Halaman

Minggu, 18 September 2011

PENATALAKSANAAN PENYAKIT MATA

PENATALAKSANAAN PENYAKIT MATA

Oleh: Triyo Rachmadi, S.Kep.


POKOK BAHASAN 3 : PENYAKIT MATA

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN KONJUNGTIVITIS

WAKTU SESI : 1 jam pelajaran @ 45 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Memberikan kemampuan kepada peserta latih dalam mengenali dan menangani pasien dengan Konjungtivitis.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti sesi ini diharapkan :

  1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Konjungtivitis
  2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Konjungtivitis
  3. Peserta dapat menentukan diagnosis dan diagnosis banding Konjungtivitis
  4. Peserta dapat melakukan penanganan Konjungtivitis.

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

  1. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan
  2. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu
  4. Pelatih melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan shok

Langkah 3. diskusi /tugas individu atau kelompok

  1. Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas/kasus
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed. ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

KONJUNGTIVITIS

I. Pengertian

Konjungtivitis adalah peradangan sekitar bola mata dan atau keduanya.

II. Penyebab

A. Bakterial.

1. Streptococcus, streptococcus aureus dan hemophillus dan bakteri lain.

2. Gonococcus : terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan.

Apabila infeksi terjadi sebelum kelahiran akan tampak pada 3 – 5 hari setelah lahir.

B. V i r u s

1. Adenovirus

2. Berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas.

3. Konjungtivitis yang epidemik berhubungan dengan epidemik gangguan rongga mulut, demam tinggi dan pembesaran kelenjar (adenitis preaurikuler dan submandibuler) terutama oleh Adeno virus.

4. Blenore pada bayi baru lahir atau kontaminasi setelah berenang.

5. Vaccinia, Virus herpes simpleks.

C . Infeksi Chlamedia

1. Infeksi Chlamedya tracomatosis

D. Reaksi alergi

E. Trauma (foreign body)

F. Iritasi kimiawi

G. Oleh karena Infeksi sistemik , misalnya oleh pada campak

III. Gambaran Klinis

A. Gejala

1. Iritasi ringan

2. Poto pobia ringan

3. Laerimasi excessif (banyak)

4. Pandangan normal

B. Tanda

1. Konjungtiva merah

2. Discharge :

a. Purulen pada infeksi bakteri

b. Mukopurulen pada infeksi virus dengan infeksi sekunder bakteri

c. Mukoid dan kental atau berair pada alergi

3. Kadang-kadang edemas atau pembengkakan pada konjungtiva

4. Kornea jernih.

5. Pupil normal baik ukuran maupun reflek terhadap cahaya.

6. Pembesaran kelenjar prearikuler pada infeksi virus

IV. Pemeriksaan Laboratorium

Kultur dari eksodat untuk GO atau chlamedia pada awal bulan pertama kehidupan.

V. Diagnosis Banding

1. Sumbatan saluran lakrimasi (ductus lacrimalis)

2. Radang iris akut

3. Glaucoma akut

4. Bleparitis (radang kelopak mata)

VI. Pengobatan

A Lakukan konsultasi pada kasus spesifik mosalnya bila ada dugaan ada

glokoma

B. Konjungtivitis alergika jika akut dan ringan, respon dengan menggunakan chlopheniramin maleat sebagaimana pada rhinitis alergika.

C. Konjungtivitis yang berhubungan dengan infeksi saluran nafas pada umumnya sembuh sendiri tanpa pengobatan.

D. Konjungtivitis purulen atau muko purulen :

1. Kompres dingin untuk mengurangi rasa tidak nyaman

2. Antimikroba tetes mata.

Pemberian dilanjutkan 1 – 2 hari setelah gejala membaik.

E. O b a t

a. Sodium sulfacetamide 10% solution.misalnya Albucid atau Dansemid)

Dosis : 1 – 2 tetes 4 x sehari

b. Polimixin B – bacitracin misalnya Cendomycin zalf mata, conjuncto tetes mata, polifricin tetes mata)

1-2 tetes 4 kali sehari

VII. Komplikasi

1. Keratitis dan scar akibat gonococcus dan herpes simpleks.

2. Pneumonia oleh karena chlamedia trachomatis pada bayi kurang 1 bulan

3. Local alergik oleh karena pemberian tetes mata mengandung neomycin

VIII. Konsultasi dan Rujukan

A. Bila ditemukan ureitis dan glaucoma

B. Kasus-kasus yang menyertai :

1. Gonococcus

2. Herpes simpleks atau herpes zoster

3. Iritasi kimia

4. Kemasukan benda asing

C. Bayi dibawah usia 1 bulan.

D. Tidak ada perbaikan dalam 48 jam.

IX. Tindak Lanjut

Kontrol ulang bila dalam 2 hari (48 jam) tidak ada perbaikan.






Rounded Rectangle: Tugas individu  1. Bagaimana anda memastikan bahwa konjungtivitis tersebut GO? 2. Kapan dilakukan rujukan ?   3. Nasehat apa yang akan anda berikan kepada keluarga pasien dengan Konjungtivitis Go?


Rounded Rectangle: Tugas kelompok 1. Bagaimana penularan Konjungtiviti Gonore ?  2. Apa perbedaan yang jelas antara Konjungtivitis Bakterial dibandingkan viral ? 3. Bagaimana pencegahan yang dapat dilakukan dari kemungkinan penularan kepada petugas ? 4. Bagaimana mekanisme terkenanya konjungtivitis GO pada bayi ?



Rounded Rectangle: Latihan  1. Jelaskan apa penyebab dari konjungtivitis ? 2. Sebutkan komplikasi konjungtitis viral ? 3. Jelaskan apa saja komplikasi dari konjungtivitis ? 4. Bagaimana diagnosa  darei konjungtivitis ? 5. Jelaskan gejala dari konjungtivitis ?


POKOK BAHASAN 3 : PENYAKIT MATA

SUB POKOK BAHASAN : PENATALAKSANAAN KATARAK

WAKTU SESI : 1 jam pelajaran @ 45 menit

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah mengikuti sesi ini peserta diharapkan mampu mengenali dan merujuk pasien dengan Katarak.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Setelah mengikuti sesi ini diharapkan :

1. Peserta dapat menjelaskan tentang pengertian, gambaran klinis dan pemeriksaan laboratorium Katarak

2. Peserta dapat melakukan pemeriksaan terhadap Katarak

3. Peserta dapat menentukan diagnosis dan diagnosis banding Katarak

4. Peserta dapat menjelaskan penanganan Katarak

PROSES PEMBELAJARAN

Langkah 1. Persiapan peserta

a. Pelatih mempersiapkan suasana pelatihan dan mental peserta dalam mengikuti pelatuhan

b. Pelatih menjelaskan tujuan pelatihan

Langkah 2. Penyampaian materi pelatihan

  1. Pelatih menjelaskan materi pelatihan
  2. Pelatih memberikan pertanyaan terkait dengan materi
  3. Pelatih menyampaikan beberapa masalah/keadaan /isu
  4. Pelatih melakukan simulasi pemeriksaan dan penanganan shok

Langkah 3. dis kusi /tugas individu atau kelompok

  1. Pelatih menyampaikan beberapa realita atau kasus/tuga terkait materi
  2. Pelatih menugaskan untuk diskusi dan membahas tugas/kasus
  3. Pelatih menyimpulkan, merangkum hasil diskusi dan pembahasan atau penugasan

METODE

Ceramah

Tanya jawab

Diskusi

Penugasan/kasus

VCD

ALAT BANTU LATIH

OHP

White board

LCD

CD

EVALUASI

Evaluasi dilakukan secara tertulis maupun praktek dengan instrumen terlampir

RUJUKAN

Hoole., A. J., Picard G. C., Quimetto M. R., Lohr J. A., Greenberg R. A. (1988). Patient Guidelines for Nurse Practioners. (4 th ed. ), Philadelphia : J. B. Lippincott Company.

Ikatan Sarjana Farmasi (2004). ISO Indonesia. Vol. 39. Jakarta.

KATARAK

I. Pengertian

Kekeruhan dari lensa atau mata yang pada 90% dari kasus berhubungan dengan umur. Sebagian besar didapatkan pada penderita diabetes. Jarang oleh karena hipoparathyroid, miotonik, distrophi, dermatitis atopik, trauma, obat kortikosteraid sistemik. Katarak biasanya bilateral, tetapi dalam perkembangan penyakitnya akan berbeda.

II. Penyebab

A. 90% dari kasus berhubungan dengan umur.

B. Sebagian besar didapatkan pada penderita diabetes.

C. Jarang oleh karena hipoparathyroid, miotonik, distrophi, dermatitis atopik, trauma atau obat kortikosteraid sistemik

III. Gambaran Klinis

A. Gejala :

Sebagian besar grjala yang dirasakan adalah adanya pengurangan pandangan yang bertambah yang menggambarkan meningkatnya kekeruhan mata . terjadi pengurangan jarak pandang atau pandangan mata lebih dekat, sampai terjadi gangguan refraksi yang berkaitan dengan semakin keruhnya lensa.

B. Tanda :

Bertambah padatnya lensa pada saat mata diperiksa dengan lampau senter atau dengan optal moskop.

IV. Laboratorium

Tidak perlu.

V. Diagnosa Banding

Hilangnya ketajaman pandangan oleh karena degenerasi makulo atau retinopati diabetikum.

VI. Penanganan/Pengobatan

Satu-satunya penanganan Katarak adalah operasi mengeluarkan lensa dan implantasi lensa intraoculer oleh dokter spesialis mata.

VII. Komplikasi

Tidak ada

VIII. Konsultasi dan Rujukan

Lakukan rujukan segera ke dokter ahli mata. Bila ditemukan katarak pada pemeriksaan rutin. Rujukan dilakukan untuk mendeteksi masalah-masalah karena aktivitas, kelainan /gangguan refraksi, dan berhubungan dengan kebutuhan serta harapan pasien setelah dioperasi.

IX. Tindak Lanjut

Tindak lanjut pasca operasi oleh dokter ahli mata antara 6 – 12 bulan setelah operasi.




Rounded Rectangle: Tugas individu  1. Bagaimana kasus katarak di tempat Puskemas anda ? 2. Bagaimana tindakan yang telah dilakukan di Puskesmas ? 3. Terapi apa yang diberikan di Puskesmas?


Rounded Rectangle: Tugas kelompok   1. Diskusikan dalam kelompok dan konsultasi dengan dokter pembimbing lokal mengapa pada penderita DM  banyak ditemukan kasus katarak ? 2. Demikian pula pada orang yang mengkonsumsi kortikosteroid jangka lama dan dosis besar didapatkan banyak kasus Katarak ?

Tidak ada komentar: