Halaman

Sabtu, 06 Agustus 2011

Hubungan Tingkat Pengetahuan Pengawas Menelan Obat (PMO) tentang OAT Jenis FDC dengan Tingkat Kepatuhan Pasien Berobat

PENDAHULUAN
Tuberculosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia, menurut laporan WHO (1999) diperkirakan 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara berkembang. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Demikian juga di Indonesia, yang menempati urutan ke 3 dalam jumlah penderita TB atau 10% dari penderita TB sedunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI Gerdunas TB, 2008).
Ancaman TB Paru yang lain adalah adanya Multiple Drug Resistance (MDR) yang terjadi karena penderita TB tidak patuh dalam mengkonsumsi Obat Anti TBC (OAT) secara teratur, hal ini disebabkan karena beberapa hal salah satunya adalah kurangnya pengetahuan tentang pengobatan TB Paru pada Pengawas Menelan Obat (PMO) dan penderita itu sendiri. Hal tersebut bisa terjadi tidak tuntasnya pengobatan TB Paru yang relatif lama dan kebosanan pada penderita dalam mengkonsumsi OAT, karena pengobatan TB memerlukan waktu yang relatif lama. Dengan demikian untuk mendukung keberhasilan pemerintah dalam penyakit TB, prioritas utama ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, penggunaan obat yang rasional dan paduan obat yang sesuai dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) (Gerdunas TB, 2005).
OAT yang tersedia saat ini harus dikonsumsi penderita dalam jumlah tablet yang cukup banyak dan dapat menyebabkan kelalaian pada penderita, oleh karena itu dikembangkan dan digunakan sejak 2003 OAT jenis FDC yaitu kombinasi OAT dalam jumlah tablet yang lebih sedikit dengan jumlah kandungan masing-masing komponen sudah disesuaikan dengan dosis yang diperlukan. Diharapkan dengan penggunaan Obat Anti TBC jenis Fixed Dose Combination (OAT-FDC) atau Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dapat menyederhanakan proses pengobatan, meminimalkan kesalahan pemberian obat dan mengurangi efek samping (Rahmat, 2002).
Berdasarkan Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah tahun 2007 untuk TB Paru penemuan kasus baru BTA (+) tahun 2005 sebanyak 17.523 orang, tahun 2006 sebanyak 17.304 orang dan tahun 2007 tribulan II sebanyak 8.225 orang, diketahui jumlah kasus baru BTA (+) setiap tahun mengalami trend yang sama (stabil) (Hartanto, 2007).
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen tahun 2008, penemuan kasus penderita TB dengan BTA (+) sejumlah 755 kasus dengan jumlah suspek 9.088 kasus, kasus BTA neg, Rontgen positif sejumlah 905 kasus. Angka kesembuhan berjumlah 679 kasus, Angka CDR 57%, proporsi angka BTA (+) 45%. Sedangkan berdasarkan profil Puskesmas Klirong I pada tahun 2008 sampai dengan sekarang jumlah pasien TB Paru BTA (+) sejumlah 31 kasus, BTA (–) Rontgen (+) sejumlah 11 kasus, pasien luar wilayah 18 kasus. BTA Rate 7,8 %, CDR 56%, Proporsi BTA (+) berjumlah 81 %, pengobatan lengkap 4 kasus, dan angka kesembuhan sebesar 80 %, walaupun angka kesembuhannya baik tetapi kepatuhan penderita berobat masih rendah karena masih tergantung kunjungan rumah dari PMO. Dari data tingkat kepatuhan pasien berobat di Puskesmas Klirong I pada tahun 2008 sejumlah 12 orang (50 %), pada tahun 2009 sejumlah 7 orang (38,8 %). Ketidakpatuhan pasien berobat di Puskesmas Klirong ini meliputi: ketidaktepatan pasien berkunjung untuk mengambil obat sesuai jadwal, menelan obat sesuai jumlah dan waktu minum obat yang ditentukan. Penderita akan meminum obat bila PMO datang berkunjung ke rumahnya dan mengambilkan obatnya ke Puskesmas. Ketidakpatuhan (mangkir) penderita menelan OAT selama 1 – 2 minggu masih bisa ditolerir dengan melanjutkan pengobatan yang terputus, sementara ketidakpatuhan menelan OAT selama lebih dari 2 minggu akan mengulangi pengobatan dari awal dengan tetap memeriksakan sputum di laboratorium (Gerdunas TB, 2005)
Mengingat masih adanya ketidakpatuhan dari penderita yang memungkinkan resiko pengobatan gagal dan default, maka penatalaksanaan Penyakit TB harus benar- benar dilaksanakan sesuai dengan kebijakan Program Pemberantasan Penyakit Tuberculosis (P2TB). Peran dan tingkat pengetahuan PMO sangat penting dalam rangka mencapai kepatuhan menelan obat dan penyembuhan penderita TB, sehingga pelaksanaan P2TB sangat diperlukan evaluasi untuk mengetahui kepatuhan dan kesembuhan dalam Program P2TB di wilayah kerja Puskesmas Klirong I. Hal tersebut tentunya sesuai dengan program pemerintah yang tujuannya adalah memutus rantai penularan penyakit TB, mencegah kekebalan kuman terhadap OAT (MDR) (Gerdunas TB, 2005) Peran perawat di puskesmas dalam hal ini adalah sebagai fasilitator dan memonitor PMO dalam melaksanakan pengobatan TB Paru kepada penderita. Perawat di Puskesmas tidak dapat memantau pengobatan TB kepada masing-masing penderita TB secara terus menerus, maka perawat memerlukan seorang PMO untuk membantu jalannya pengobatan TB demi keberhasilan Program P2TB. Berdasarkan keadaan tersebut, penulis tertarik untuk meneliti pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dalam membantu perawat memonitor jalannya pengobatan pasien dan ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menggunakan OAT.
Penelitian korelasional bertujuan untuk mencari atau menguji hubungan antara variabel. Peneliti mencari, menjelaskan suatu hubungan, memperkenalkan, menguji berdasarkan teori yang ada (Al Ummah, 2008)
Rancangan penelitian cross-sectional adalah jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran/ observasi data variabel independen dan dependen dinilai hanya satu kali pada satu saat. Pada jenis ini variable independen dan dependen dinilai secara simultan pada satu saat, jadi tidak ada follow up (Al Ummah, 2008)
Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian deskriptif kuantitatif bersifat korelatif dengan pendekatan Studi Cross Sectional.
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah PMO yang terdaftar di Puskesmas Klirong I dengan jumlah 40 orang dan pasien TB Paru di Puskesmas Klirong I yang menjalani pengobatan OAT jenis FDC Kategori 1 dan 2 dengan jumlah 30 orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh suatu populasi (Sugiyono, 2005).
Tekhnik pengambilan sampel untuk pasien TB Paru yang digunakan adalah non probability Sampling yaitu total sampling (sampel jenuh) artinya semua populasi diambil sebagai sampel (Sugiyono, 2005). Sedangkan untuk sampel PMO diambil 30 orang dari 40 orang PMO yang terdaftar.
a. Sampel inklusi yaitu:
1. PMO pasien TB Paru dewasa yang bersedia
menjadi responden
2. Pasien TB Paru dewasa berusia 21 tahun ke atas.
3. Pasien yang tercatat sebagai pasien TB Paru BTA positif
4. Pasien yang tercatat sebagai pasien TB Paru BTA negatif, Rontgen positif.
5. Pasien yang tercatat sebagai penemuan kasus baru.
6. Pasien yang tercatat sebagai pasien pindahan/ rujukan dari Unit Pelayanan Kesehatan yang lain, seperti: BP 4, Rumah Sakit Umum dan Puskesmas lain.
7. Pasien pendatang dari luar wilayah Klirong I yang sedang menjalani pengobatan tetapi menetap sementara waktu di Klirong selama beberapa bulan yang hanya tercatat di lembar status pasien.
8. Pasien TB Paru yang kambuh
b. Sampel eklusi yaitu:
1) PMO yang tidak bersedia menjadi responden.
2) PMO pasien TB Paru anak
3) Pasien TB Paru anak
4) Pasien TB Paru dewasa yang sudah sembuh.

HASIL PENELITIAN
1. Karakteristik Responden
a. Karakteristik PMO






Tabel 4.1:
Karakteristik Pengawas Menelan Obat (PMO) di Puskesmas Klirong I Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n(30)
Karakteristik Frekuensi Prosentase
Umur 21 – 30 Tahun 7 23,3 31 – 40 Tahun 12 40
> 41 Tahun 11 36,7
Jenis kelamin Laki-laki 18 60
Perempuan 12 40
Pendidikan SMP 20 66,7 terakhir SMA 10 33,3
D III 0 0
S1 0 0 Lama jadi PMO < 1 tahun 3 10
2 – 4 tahun 21 70
> 5 tahun 6 20
Pelatihan PMO Sudah Pernah 7 23,3
Belum pernah 23 76,7




Jumlah terbesar responden PMO berumur 31 – 40 tahun yaitu sebanyak 12 orang (40 %). Jenis kelamin responden PMO terbesar yaitu laki-laki 18 orang (60 %). Pendidikan terakhir PMO paling banyak adalah 20 orang (66,7 %). Lama menjadi PMO sebagian besar selama 2 – 4 tahun sebanyak 21 orang (70 %), seperti pada tabel di atas:



b. Karakteristik Pasien TB Paru
Dari tabel didapat data bahwa terbanyak 17 orang pasien TB Paru (56,66 %) berumur 21 – 30 tahun. Jenis kelamin Pasien TB Paru yang terbanyak adalah perempuan. Pendidikan pasien TB terakhir sebagian besar adalah SMA yaitu 20 orang (66,7 %). Lama pasien menderita TB Paru yang terbanyak adalah < 5 tahun yaitu 28 orang (93,3 %)

Tabel 4.2:
Karakteristik Pasien TB Paru Puskesmas Klirong I
Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)
Karakteristik Frekuensi Prosentase
Umur 21 – 30 Tahun 17 56,67
31 – 40 Tahun 10 33,33
> 41 Tahun 3 10
Jenis Laki-laki 5 16,67
Kelamin Perempuan 25 83,33

Pendidikan SMP 7 23,3
terakhir SMA 20 66,7
D III 3 10
S1 0 0
Lama < 1 tahun 28 93,3
Menderita 2–4 tahun 2 6,7
TB Paru > 5 tahun 0 0

Sumber: data primer

2. Analisis Univariat
a. Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Pengetahuan tentang pengobatan TB Paru jenis FDC yang dimiliki oleh PMO di Puskesmas Klirong I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:


Tabel 4.3:
Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Puskesmas Klirong I Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)
Pengetahuan PMO Jumlah Prosentase

Baik 29 96,7
Cukup 1 3,3
Total 30 100



Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 29 orang PMO (96,7 %) dari 30 orang PMO mempunyai pengetahuan yang baik tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dan 1 orang PMO (3,3 %) mempunyai pengetahuan yang cukup tentang pengobatan TB Paru jenis FDC.
b. Kepatuhan Pasien berobat
Dalam pelaksanaannya kepatuhan menelan obat menggunakan lembar ceklist yang sudah dibagikan dan diisi oleh pasien serta menggunakan lembar kunjungan pengobatan pasien (TB.01 dan TB.03). Secara keseluruhan kepatuhan pasien menelan obat adalah sebagai berikut:




Tabel 4.4:
Kepatuhan Pasien Berobat Puskesmas Klirong I Bulan
Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)
Kepatuhan Pasien Jumlah Prosentase
Patuh 17 orang 56,7 %
Tidak Patuh 13 orang 43,3 %
Total 30 orang 100


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 17 orang (56,7 %) dari 30 orang pasien telah mematuhi program pengobatan TB Paru dengan berobat di Puskesmas dan menelan obat FDC. Sedangkan 13 orang (43,3 %) tidak mematuhi program pengobatan dengan tidak berobat dan menelan obat FDC dibuktikan dengan pasien tidak datang ke Puskesmas untuk mengambil obat sesuai jadwal dan kesepakatan, pasien juga tidak menginformasikan alasan tidak bisa datang ke Puskesmas.
3. Analisis Bivariat
a. Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien Berobat.
Untuk mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat, peneliti menggunakan perhitungan chi square dan hasilnya dapat dijelaskan pada tabel 4.5 berikut ini:



Tabel 4.5:
Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru
Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien Berobat Puskesmas
Klirong I Bulan Agustus – Oktober Tahun 2009 n (30)
Variabel Kepatuhan Pasien Berobat p value

Pengetahuan Patuh Tidak Patuh Jumlah
n % n % n %

Baik 16 53,4 13 43,3 29 96,7
Cukup 1 3,3 0 0 1 3,3 0,374

Jumlah 17 56,7 13 43,3 30 100

Sumber: Data Terolah, 2009


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui tidak ada hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I yaitu 16 orang (53,4 %) pasien TB Paru yang patuh berobat memiliki PMO dengan pengetahuan yang baik, sedangkan sebanyak 13 orang (43,3 %) pasien TB Paru tidak patuh berobat dan memiliki PMO dengan pengetahuan baik. Sebanyak 1 orang (3,3 %) pasien TB Paru yang patuh berobat dan memiliki PMO dengan pengetahuan yang cukup sedangkan tidak ada pasien (0 %) yang tidak patuh berobat dan memiliki PMO dengan pengetahuan yang cukup.

b. Hasil Uji Statistik Hubungan Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Dengan Kepatuhan Pasien Berobat Di Wilayah Kerja Puskesmas Klirong I.
Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa menggunakan chi square dengan hasil approx signifikansi sebesar 0.374. Dengan signifikansi < 0,005 maka Ha ditolak dan Ho diterima yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan dari hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Riwidikdo (2008) yang menerangkan bahwa bila hasil p > 0,05 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara dua variabel yang diujikan.




C. Pembahasan Penelitian
1. Karakteristik responden
Gambaran umum responden menunjukkan bahwa sebagian besar responden PMO berumur 31 – 40 tahun yaitu sebanyak 12 orang (40 %), kelompok umur PMO berusia 21 – 30 tahun sebanyak 7 orang (23,3 %) dan kelompok umut berusia > 40 tahun sebanyak 11 orang (36,7 %). Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Basuki (2005) bahwa PMO dengan usia 32 – 40 tahun di Puskesmas mecapai 41,18 %, sedangkan usia < 30 tahun hanya 35,29 % dan usia > 40 tahun juga hanya 23,53 %. Pada interval umur tersebut merupakan umur yang produktif identik dengan idealisme yang tinggi, semangat kerja yang meningkat dan penuh optimisme. Pada kategori ini seorang PMO memiliki kinerja atau semangat pengabdian yang tinggi, mudah diajak kerjasama dengan tenaga kesehatan setempat untuk mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang Pengawas Menelan Obat agar PMO bisa memberikan penyuluhan kepada masyarakat secara umum dan khususnya kepada pasien TB Paru.
Gambaran jenis kelamin PMO adalah sebagian besar PMO berjenis kelamin laki-laki yaitu 18 orang (60 %) sedangkan lainnya 12 orang (40 %) berjenis kelamin perempuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Basuki (2005) bahwa sebagian besar PMO adalah pasangan dari pasien TB sendiri suami atau istrinya dan kader kesehatan setempat. Pendapat dari Depkes (2001) yaitu semua orang dapat menjadi PMO antara lain keluarga penderita, kader kesehatan, petugas kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain dengan syarat bersedia disetujui serta dapat meyakinkan penderita. Penunjukan PMO yang pertama kali dilihat adalah kesanggupan keluarga (suami atau istri, anak, orang tua dan lain-lain) untuk menjadi PMO bagi anggota keluarganya sendiri. Bila tidak ada yang bersedia menjadi PMO barulah kita mencari dari tetangga sekitar atau kader kesehatan dan seterusnya.
Gambaran pendidikan sebagian besar responden PMO berpendidikan SMP yaitu sebanyak 20 orang (66,7 %) sedangkan yang berpendidikan SMA hanya 10 orang (33,3 %). Green cit Notoatmojo (1993) berpendapat bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang menjadi dasar untuk melaksanakan tindakan.Wajib belajar sembilan tahun (6 tahun SD dan 3 tahun SMP) yang dicanangkan pemerintah sudah diterapkan di wilayah kerja Puskesmas Klirong I sehingga tidak menjadi halangan bagi seorang PMO untuk memberikan motivasi dan pengawasan kepada pasien TB Paru. Untuk metode program pengobatan TB Paru, PMO mendapat pelatihan singkat dari pemegang program TB Paru atau tenaga kesehatan yang ada di puskesmas.
Gambaran lama menjadi PMO adalah sebagian besar PMO memiliki lama waktu menjadi seorang PMO yaitu 2 – 4 tahun sebanyak 21 orang (70 %) sedangkan lama menjadi PMO < 1 tahun hanya 3 orang (10 %) dan lama menjadi PMO > 5 tahun hanya 6 orang (20 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarwanto (2008) bahwa lama waktu menjadi PMO sesuai dengan lama waktu menjadi kader kesehatan di Puskesmas yang sekaligus menjadi lama waktu menjadi PMO. PMO yang berasal dari kader kesehatan sekaligus menjadi seorang PMO bagi pasien TB di sekitar tempat tinggalnya, selain itu ada beberapa wilayah desa yang menjadi kantong-kantong dominasi Pasien TB Paru sehingga dimungkinkan seseorang beberapa kali menjadi PMO bagi pasien TB Paru yang berbeda di wilayah desanya.
Gambaran pernah mengikuti pelatihan PMO adalah sebanyak 7 orang PMO (23,3 %) sudah pernah dilatih menjadi PMO sedangkan 23 orang (76,7 %) belum pernah mengikuti pelatihan PMO. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarwanto (2008) bahwa PMO yang berasal dari kader kesehatan sudah pasti mendapat pelatihan PMO dari Puskesmas setempat. Selain itu bagi PMO yang belum pernah mendapat pelatihan PMO mendapat penyuluhan singkat (short course) tentang PMO oleh petugas kesehatan yang menjadi pemegang progam di Puskesmas setempat.
Gambaran responden dari pasien TB Paru sebagian besar berumur 21 – 30 tahun berjumlah 17 orang (56,67 %) sedangkan yang berumur 31 – 40 tahun berjumlah 10 orang (33,33 %) dan yang berumur > 40 tahun berjumlah 3 orang (10 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Depkes (2001) bahwa mayoritas penderita TB Paru adalah dengan usia produktif yaitu 21 – 30 tahun. Peneliti berasumsi selain penderita dengan usia produktif juga penderita biasanya mudah kelelahan akibat aktifitas sehari-harinya, sehingga daya tahan tubuhnya menjadi menurun. Selain itu, lokasi tempat kerja penderita memicu terjadinya TB Paru.
Gambaran jenis kelamin pasien TB Paru sebagian besar adalah perempuan berjumlah 25 orang (83,33 %) sedangkan laki-laki hanya berjumlah 5 orang (16,67). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa perempuan mendominasi jumlah penderita TB Paru. Peneliti berasumsi bahwa perempuan lebih mudah kelelahan dibandingkan laki-laki sehingga daya tahan mudah sekali menurun dan mudah terkena TB Paru.
Gambaran tingkat pendidikan pasien TB Paru sebagian besar memiliki tingkat pendidikan SMA yaitu berjumlah 20 orang (66,7 %) sedangkan pasien yang memiliki tingkat pendidikan SMP berjumlah 7 orang (23,3 %), pendidikan DIII berjumlah 3 orang (10 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa tingkat pendidikan SMA lebih banyak terkena TB Paru dikarenakan pengetahuan mereka tentang pencegahan TB Paru masih kurang. Peneliti berasumsi pasien dengan tingkat pendidikan SMA lebih mudah bergaul dengan orang-orang yang perokok aktif, bekerja di lokasi dengan asap, debu dan bahan-bahan yang merusak saluran pernapasan.
Gambaran pasien dengan lama menderita TB Paru sebagian besar < 1 tahun yaitu berjumlah 28 orang (93,3 %) sedangkan pasien yang menderita 6 – 10 tahun berjumlah hanya 2 orang (6,7 %). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sumarwanto (2008), Basuki (2005) dan Frida Noor (2008) bahwa sebagian besar pasien TB Paru adalah kasus penemuan baru dengan lama menderita < 1 tahun. Peneliti berasumsi pasien TB Paru dengan lama menderita lebih dari 1 tahun termasuk pasien TB paru yang kambuh, gagal berobat dan mangkir atau tidak patuh berobat.
2. Analisis Univariat
a. Pengetahuan PMO Tentang Pengobatan TB Paru Jenis FDC Pengetahuan tentang pengobatan TB Paru jenis FDC yang dimiliki oleh PMO di Puskesmas Klirong I .
Pada penelitian ini seluruh PMO 30 orang (100 %) yang menjadi responden mempunyai pengetahuan yang baik (96,7 %) dan cukup (3,3 %) tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan 17 orang pasien (56,7 %) mematuhi program pengobatan TB Paru dan 13 orang pasien (43,3 %) tidak mematuhi pengobatan. Pengetahuan dapat memberikan bekal kognitif atau sebagai dasar bagi seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Hal ini sesuai dengan tingkat domain kognitif yaitu aplikasi seseorang mengaplikasikan sesuatu yang ia ketahui dalam mengetahui suatu kondisi (Notoatmojo, 1997).
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa peran PMO sangat penting dalam mengawasi pasien menkonsumsi obat anti TBC terutama PMO yang tidak tinggal serumah dengan pasien harus selalu rutin memantau pengobatannya. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarwanto (2008) bahwa pengetahuan tentang TB Paru terutama pengobatannya harus dimiliki oleh seorang PMO khususnya PMO yang berasal dari kader. Hal ini dimaksudkan supaya pasien lebih banyak mendapatkan informasi tentang TB Paru dan pengobatannya dari PMO, karena PMO adalah orang yang terdekat dengan pasien.
b. Kepatuhan Pasien berobat
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan hasil bahwa ada 17 orang pasien (56,7 %) mematuhi program pengobatan dan 13 orang pasien (43,3 %) tidak mematuhi pengobatan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah peran PMO dalam mendampingi dan memotivasi pasien untuk selalu mematuhi pengobatan TB Paru. Diantara 30 orang PMO yang berpendidikan SMA adalah 10 orang (33,3 %) dan berpendidikan SMP 20 orang (66,7 %). Hal ini berpengaruh kepada pasien yang berpendidikan D III sejumlah 3 orang (10 %), SMA sejumlah 20 orang (66,7 %) dan SMP berjumlah 7 orang (23,3 %) terutama dalam proses penyampaian komunikasi, informasi, edukasi dan motivasi kepada pasien. Diantara ketidakpatuhan pasien yang diteliti ada beberapa yang tidak dipenuhi oleh pasien dalam pengobatan misal: jumlah obat yang ditelan, seharusnya jumlah obat yang ditelan 3 tablet tetapi yang diminum cuma 2 tablet, tidak berkunjung ke Puskesmas untuk mengambil obat, tidak menunjukkan pembungkus bekas obat yang diminum dan tidak menelan obat sesuai aturan pengobatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Basuki (2005) bahwa tingkat pendidikan PMO berpengaruh terhadap kepatuhan pasien TB Paru dalam program pengobatannya. Peneliti berasumsi selain tingkat pendidikan atau pengetahuan PMO, pengetahuan pasien, keluarga pasien, peran perawat di Puskesmas dan jarak lokasi tempat tinggal dengan Puskesmas juga sangat mempengaruhi kepatuhan pasien berobat.
3. Analisis Bivariat
Dari hasil uji statistik dapat dilihat bahwa menggunakan chi square dengan hasil approx signifikansi sebesar 0.374. Dengan signifikansi > 0,005 maka Ho diterima dan Ha ditolak yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC dengan kepatuhan pasien berobat di wilayah kerja Puskesmas Klirong I. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Riwidikdo (2008) yang menerangkan bahwa bila hasil p > 0,05 artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara dua variabel yang diujikan. Penelitian yang dilakukan oleh Noor (2008) mengatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan PMO terutama yang berasal dari keluarga pasien dengan kepatuhan pasien menelan obat. PMO yang berasal dari keluarga terbukti sangat efektif dalam membantu mendukung kepatuhan pasien berobat. Hubungan kedekatan atau kekeluargaan, kepercayaan dan ketelatenan PMO dari sangat mempengaruhi kepatuhan pasien berobat. Anggota keluarga pasien yang ditunjuk sebagai PMO harus benar-benar mengetahui informasi tentang pengobatan TB Paru dan benar-benar memantau pengobatannya. Tetapi PMO yang berasal bukan dari keluarga pasien belum tentu membantu pasien untuk patuh berobat.
Hasil ini sesuai dengan asumsi peneliti, bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru jenis FDC ini dengan kepatuhan pasien berobat, sehingga walaupun pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru baik tetapi tidak menjamin pasien patuh berobat di Puskesmas. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan pasien, pengetahuan keluarga, peran perawat Puskesmas, usia PMO dan pasien serta jarak tempuh lokasi tempat tinggal pasien dengan Puskesmas. Pengetahuan pasien yang kurang menimbulkan kesadaran untuk berobat menjadi kurang. Pasien tidak mengetahui alasan berobat dan akan berhenti berobat bila keadaan tubuhnya dirasa membaik. Pasien yang berobat ke Puskesmas akan menjadi tidak patuh bila keluarga pasien tidak mendukung anggota keluarganya yang sakit untuk berobat. Jadi, keluarga harus selalu memotivasi pasien untuk berobat dan menjadi sembuh. Peran perawat di Puskesmas juga harus selalu memotivasi PMO dan pasien. Perawat juga harus memberikan informasi yang lengkap dan jelas kepada PMO dan pasien. Usia pasien yang terlalu tua akan menghambat kepatuhan pasien berobat. Kelemahan tubuhnya akan sulit dan lupa menerima informasi dari PMO dan perawat, sehingga dosis pengobatan,cara minum obat, saat minum obat menjadi tidak sesuai dengan informasi yang telah diberikan. Jarak tempuh lokasi tempat tinggal pasien dengan Puskesmas juga menjadi hambatan pasien untuk patuh berobat. Alasan jauh, ekonomi dan sulitnya mendapatkan kendaraan umum atau tumpangan menjadi sulitnya pasien berkunjung ke Puskesmas untuk mengambil obat.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan Pengawas Menelan Obat (PMO) tentang pengobatan TB Paru jenis Fixed dose Combination (FDC) dengan kepatuhan pasien berobat setelah dianalisis menggunakan chi square yaitu dengan nilai signifikansinya 0.374. Pengetahuan PMO tentang pengobatan TB Paru yang baik tidak menjamin pasien patuh berobat di Puskesmas. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan pasien, pengetahuan keluarga, peran perawat Puskesmas, usia PMO dan pasien serta jarak tempuh lokasi tempat tinggal pasien dengan Puskesmas.




SARAN-SARAN
Saran yang dapat peneliti sampaikan adalah:
1. Agar Pengawas menelan Obat (PMO) selalu memperbanyak informasi tentang penyakit TB Paru terutama pengobatannya dan selalu aktif bertanya kepada petugas kesehatan terutama pemegang program TB Paru di Puskesmas setempat.
2. Agar perawat atau tenaga kesehatan terutama bidan pemegang wilayah di Puskesmas selalu memberikan promosi kesehatan secara aktif tentang TB Paru kepada PMO, pasien dan keluarganya.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien TB Paru dalam menelan obat.
4. Untuk pengambil kebijakan agar selalu memprioritaskan penyakit TB Paru yaitu memasukkan program penanggulangan TB Paru dalam anggaran pusat maupun daerah selain anggaran dari WHO/ Global Fund terutama dalam pengadaan logistic obat Fixed Dose Combination (FDC).

Tidak ada komentar: