kemampuan merumuskan masalah ini sangat diperlukan karena layak tidaknya penelitian yang dilakukan akan tercermin dalam rumusan masalah yang dikemukakan. Sehingga perlu ditata dan diramu sedemikian rupa sehingga rumusan masalah penelitian tersebut menarik dan dapat meyakinkan pembaca dan pihak-pihak yang berwenang bahwa permasalahan yang akan diteliti ini memang bagus dan perlu segera mendapat penanganan.

3. Hasil Penelitian sebelumnya

Dengan membaca dan mencermati hasil penelitian terdahulu, peneliti akan dapat menemukan sudut-sudut yang belum tergarap oleh penelitian yang dibaca, atau dapat pula dijumpai adanya berbagai keberhasilan dan kegagalan dari peneliti terdahulu, dengan mengambil sudut-sudut atau bidang-bidang yang belum tergarap serta kegagalan dan kelemahan penelitian yang telah ada akan memunculkan permasalahan baru yang cukup menarik untuk dikembangkan menjadi permasalahan penelitian yang baru.

4. Analisis System

Analisis system merupakan suatu tinjauan dalam memahami masalah berdasarkan perspektif system dimana suatu komponen dipengaruhi oleh komponen yang lain dan saling berkaitan. Suatu masalah dipandang sebagai akibat ataupun sebab dari masalah yang lain. Dalam hal ini suatu masalah penelitian dapat digali dari model system dari suatu masalah yang disusun atau dari adanya suatu masalah dilapangan kemudian diperhatikan komponen lain yang menunjukan sebab akibat dari masalah itu sendiri.

Dari analisis dibawah ini dapat diketahui bahwa satu topik atau masalah typoid dapat dikembangkan dalam masalah penelitian dari beberapa sisi, yang memungkinkan akan mempermudah untuk peneliti dalam mencari masalah yang uptodate pada saat itu.

Skema Analisis situasi sebab akibat pada Typoid















Dari skema diatas dapat diuraikan masalah penelitian yang mungkin diantaranya adalah;

1) Hubungan antara pengetahuan pasien terhadap kesembuhan pasien typoid.

2) Hubungan tingkat kepatuhan pasien dalam menerima Instruksi perawat terhadap kesembuhan pasien.

3) Analisis tingkat kepuasan pasien terhadap informasi yang diberikan oleh perawat.

4) Efektifitas pengukuran tekanan darah pada pasien terhadap kesembuhan pasien

5) Hubungan Ketepatan diagnosa kep[erawatan terhadap kesembuhan pasien.

Masalah penelitian diatas merupakan hasil pengembangan dari suatu analisis situasi yang memungkinkan dapat mendapatkan topik sebanyak-banyaknya.

B. Pemilihan Masalah Penelitian

Suatu masalah penelitian diambil oleh karena mempertimbvangkan hal-hal berikut ini;

1. Menarik Minat.

Bagi peneliti pemula kriteria ini sangat penting, karena permasalahan yang menarik minat peneliti akan menumbuhkan motivasi yang kuat untuk segera menemukan jawaban dengan segera menyelesaikannya. Secara umum permasalahan ataupun obyek yang menarik minat akan melahirkan tantangan yang mengasyikkan dan menumbuhkan ketegaran untuk menyingkirkan berbagai kendala yang ada.

  1. Perlu diteliti

Permasalahan penelitian seharusnya merupakan permasalahan yang memerlukan pemecahan segera dan diperlukan langkah penelitian, sehingga jelas bahwa permasalahan penelitian yang dikemukakan adalah permasalahan penelitian yang mendesak untuk mendapat perhatian dan penanganan. Masalah yang dapat dijawab dengan mudah tanpa memerlukan penelitian berarti masalah itu tidak perlu diteliti.

  1. Bermanfaat

Kriteria ini menilai permasalahan dari asas manfaat; hasil-hasil penelitian diharapkan mempunyai dampak langsung baik secara teoritis yaitu pengembangan teori, konsep ataupun metode yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu, pertimbangan kemanfaatan praktis dalam memecahkan permasalahan kehidupan atau kegunaan dalam operasionalisasi kegiatan profesi.

  1. Memiliki Feasibity (kalayakan)

Permasalahan harus pula dipertimbangkan kriteria layak tidaknya penelitian tersebut dilakukan (Feasibility), yang dapat dilihat dari beberapa demensi yaitu :

1. Kompetensi peneliti

2. Tersedia Faktor Pendukung

3. Pertimbangan Biaya, waktu dan tenaga yang tersedia.

4. Scope Permasalahan

5. Tidak Menyangkut etika / Sikap Moral Masyarakat.

C. Rumusan Masalah Penelitian.

Setelah topik ditetapkan, langkah yang mutlak harus dilakukan adalah melakukan study pendahuluan. Studi pendahuluan dapat dilakukan dengan mengumpulkan berbagai informasi dari perpustakaan, diskusi dengan para ahli / sejawat, ataupun penjajakan terhadap kemungkinan memperoleh dukungan atau berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam kegiatan penelitian di lapangan.

Tidak ada aturan baku mengenai bagaimana cara merumuskan masalah penelitian, namun dapat disarankan bahwa masalah sebaiknya dirumuskan dalam kalimat yang padat dan jelas sehingga tidak menimbulkan interpretasi ganda bagi pembaca. Rumusan masalah tidak harus berupa kalimat tanya (dapat berupa pertanyaan ataupun pernyataan), hanya saja disarankan bagi peneliti pemula agar dapat menyusun rumusan masalah penelitian dalam bentuk kalimat tanya. Dengan rumusan masalah yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang jelas, akan dapat memberikan arah yang jelas pula pada jawaban yang akan tersaji dalam kesimpulan. Kriteria umum yang perlu diperhatikan adalah:

1. Rumusan masalah dinyatakan dalam kalimat yang bersifat kausalitas antara dua variabel atau lebih.

2. Dinyatakan secara jelas sehingga tidak menimbulkan interpretasi ganda, dan lebih baik dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.

3. Dapat diukur secara empirik dan obyektif. Untuk itu setelah masalah penelitian dirumuskan, maka peneliti dituntut untuk dapat menjabarkan variabel-variabel yang akan diukur menjadi diskriptor-diskriptor yang teramati dan terukur

4. Tidak mencerminkan adanya ambisi pribadi atau mempersyaratkan jawaban dengan pertimbangan moral / etik.

Membahas permasalahan penelitian seringkali memunculkan adanya kekacauan pengertian antara permasalahan / topik penelitian, rumusan masalah (problem statement / problem formulation), pertanyaan penelitian (research question) dan judul penelitian. Antara masalah penelitian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, hanya dapat dibedakan dari tingkat kekhususannya. Topik adalah permasalahan pokok yang menunjuk pada obyek, gejala atau kelompok tertentu yang akan diteliti, misalnya Kehidupan lanjut Usia, kompetensi mengajar dosen, dan sebagainya yang masih dapat dikembangkan menjadi beberapa permasalahan penelitian, kemudian dijabarkan menjadi rumusan masalah yang lebih spesifik yang menyangkut masalah khusus yang akan dijawab dalam penelitian, rumusan masalah masih dapat pula diuraikan dalam pertanyaan penelitian yang lebih mengacu pada tujuan-tujuan khusus penelitian yang sudah menunjukkan teknis pengumpulan data, tetapi juga sangat dimungkinkan masalah penelitian yang dirumuskan sekaligus sebagai pertanyaan penelitian. untuk melihat perbedaan antara topik, masalah penelitian, rumusan masalah dan research question tersebut dapat dicermati pada beberapa ilustrasi dari rumusan masalah penelitian dan pertanyaan penelitian.